Sampingan
4

Kutanya kepada mereka, ke manakah perginya diriku? Kata mereka, “Tidak tahu.”

Kucari-cari sendiri di antara mereka, di manakah diriku, barangkali mereka kurang teliti mencari. Akan tetapi, sama sekali memang tak tampak sosok diriku.

Kata mereka di sana, “Hey, kamu di sini!” Lalu, aku pun dengan bahagia bergegas ke sana, berlari dengan riang, kulihat samar ada diriku.

Sesampainya di sana, di kerumunan itu, kulihat ada punggungku. Aku pun girang. Langsung kurengkuhnya, namun ternyata itu bukan wajahku. Itu bukan aku. Aku tidak di situ. 

Kecewa.

Tapi aku belum lelah.

Gontai aku berjalan pulang melewati ladang, sejauh batas pandang kulihat padi-padi menguning, berayun-ayun seirama hembusan angin. Apakah mungkin aku adalah salah satu dari mereka?

Beberapa di antara mereka bergoyang kencang, aku berhenti sejenak.

Tak selang lama sang orang-orangan sawah bergerak-gerak kencang mengagetkan tiga burung kecil yang tergagap terbang meninggi, tadinya mereka sedang mencicip biji-biji padi. “Burung-burung itu pencuri,” kata petani, “Petani itu pengkhianat,” kata Sang Burung.

“Lalu aku?” Gumamku dalam hati.

Kulanjutkan langkahku menelusuri pematang yang semakin berliku, semakin menyempit, gowang kiri dan kanannya, becek, rapuh karena cuaca. 

Lalu tiba-tiba tanganmu menyahut tanganku. Membantuku untuk melangkah lebih tegap. 

Dan kulihati dirimu, kulihat di dalam bayangan matamu, kuperhatikan dalam-dalam, dan ternyata tak juga kutemukan diriku. Lalu di mana aku?

Gelisah. 

Tapi masih ada satu harapan. Rumah. Iya. Aku pasti sedang di sana.

Kita pun lanjut berjalan, pulang bersama, dengan bahagia, karena aku yakin aku pasti sedang berada di rumah kita. Aku pasti sedang memasak atau merenda.

Tapi, sesampainya di rumah. Aku tidak melihat diriku di mana-mana. Tidak di dapur, maupun di beranda. 

Aku pun lari, ke sana kemari, panik.

Oh.. aku ingat! Cermin! 

Iya, aku harus mencari cermin.

Kuhadap cermin, dan aku menjerit, karena kulihat aku pun tak ada di sana. 

Aku, tidak ada di diriku. 

Iklan
0

Untuk Berubah

Aku mencoba, tapi kau tak mencoba

Aku tak mencoba, dan kau mencoba

Kita sama-sama tak mau mencoba

Kita sama-sama mencoba

Kita bersama-sama mencoba

Kita saling mencoba

Kita bertekad

Kuat

Erat

Terikat

Aku berjuang, kau pun memperjuangkan

Aku dan kamu, akan kembali

Untuk berserah

Untuk berubah.

0

Hujan, Dingin

Hujan di luar..

Dingin..

Malam..

Dingin begini..

Di tengah kota sana, seseorang lebih memilih untuk dirinya tenggelam dalam selimut mimpi.

“Hangat..,” ujarnya, “tak akan kubuat hujan di mimpi..,” lanjutnya, “bahkan kau tak perlu keluar,” tutupnya.

Besok tak dirinya pikirkan, sesalkah lewatkan hujan semalam? Atau barangkali tak mau kah ia bangun dari mimpi?

Tak begitu jauh darinya, seorang perempuan sedang menatapi jendela. Menunjuki butir-butir air yang menitiki kaca.

Rasanya di setiap butiran, termainkan kilasan cerita-cerita. Masa lalu lama, masa-masa kemarin, hingga kisah-kisah bahagia khayalan untuk masa tuanya.

Senyum tersungging, ada kisah perpisahan di salah satu butir air itu.

Perpisahan yang dingin. Sedingin malam itu, yang dilantuni oleh ricik hujan pembikin semakin pilu.

“Ibu.. Aku lapar..,” suara kecil itu ikut menyelip di sela-sela gemericik. 

“Sabar ya, Nak.. Mungkin besok..,” ujarnya dengan senyum yang masih sama.

Anak itu mengerti, lalu dia memilih dirinya untuk tenggelam dalam selimut mimpi.

Dingin..

Masih hujan.. Semakin deras..

Semakin dingin..

2

Gina

Gina namanya. Dulu, setiap sore kulihat dia bersepeda mini melintasi depan rumahku. 

Dandanannya menor. Lipstik oranye terang, eyeshadow warna warni, alis tipis setengah lingkaran, rambut keriting berbando, adalah dandanan khasnya. Bajunya tiap hari rapi dan hampir selalu memakai rok mini.

Jika disapa, “Mbak Gina..” selalu dia balas dengan lemah lembut manja dengan kata : “Daleem…” sambil tersenyum meringis, yang menurutku itu bukan lagi manis, tapi mengiris.

Sejak dulu aku selalu tertarik dengan profil si Gina ini karena dia berpenampilan dan bersikap terlalu berbeda, namun aku selalu merasa kurang puas dengan jawaban orang-orang yang sudah kutanyai.

Tidak jelas umurnya berapa, memang sudah keriput tetapi sulit untuk diterka karena dempulan bedak yang begitu tebalnya.

Hampir semua bilang rumahnya di gang sebelah, tetapi kurang tahu tepatnya rumah yang sebelah mana.

Ada yang bilang dia gila, ada yang bilang dia biasa saja cuma terlalu menor saja. Ada yang bilang dia bersepeda mini itu berkali-kali mengitari desa. Ada yang bilang dia pernah melihatnya ada di desa tetangga. 

Sehingga, untuk sementara itu, aku menyimpulkan sendiri bahwa Gina adalah sosok wanita kurang waras yang sering bersepeda mini berputar-putat karena tidak punya tujuan yang jelas.

Dan kini, aku yang dewasa, melihatnya lagi melintasi depan rumahku. Dia berhijab. Tetap bersepeda mini sambil berpakaian muslim rapi warna warni. Sempat kupanjatkan syukur. Tapi tak lama setelah itu sedikit hancur setelah mendengar pembicaraan para tetangga laki-laki di pinggir jalan dekat rumah.

“Aku dulu pernah bayar dia seribu buat main ramai-ramai sama anak-anak, di semak-semak di pinggir kali,” kata seseorang di pinggir jalan itu, disambut gelak tawa tiga orang lainnya. 

“Ya main-main doang, dulu waktu SD. Dibayar makanan juga mau dia, mungkin ga dibayar juga mau!” Tawa pun menggelak lagi.

Sampingan
0

Dia teringat dahulu seorang saleh pernah berkata padanya, “Neraka Zabbaniah lebih cepat dimasuki oleh pembaca Al Quran –yang melakukan maksiat kepada Allah SWT– dibandingkan penyembah berhala, saat mereka melakukan maksiat kepada Allah SWT setelah membaca Al Quran!”

Seketika ingatan itu datang, badannya mendadak terhuyung hingga ia tersungkur di lantai. Kakinya melemas. Badannya gemetar, kedinginan. Diambilnya mushaf yang sedang tertelungkup di atas meja kamarnya dengan susah payah, lalu didekapnya erat-erat. Beringsut-ingsut ia ke pojok kamarnya yang remang-remang itu, lalu mendepisnya di situ.

“Astagh..firullaah… As..taghfirul..laaah..,” dengan susah payah ia mengucapkan istighfar, seakan sedang menderita ashma, padahal seingatnya, tidak pernah ia mengidap penyakit itu.

“Astagh..firullaah… Astaghfirullaaah..,” terus tanpa henti mulutnya berkomat-kamit. Sesekali dia menghadap ke langit-langit. Sesekali diciuminya mushaf yang ada di dekapannya itu. Lalu menunduk. Lalu terisak. Sesekali dibuka-bukanya lagi, dibaca-bacanya lagi, padahal ia sadar ini bukan waktu yang tepat mengaji.

Dia sedang takut. Sangat ketakutan. Dia sedang menunggu tapi sebenarnya dia tak mau yang ditunggu itu datang. Dia menyesal sebenar-benarnya menyesal. Dia ingin kembali, tidak peduli apa cerca orang nanti. Tidak peduli jika tidak ada orang yang mau peduli. Tidak peduli lagi jika harus terus berjalan sendiri.

Namun sudah terlanjur, kata-kata sudah meluncur. Dia sudah dengan lantang bilang kepada Tuhan bahwa dia ingin mati, dan sangat mungkin sebentar lagi terjadi.

Baru kali ini dia mengharapkan Tuhan tidak mengabulkan keinginannya.