8

Kelembutan Hati

Gambar

“Elu itu terlalu baik!” begitu kadang-kadang kita mendengar orang berkomentar. Ada ya istilah ‘terlalu baik’? Mungkin itu karena kita terlalu sering melihat orang yang memanfaatkan kebaikan orang-orang baik. Akhirnya, kita menakar kebaikan yang ingin kita lakukan, supaya tidak terlalu baik. Padahal, setiap kebaikan yang kita lakukan itu merupakan ciri dari ‘kelembutan hati’. Karena hati menyimpan kualitas sejati setiap insan, maka ‘kelembutan hati’ menunjukkan nilai-nilai dan bisikan yang murni dari nurani. Dan karena sumbernya berada jauh sekali didalam dada, maka perilaku yang mencerminkan kelembutan hati kadang-kadang tidak terjangkau oleh logika maupun perhitungan matematika. Juga tidak selalu sejalan dengan argumentasi yang bisa dimainkan oleh lidah yang tak bertulang.

Mr. A – sahabat yang saya kenal dengan sangat dekat – sedang berkendara di jalan tol dari arah Bandung menuju Jakarta. Tepat di kilometer 66 mobil di depannya mengerem mendadak menghindari tabrakan dengan sebuah truk yang berhenti secara tiba-tiba. Mr. A terkejut namun masih bisa menginjak rem sehingga tidak sampai menambrak mobil yang berhenti mendadak itu. Untuk beberapa detik, Mr. A bernafas lega sambil bersyukur karena terhindar dari tabrakan beruntun. Namun hanya sepersekian detik kemudian, mobilnya tertabrak dari belakang oleh pengemudi lain yang tidak berhasil mengantisipasi situasi itu. Braaaak! Mobilnya yang sudah berhenti seolah kembali terdorong beberapa meter ke depan.

Mr. A memarkir mobilnya di bahu jalan dengan kerusakan yang cukup berat dibagian belakangnya. Mobil yang menabraknya pun berhenti dalam jarak beberapa meter. Mr. A turun lalu berjalan kearah mobil yang menabraknya. Sopir mobil yang menabraknya juga turun, lalu berjalan menuju kearah mobil Mr. A. Akhirnya, mereka bertemu ditengah-tengah.

“Selamat malam,” sapa Mr. A lalu mengulurkan tangannya untuk bersalaman.

“Wah, gimana nih mobil saya jadi rusak begini Pak?!” balas orang yang disapanya. Lalu beberapa kalimat lainnya muncul dari mulutnya.

Setelah orang itu berhenti bicara Mr. A bertanya; “Apakah Bapak pemilik mobil ini?”

“Bukan,” jawab orang itu. “Saya sopirnya.” Lanjutnya.

“Kalau begitu saya ingin bicara dengan pemilik mobil ini,” demikian Mr. A berkata.

“Iya tapi gimana nih dengan mobilnya. Rusak parah begini.” Orang itu kembali komplain soal mobilnya.

“Pak, Anda yang menabrak mobil saya dari belakang,” jawab Mr. A. “Saya tidak ingin menyusahkan Anda, saya hanya ingin bicara dengan boss Anda.”

Orang itu pun kembali ke mobil yang dikendarainya. Sesaat kemudian dari dalam mobil keluar seorang lelaki. Lalu berjalan bersama sopirnya tadi.

“Selamat malam,” Mr. A menyapa lalu mengulurkan tangan.

Lelaki itupun mengulurkan tangannya sambil berkata;”Wah, Bapak ini bagaimana kok berhenti mendadak sih!” katanya.

“Bapak,” kata Mr. A. “Saya tidak ingin memperdebatkan kejadian ini, meskipun faktanya mobil Anda yang menabrak mobil saya dari belakang.” Lanjutnya. “Saya hanya ingin membicarakan hal ini dengan cara yang baik dan kepala dingin.” Dia pun menambahkan.

Efeknya ternyata sangat positif. Sang boss pun menurun nada suaranya. Bahkan mereka sempat bertukar kartu nama. Ketika pembicaraan berlanjut, seorang perempuan menghampiri mereka. Rupanya istri sang boss. Lalu dengan suara khasnya beliau komplain soal Mr A yang berhenti mendadak dan mobilnya yang jadi rusak. Mr. A diam, tidak mengatakan apapun selain menatap suami ibu itu. Beliau baru berhenti bicara setelah suaminya memintanya untuk diam.

Di tempat itu, Mr. A menyatakan tidak akan melakukan tuntutan apapun atas kejadian itu. Demikian pula halnya dengan sang boss atas kerusakan yang menimpa mobil kantornya. Masalah pun selesai. Setidaknya untuk sementara. Karena kemudian diketahui bahwa mobil yang menabrak itu mengalami pecah karburator, sehingga tidak mungkin bisa berjalan jauh.

“Anda kearah mana?” tanya Mr. A.

Beliau mengatakan jika akan menuju ke kantornya untuk menukarnya dengan mobil pribadi yang ditinggalkan dikantornya di pusat kota Jakarta.

“Saya kearah Cibubur,” kata Mr. A. “Jika Bapak dan Ibu berkenan, silakan ikut mobil saya sampai nanti bisa ketemu taksi di Cawang.”

Suami istri itu tidak menjawab.

“Tidak usah khawatir, saya pun bersama istri saya di dalam mobil. Mari.” Ajak Mr.A.

“Mobil kita gimana Pah?” sang Nyonya bertanya kepada suaminya.

“Diderek saja.” Katanya. “Sebentar lagi datang.” Tambahnya lagi.

Tak lama kemudian, petugas derek datang. Lalu, sesuai kesepakatan sang boss pemilik mobil beserta nyonya dan kedua anaknya ikut bersama mobil Mr.A. Sedangkan sang sopir berada didalam mobil yang diderek.

Menjelang pintu keluar toll cawang, Mr. A memberitahukan jika dia akan keluar toll untuk meneruskan perjalanan ke Cibubur. Sedangkan tamu istimewanya dapat meneruskan dengan taksi.

“Masak kita naik taksi sih Pak,” demikian respon yang didapatkannya dari sang tamu.

“Baiklah jika demikian, kami antarkan Bapak hingga ke kantor Bapak,” jawab Mr. A. Lalu mereka pun melanjutkan perjalanan.

Mereka pun tiba di area perkantoran megah di pusat kota Jakarta. Tamu-tamu istimewanya turun. Namun, ketika Mr. A hendak berpamitan karena hari sudah larut malam, sang boss memintanya untuk menunggu sebentar.  Tak lama kemudian beliau kembali lagi dan mengatakan:

“Pak biaya dereknya satu juta rupiah,” katanya. “Kita bagi dua saja…” begitu beliau melanjutkan.

Mr. A menatap orang itu. Kali ini agak serius seolah ingin melihat apakah orang ini sedang bercanda atau tidak. Namun, kelihatannya dia tidak sedang melontarkan guyonan.

“Lho, bukankah kita tidak pernah membicarakan soal itu Pak?” kata Mr. A setelah dia yakin orang itu benar-benar sedang mengalami anomali logika dan perasaan. “Itu mobil Anda, mengapa saya harus ikut membayar ongkos dereknya?” katanya.

“Tapi kan mobil itu menabrak gara-gara Bapak berhenti mendadak,” kata orang itu. Mungkin dia lupa jika ditempat kejadian mereka sudah membuat kesepakatan. Mungkin orang itu juga lupa jika kesepakatan itu sangat meringankan pihaknya. Meskipun sopirnya yang menabrak dari belakang, dia tidak harus memberi ganti rugi apapun. Mungkin, orang itu juga lupa jika orang yang mobilnya ditabraknya dari belakang itulah yang telah mengantarnya ke tempat tujuan.

“Saya kira kita sudah membuat kesapakatan secara terhormat,” tukas Mr. A. “Atau mungkin Anda ingin saya mempermasalahkan urusan mobil Anda menabrak mobil saya dari belakang.” Kali ini Mr. A mengatakannya dengan tatapan lurus kearah orang itu.

“Bukan begitu, Pak.” Jawab orang itu. “Saya minta kebijaksanaan Bapaklah,” tambahnya.

“Kurang bijaksanakah saya?” tukas Mr. A. “Saya kira Anda bukan orang seperti itu.”

Hening sesaat.

“Begini Pak,” kata orang itu lagi. “Uang saya tidak cukup untuk membayar ongkos derek. Jadi saya minta kebijaksanaan Bapaklah untuk membagi dua ongkosnya.”

“Jika Anda meminta saya untuk membayar setengah ongkos derek mobil Anda yang menabrak mobil saya, maka saya tidak akan lakukan itu.” Kata Mr. A. Tegas. Namun tetap tenang. “Tapi jika Anda tidak mempunyai cukup uang untuk membayar penuh, maka saya bisa meminjami Anda untuk melunasinya.”

Orang itu setuju.

Mr A. meminta untuk melihat lembar tagihan dari petugas derek. Disana tertera nilai tagihan 1 juta rupiah. Setelah memeriksa lembar tagihan itu, Mr. A mengeluarkan uang 500 ribu rupiah. Lalu katanya; “Saya meminjamkan uang ini kepada Anda untuk menutupi kekurangan ongkos derek ya Pak….”

Mereka pun sepakat.

Lalu Mr. A kembali ke mobilnya.

“Kenapa, Yah?” kata istrinya.

“Tidak kenapa-kenapa,” jawabnya. “Alhamdulillah, kita selamat.” Tambahnya.

Istrinya terdiam. Lalu katanya; “Ayah membayar orang itu?”

“Tidak,” jawabnya. “Hanya meminjaminya saja, karena katanya uangnya kurang untuk membayar ongkos derek mobilnya.”

“Ayah yakin orang itu akan mengembalikannya?”

Hening untuk sesaat.

Kemudian Mr. A kembali berkata;”Bayangkan seandainya kita tidak berhasil mengerem mobil. Terus menabrak mobil didepan kita yang menghindari truk itu. Terus kita tertabrak lagi oleh mobil orang itu.”

Hening lagi.

“Bukankah Tuhan sudah memberi kita keselamatan yang nilainya melebihi biaya yang harus kita keluarkan atau apapun yang harus orang itu kembalikan?” tambahnya.

Keduanya saling bertatapan. Berpegangan tangan. Saling melumeri wajah masing-masing dengan senyuman. Lalu meneruskan perjalanan penuh cinta dan rasa syukur yang tengah diarunginya. Cukup melelahkan. Tapi bahagia rasanya.

Setiap orang yang hatinya dipenuhi oleh kekuatan untuk memaafkan, pasti merasa ringan untuk mengijinkan orang lain yang pernah menyakitinya untuk terlepas dari kewajiban apapun sebagai penebusan. Jiwanya akan dipenuhi oleh rasa kasih sayang yang tidak kenal batasan-batasan. Sekujur tubuhnya akan dilingkupi oleh keihlasan untuk menerima setiap takdir Tuhan. Sehingga keseluruhan hidupnya sejalan dengan firman Tuhan dalam surah 11 ayat 115: “Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.” Kelembutan hati, mencerminkan kualitas seorang pribadi yang bersumber dari kekuatan memaafkan, kasih sayang, dan keikhlasan.

Masih suka mempertanyakan mengapa seseorang terlalu baik hati? Tidak usah lagi. Karena orang itu percaya bahwa setiap kebaikan sepenuh hati yang dilakukannya sama sekali tidak ada hubungannya dengan sikap maupun respon, apalagi terimakasih dari orang lain. Setiap kebaikan hati itu hanya bisa dibaca hakekatnya oleh Ilahi. Sehingga hanya Dia yang paling tahu balasan yang paling pantas untuk setiap kebaikan yang kita lakukan.  Semoga, kita termasuk orang yang Tuhan anugrahi dengan kelembutan hati.

(cerita dari Pak Dadang Kadarusman)

0

The Weight of Hatred

A kindergarten teacher has decided to let her class play a game. The kindergarten teacher told each child in the class to bring along a plastic bag containing a few potatoes. Each potato will be given a name of a person that the child hates, so the number of potatoes that a child will put in his/her plastic bag will depend on the number of people he/she hates. So when the day came, every child brought some potatoes with the name of the people he/she hated. Some had 2 potatoes; some 3 while some up to 5 potatoes.

The kindergarten teacher then told the children to carry with them the potatoes in the plastic bag wherever they go (even to the toilet) for one week. Days after days passed by, and the children started to complain due to the unpleasant smell let out by the rotten potatoes. Besides, those having 5 potatoes also had to carry heavier bags. After 1 week, the children were relieved because the game had finally ended.

The kindergarten teacher asked: “How did you feel while carrying the potatoes with you for 1 week?” The children let out their frustrations and started complaining of the trouble that they had to go through having to carry the heavy and smelly potatoes wherever they go. Then the kindergarten teacher told them the hidden meaning behind the game.

The kindergarten teacher said: “This is exactly the situation when you carry your hatred for somebody inside your heart. The stench of hatred will contaminate your heart and you will carry it with you wherever you go. If you cannot tolerate the smell of rotten potatoes for just one week, can you imagine what is it like to have the stench of hatred in your heart for your lifetime?”

_beautifulqalb

2

Permennya Lupa Dimakan

Alkisah ada dua orang anak laki-laki, Bob dan Bib, yang sedang melewati lembah permen lolipop. Di tengah lembah itu terdapat jalan setapak yang beraspal. Di jalan itulah Bob dan Bib berjalan kaki bersama.

Uniknya, di kiri-kanan jalan lembah itu terdapat banyak permen lolipopyang berwarni-warni dengan aneka rasa. Permen-permen yang terlihatseperti berbaris itu seakan menunggu tangan-tangan kecil Bob dan Bib untuk mengambil dan menikmati kelezatan mereka.

Bob sangat kegirangan melihat banyaknya permen lolipop yang bisa diambil. Maka ia pun sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut. Ia mempercepat jalannya supaya bisa mengambil permen lolipop lainnya yang terlihat sangat banyak didepannya. Bob mengumpulkan sangat banyak permen lolipop yang ia simpan di dalam tas karungnya. Ia sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut tapi sepertinya permen-permen tersebut tidak pernah habis maka ia memacu langkahnya supaya bisa mengambil semua permen yang dilihatnya.

Tanpa terasa Bob sampai di ujung jalan lembah permen lolipop. Dia melihat gerbang bertuliskan “Selamat Jalan”. Itulah batas akhir lembah permen lolipop. Di ujung jalan, Bob bertemu seorang lelaki penduduk sekitar. Lelaki itu bertanya kepada Bob, “Bagaimana perjalanan kamu di lembah permen lolipop? Apakah permen-permennya lezat? Apakah kamu mencoba yang rasa jeruk? Itu rasa yang paling disenangi. Atau kamu lebih menyukai rasa mangga? Itu juga sangat lezat.” Bob terdiam mendengar pertanyaan lelaki tadi. Ia merasa sangat lelah dan kehilangan tenaga. Ia telah berjalan sangat cepat dan membawa begitu banyak permen lolipop yang terasa berat di dalam tas karungnya. Tapi ada satu hal yang membuatnya merasa terkejut dan ia pun menjawab pertanyaan lelaki itu, “Permennya saya lupa makan!”

Tak berapa lama kemudian, Bib sampai di ujung jalan lembah permen lolipop. “Hai, Bob! Kamu berjalan cepat sekali. Saya memanggil-manggil kamu tapi kamu sudah sangat jauh di depan saya.” “Kenapa kamu memanggil saya?” tanya Bob. “Saya ingin mengajak kamu duduk dan makan permen anggur bersama. Rasanya lezat sekali. Juga saya menikmati pemandangan lembah, indah sekali!” Bib bercerita panjang lebar kepada Bob. “Lalu tadi ada seorang kakek tua yang sangat kelelahan. Saya temani dia berjalan. Saya beri dia beberapa permen yang ada di tas saya. Kami makan bersama dan dia banyak menceritakan hal-hal yang lucu. Kami tertawa bersama.” Bib menambahkan.

Mendengar cerita Bib, Bob menyadari betapa banyak hal yang telah ia lewatkan dari lembah permen lolipop yang sangat indah. Ia terlalu sibuk mengumpulkan permen-permen itu. Tapi pun ia sampai lupa memakannya dan tidak punya waktu untuk menikmati kelezatannya karena ia begitu sibuk memasukkan semua permen itu ke dalam tas karungnya.

Di akhir perjalanannya di lembah permen lolipop, Bob menyadari suatu hal dan ia bergumam kepada dirinya sendiri, “Perjalanan ini bukan tentang berapa banyak permen yang telah saya kumpulkan. Tapi tentang bagaimana saya menikmatinya dengan berbagi dan berbahagia.” Ia pun berkata dalam hati, “Waktu tidak bisa diputar kembali.” Perjalanan di lembah lolipop sudah berlalu dan Bob pun harus melanjutkan kembali perjalanannya.

Dalam kehidupan kita, banyak hal yang ternyata kita lewati begitu saja. Kita lupa untuk berhenti sejenak dan menikmati kebahagiaan hidup. Kita menjadi Bob di lembah permen lolipop yang sibuk mengumpulkan permen tapi lupa untuk menikmatinya dan menjadi bahagia.

Pernahkan Anda bertanya kapan waktunya untuk merasakan bahagia? Jika saya tanyakan pertanyaan tersebut kepada para klien saya, biasanya mereka menjawab, “Saya akan bahagia nanti… nanti pada waktu saya sudah menikah… nanti pada waktu saya memiliki rumah sendiri… nanti pada saat suami saya lebih mencintai saya… nanti pada saat saya telah meraih semua impian saya… nanti pada saat penghasilan sudah sangat besar… “

Pemikiran ‘nanti’ itu membuat kita bekerja sangat keras di saat ‘sekarang’. Semuanya itu supaya kita bisa mencapai apa yang kita konsepkan tentang masa ‘nanti’ bahagia. Terkadang jika saya renungkan hal tersebut, ternyata kita telah mengorbankan begitu banyak hal dalam hidup ini untuk masa ‘nanti’ bahagia. Ritme kehidupan kita menjadi sangat cepat tapi rasanya tidak pernah sampai di masa ‘nanti’ bahagia itu. Ritme hidup yang sangat cepat… target-target tinggi yang harus kita capai, yang anehnya kita sendirilah yang membuat semua target itu… tetap semuanya itu tidak pernah terasa memuaskan dan membahagiakan.

Uniknya, pada saat kita memelankan ritme kehidupan kita; pada saat kita duduk menikmati keindahan pohon bonsai di beranda depan, pada saat kita mendengarkan cerita lucu anak-anak kita, pada saat makan malam bersama keluarga, pada saat kita duduk bermeditasi atau pada saat membagikan beras dalam acara bakti sosial tanggap banjir; terasa hidup menjadi lebih indah.

Jika saja kita mau memelankan ritme hidup kita dengan penuh kesadaran memelankan ritme makan kita, memelankan ritme jalan kita dan menyadari setiap gerak tubuh kita, berhenti sejenak dan memperhatikan tawa indah anak-anak bahkan menyadari setiap hembusan nafas maka kita akan menyadari begitu banyak detil kehidupan yang begitu indah dan bisa disyukuri. Kita akan merasakan ritme yang berbeda dari kehidupan yang ternyata jauh lebih damai dan tenang. Dan pada akhirnya akan membawa kita menjadi lebih bahagia dan bersyukur seperti Bib yang melewati perjalanannya di lembah permen lolipop.

Penulis : Nathalia Sunaidi

5

Maukah Kamu Menikah Denganmu?

Mungkin ada yang menganggap, pertanyaan ini salah tulis. Saya pun demikian ketika membaca pertanyaan di atas. Namun setelah direnungkan ternyata pertanyaan itu memang begitu adanya, dan bukan salah tulis. Saya pun jadi mencoba merenung dan kemudian membuat pertanyaan-pertanyaan turunannya. “Maukah saya berteman dengan orang seperti saya?“Percayakah saya  kepada orang dengan karakter dan kebiasaan seperti saya?“Maukah saya tidur bersama orang yang tidurnya seperti saya?” “Maukah saya berbisnis dengan diri saya sendiri?

Sayapun cukup geli memikirkan jawaban-jawaban dari pertanyaan itu. Masalahnya adalah saya tahu persis kelakuan saya, terutama yang menyebalkan. Saya tahu betapa tidak menyenangkannya diri saya di bagian-bagian tertentu. Selama ini kita selalu mencari orang lain yang cocok dengan diri kita, tanpa kita mau membuat diri kita cocok untuk orang lain, khususnya orang yang kita sayangi dan cintai.

Ya, saya memang tidak sempurna, karena tidak ada seorangpun yang sempurna di dunia ini. Tapi apakah ketidak sempurnaan saya biarkan begitu saja tanpa ada perbaikan yang berarti? Lantas, kalau saya sendiri tidak terlalu suka dengan diri saya? Siapa yang harus bertanggung jawab? Orang tua saya? Sahabat saya? Saudara saya? Pendamping hidup saya? Apakah saya bisa menyalahkan orang yang mendidik saya atas ketidak-sempurnaan saya? Bisakah saya menyalahkan lingkungan negatif yang mewarnai perjalanan hidup saya?

Alhamdulillah! Beruntung saya punya kitab suci yang selalu memberikan jawaban atas kebingungan saya. Saya temukan firman Allah dalam Al-Quran Surat Al-Muddatstsir: 38 ,

“Setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya.” (Q.S. Al-Muddatsir: 38)

Dan dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda:

“Masing-masing kamu adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas tanggungannya. Pemimpin yang berkuasa atas rakyatnya adalah pelindung dan bertanggung jawab atas mereka; seorang pria adalah pelindung keluarganya dan bertanggung jawab atas mereka; Seorang wanita adalah pelindung rumah dan anak-anak suaminya dan bertanggung jawab atas mereka; seorang pelayan adalah pelindung harta benda tuannya dan bertanggung jawab atas benda-benda itu; maka kalian semua adalah pelindung dan bertanggung jawab atas tanggungan kalian.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Yupz! Kita semua bertanggung jawab atas diri kita dan tanggungan kita masing-masing. Kita semua berhak atas hidup kita  sendiri dan  berhak mengatur hidup kita masing-masing. Siapapun punya kewenangan total atas dirinya. Saya pun jadi berpikir tentang masa lalu saya: “Kalau saya lebih mendengarkan ucapan negatif dari teman saya, dan pada akhirnya saya gagal dan dia tidak peduli, itupun sesungguhnya salah saya sendiri?”. Ya, karena sesungguhnya pada waktu itu saya bisa menolak untuk mendengarkan ucapannya, tapi tidak saya lakukan.

Lantas, kalau saya tidak menyukai diri saya karena sadar begitu banyak kelemahan dalam diri saya? Apa yang harus saya lakukan? Lagi-lagi kitab suciku punya jawabannya:

“Dan Allah tidak akan mengubah nikmatnya kepada suatu kaum hingga kaum itu melakukan perubahan terhadap dirinya sendiri.” (Q.S. Al-Anfal: 53)

Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa diantara kalian melihat kemunkaran, ubahlah dengan tangannya, dan jika tidak sanggup ubahlah dengan perkataannya, dan jika tidak sanggup juga, ubahlah dengan hatinya. Dan Itulah selemah-lemahnya iman.” (H.R. Muslim)

Ya, itu dia! BERUBAH. Karena sekali lagi, kitalah yang punya kuasa atas diri kita sendiri. Dan Baginda Rasul pun langsung memberikan strategi untuk berubah. Yang pertama dan utama adalah “Ubahlah dengan perbuatan!, ubahlah sikap dan perilaku kita sendiri!”.  Banyak orang yang mengartikan hadits di atas untuk mengubah dan memperbaiki orang lain atau lingkungan. Tapi tentu saja hadits ini bisa dipakai untuk melakukan perubahan terhadap diri sendiri. Karena bagaimana mungkin seseorang bisa mengubah lingkungannya kalau dia sendiri tidak mau berubah ke arah yang lebih baik.

Oke, saya akan berubah! Dan Anda semua pun harus segera berubah sejak sekarang, tapi adakah resep lain, selain mengubah diri sendiri?  Firman Allah SWT dalam Surat Annur ayat 31, memberikan arahan berikutnya “Bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.

Tobat? Kenapa Tobat?  Tobat itu bahasa kerennya evaluasi. Ketika kita merasa banyak kelemahan, bukankah itu kesalahan kita sendiri? Bukankah itu akibat dari perbuatan kita masing-masing? Dan bukankah kalau kita mengubah diri, belum tentu langkah-langkah kita tepat sesuai yang diinginkan Allah? Apa untungnya tobat? Dan bahkan Allah menjanjikan kalau kita mau bertobat, akibatnya adalah Beruntung!

Ya! Itu dia rumusnya, sederhana sekali. BERUBAH-BERTOBAT-BERUNTUNG. Siapa yang hidupnya dipenuhi keberuntungan? Siapa yang bisnisnya mau selalu beruntung? Pakailah rumus di atas! Yakinlah akan janji Allah.

Terakhir, mari renungkan beberapa adegan yang saya lihat dalam sebuah e-book:

Adegan 1: Saya sedang menyusuri sebuah jalan dan ada lubang yang dalam di trotoar. Saya terperosok, lama sekali saya baru  bisa keluar. Kejadian itu bukan salahku.

Adegan 2: Saya menyusuri jalan yang sama, dan saya terperosok lagi. Saya pun butuh waktu yang cukup lama untuk bisa keluar. Kejadian itu memang salahku.”

Adegan 3: Saya sedang menyusuri jalan yang sama, dan saya terperosok lagi ke dalam lubang. Rupanya sudah jadi kebiasaan. Itu sudah jelas salahku. Saya cepat-cepat keluar dari lubang

Adegan 4: Saya menyusuri jalan yang sama, dan ada lubang di trotoar. Saya berjalan mengitari lubang

Adegan 5: Saya mengambil jalan yang lain.

(Tulisan ini resume dari Kajian Tafsir ayat-ayat Inspiratif, Komunitas Tadarusan Matakamu Al-Haq, Jumat 5 Agustus 2011)