0

i don’t live under fundamentalist rule ?!

hari ini, mimpi ku menjeritkan narasi

jikalau bukan aku yang ditinggal mereka,

aku lah yang akan meninggalkan mereka lebih dulu…

hari ini, aku menangis, tapi tangis ku adalah tangis seorang pria untuk membuka hari-hari penuh tawa sampai senyum terakhir…

hari ini, aku percaya… semua bisa berubah…

entah berapa lama lagi, aku tak peduli…

setidaknya aku masih mencoba percaya…

hari ini aku teringat janji-janji teks kuno,

kutipan-kutipan pemimpin kepercayaan bijak,

serta monolog monolog di hari suci

di ujung cahaya, kata mereka, selalu ada ketenangan abadi

di ujung cahaya, ada mata yang tak tidur dan selalu memancarkan kasih

di ujung cahaya, kelembutan menyambut hati-hati yang tertunduk karena salah dan bersyukur karena benar

hari ini telah mulai berakhir…

berganti…

hari-hari esok,…

sungguh…

doaku pada Sang Mata Yang Tak Pernah Tidur

aku hanya ingin melihat senyum…

dan membawanya dalam keabadian,

dimana aku tak akan pernah menangis lagi…

demi waktu… sungguh…

aku benci melihat jam dan menghitung mundur…

akan ku hancurkan setiap jam bila itu bisa menghentikan waktu

namun…

waktu memang tak bisa berhenti…

setidaknya sampai Sang Mata Yang Tak Pernah Tidur berkehendak…

sungguh, tidak ada yang sia-sia…

tak pernah ada satupun yang sia-sia…

sampai urat terakhir berhenti bersitegang…

Iklan
Sampingan
4

Kutanya kepada mereka, ke manakah perginya diriku? Kata mereka, “Tidak tahu.”

Kucari-cari sendiri di antara mereka, di manakah diriku, barangkali mereka kurang teliti mencari. Akan tetapi, sama sekali memang tak tampak sosok diriku.

Kata mereka di sana, “Hey, kamu di sini!” Lalu, aku pun dengan bahagia bergegas ke sana, berlari dengan riang, kulihat samar ada diriku.

Sesampainya di sana, di kerumunan itu, kulihat ada punggungku. Aku pun girang. Langsung kurengkuhnya, namun ternyata itu bukan wajahku. Itu bukan aku. Aku tidak di situ. 

Kecewa.

Tapi aku belum lelah.

Gontai aku berjalan pulang melewati ladang, sejauh batas pandang kulihat padi-padi menguning, berayun-ayun seirama hembusan angin. Apakah mungkin aku adalah salah satu dari mereka?

Beberapa di antara mereka bergoyang kencang, aku berhenti sejenak.

Tak selang lama sang orang-orangan sawah bergerak-gerak kencang mengagetkan tiga burung kecil yang tergagap terbang meninggi, tadinya mereka sedang mencicip biji-biji padi. “Burung-burung itu pencuri,” kata petani, “Petani itu pengkhianat,” kata Sang Burung.

“Lalu aku?” Gumamku dalam hati.

Kulanjutkan langkahku menelusuri pematang yang semakin berliku, semakin menyempit, gowang kiri dan kanannya, becek, rapuh karena cuaca. 

Lalu tiba-tiba tanganmu menyahut tanganku. Membantuku untuk melangkah lebih tegap. 

Dan kulihati dirimu, kulihat di dalam bayangan matamu, kuperhatikan dalam-dalam, dan ternyata tak juga kutemukan diriku. Lalu di mana aku?

Gelisah. 

Tapi masih ada satu harapan. Rumah. Iya. Aku pasti sedang di sana.

Kita pun lanjut berjalan, pulang bersama, dengan bahagia, karena aku yakin aku pasti sedang berada di rumah kita. Aku pasti sedang memasak atau merenda.

Tapi, sesampainya di rumah. Aku tidak melihat diriku di mana-mana. Tidak di dapur, maupun di beranda. 

Aku pun lari, ke sana kemari, panik.

Oh.. aku ingat! Cermin! 

Iya, aku harus mencari cermin.

Kuhadap cermin, dan aku menjerit, karena kulihat aku pun tak ada di sana. 

Aku, tidak ada di diriku. 

0

Untuk Berubah

Aku mencoba, tapi kau tak mencoba

Aku tak mencoba, dan kau mencoba

Kita sama-sama tak mau mencoba

Kita sama-sama mencoba

Kita bersama-sama mencoba

Kita saling mencoba

Kita bertekad

Kuat

Erat

Terikat

Aku berjuang, kau pun memperjuangkan

Aku dan kamu, akan kembali

Untuk berserah

Untuk berubah.

0

Hujan, Dingin

Hujan di luar..

Dingin..

Malam..

Dingin begini..

Di tengah kota sana, seseorang lebih memilih untuk dirinya tenggelam dalam selimut mimpi.

“Hangat..,” ujarnya, “tak akan kubuat hujan di mimpi..,” lanjutnya, “bahkan kau tak perlu keluar,” tutupnya.

Besok tak dirinya pikirkan, sesalkah lewatkan hujan semalam? Atau barangkali tak mau kah ia bangun dari mimpi?

Tak begitu jauh darinya, seorang perempuan sedang menatapi jendela. Menunjuki butir-butir air yang menitiki kaca.

Rasanya di setiap butiran, termainkan kilasan cerita-cerita. Masa lalu lama, masa-masa kemarin, hingga kisah-kisah bahagia khayalan untuk masa tuanya.

Senyum tersungging, ada kisah perpisahan di salah satu butir air itu.

Perpisahan yang dingin. Sedingin malam itu, yang dilantuni oleh ricik hujan pembikin semakin pilu.

“Ibu.. Aku lapar..,” suara kecil itu ikut menyelip di sela-sela gemericik. 

“Sabar ya, Nak.. Mungkin besok..,” ujarnya dengan senyum yang masih sama.

Anak itu mengerti, lalu dia memilih dirinya untuk tenggelam dalam selimut mimpi.

Dingin..

Masih hujan.. Semakin deras..

Semakin dingin..

2

Gina

Gina namanya. Dulu, setiap sore kulihat dia bersepeda mini melintasi depan rumahku. 

Dandanannya menor. Lipstik oranye terang, eyeshadow warna warni, alis tipis setengah lingkaran, rambut keriting berbando, adalah dandanan khasnya. Bajunya tiap hari rapi dan hampir selalu memakai rok mini.

Jika disapa, “Mbak Gina..” selalu dia balas dengan lemah lembut manja dengan kata : “Daleem…” sambil tersenyum meringis, yang menurutku itu bukan lagi manis, tapi mengiris.

Sejak dulu aku selalu tertarik dengan profil si Gina ini karena dia berpenampilan dan bersikap terlalu berbeda, namun aku selalu merasa kurang puas dengan jawaban orang-orang yang sudah kutanyai.

Tidak jelas umurnya berapa, memang sudah keriput tetapi sulit untuk diterka karena dempulan bedak yang begitu tebalnya.

Hampir semua bilang rumahnya di gang sebelah, tetapi kurang tahu tepatnya rumah yang sebelah mana.

Ada yang bilang dia gila, ada yang bilang dia biasa saja cuma terlalu menor saja. Ada yang bilang dia bersepeda mini itu berkali-kali mengitari desa. Ada yang bilang dia pernah melihatnya ada di desa tetangga. 

Sehingga, untuk sementara itu, aku menyimpulkan sendiri bahwa Gina adalah sosok wanita kurang waras yang sering bersepeda mini berputar-putat karena tidak punya tujuan yang jelas.

Dan kini, aku yang dewasa, melihatnya lagi melintasi depan rumahku. Dia berhijab. Tetap bersepeda mini sambil berpakaian muslim rapi warna warni. Sempat kupanjatkan syukur. Tapi tak lama setelah itu sedikit hancur setelah mendengar pembicaraan para tetangga laki-laki di pinggir jalan dekat rumah.

“Aku dulu pernah bayar dia seribu buat main ramai-ramai sama anak-anak, di semak-semak di pinggir kali,” kata seseorang di pinggir jalan itu, disambut gelak tawa tiga orang lainnya. 

“Ya main-main doang, dulu waktu SD. Dibayar makanan juga mau dia, mungkin ga dibayar juga mau!” Tawa pun menggelak lagi.