0

Pohon Keluarga Dinasti Simalamoa Terbaru

Sudah bukan hal yang asing lagi bagi kawan-kawan saya untuk mengetahui bahwa saya adalah pecinta hewan jenis kucing dan unggas. Bahkan untuk kawan-kawan yang cukup dekat, mungkin kuping mereka sudah bisa dipakai buat nyetrika  akibat saking panasnya mendengarkan curhatan-curhatan saya tentang hewan-hewan yang sedang atau pernah saya pelihara. Ya mungkin itulah yang menyebabkan saya tidak mempunyai banyak kawan, hanya beberapa orang yang tabah saja yang rela menjadi teman saya. Terima kasih kawan-kawanku, alhamdulillaah, Allah telah memperkenalkanku pada kalian. *lalu menangis haru dengan menitikkan air mata*

Beberapa waktu yang lalu, salah satu dari beberapa orang tabah ini tiba-tiba berkata kepada saya setelah saya curhat sedikit mengenai kucing saya, “Ka, guwe masih bingung ama hubungan yang terjadi sama kucing-kucing lo. Bikin dong pohon keluarga gitu.”  Ya wajar sih permintaan semacam ini, hubungan keluarga kucing-kucing saya tidak sepenting hubungan Ken Arok-Ken Dedes-Anusapati, juga tak semenarik hubungan keluarga Krisdayanti-Anang-Ashanty, jadi sekali lagi wajar jika kawan saya yang tabah ini tidak begitu paham mengenai hubungan keluarga kucing-kucing saya. Lalu saya pun menyanggupinya.

Walhasil, berikutlah pohon keluarga sederhana yang telah saya buat. simalamoa Diawali dari dua orang ibu kucing yang bernama Paijah dan Melati. Paijah adalah kucing telon milik nenek saya yang sebelumnya entah datang dari mana tiba-tiba jadi mondok di rumah nenek saya dan lama-lama tinggal menetap di rumah saya karena kurang perhatian dari nenek. Paijah ini salah satu kucing favorit saya, banyak hal menarik tentang Paijah yang mungkin lain kali akan saya ceritakan di blog ini, insyaAllah.

Lalu Melati, kucing yang sangat terkenal di gang kampung saya. Sebenarnya kucing ini biasa saja menurut saya, tidak menarik, manis sedikit sih, yang membuatnya terkenal adalah pemiliknya, namanya Mbokdhe Sikah. Bisa dibilang beliau adalah sosialita di gang kampung saya, sering kongkow, rajin arisan PKK, ikut organisasi yasinan dan kemuslimahan, gak kayak ibu saya yang kesehariannya hanya ngurus cabe dan nyari kutu kucing. Tak heranlah si Melati terkenal, karena seringkali diajak kongkow dan juga jadi bahan cerita Mbokdhe Sikah kepada kawan-kawannya.

Lalu Paijah dengan sesekucing (kalau orang seseorang, kalau kucing sesekucing) melahirkan Bambang, lalu melahirkan Kupret beberapa bulan berikutnya. Sedangkan Melati dengan sesekucing juga (entah sama atau tidak dengan sesekucingnya Paijah), melahirkan Donna dan Donni, adik kakak yang selanjutnya diadopsi oleh keluarga saya.

Semakin dewasa Donna Donni pun tumbuh menjadi kucing yang cantik dan tampan, begitu juga dengan Bambang yang lebih muda beberapa bulan dibanding mereka. Memasuki masa reproduksi, Donna pun mulai hamil. Perjalanan hidup Donna nampaknya tidak begitu mulus, sekitar tiga kali dia mengalami keguguran.

Akhirnya setelah mengalami perjalanan pahit ini, Allah mengkaruniakan padanya pasangan adik-kakak, Simon dan Monik. Dilihat dari bentuk wajah, warna bulu, dan bentuk ekornya, Simon sangatlah mirip Donni, sedangkan Monik sangatlah mirip Bambang. Karena setelah diselidiki tidak ada kucing lelaki lain yang berkeliaran sekitar rumah, jadi disimpulkan bahwa kemungkinan besar Simon adalah anaknya Donni, yang juga adalah kakak Donna, sedangkan Monik adalah anak Bambang.

DSCF5659-horz-vert Tak berapa lama setelah Simon dan Monik disapih, Donna pun hamil lagi. Mungkin Donna memang ditakdirkan kurang beruntung dalam hal keturunan, bayi Donna mati setelah dilahirkan. Namanya juga kucing, tak lama kemudian hamil lagi. Tapi dalam kehamilan ini dia dirundung derita lagi. Donni, sang kakak yang juga mendobel sebagai suaminya (haduh), meninggal dunia karena sakit. Lalu beberapa bulan kemudian, Bambang, suami keduanya (haduh lagi), beserta Monik hilang tanpa jejak. Tinggallah Donna yang sedang hamil besar harus mengurus Simon seorang diri.

Setelah cukup lama dirundung duka, akhirnya Donna dikaruniai lagi tiga putra. Bejo yang sangat mirip dengan Bambang, dan Bubu juga Kuku yang sangat mirip dengan Donni juga Simon. Kembali lagi disimpulkan siapa anak siapa berdasarkan kemiripan ini. Sempat muncul hipotesa bahwa Bubu dan Kuku ini adalah anak Simon, tapi dinilai kurang kuat karena dari perhitungan masa hamil Donna adalah pada saat Simon belum dewasa, juga karena ada sebuah teori yang menyatakan bahwa jika ibu dan anak berhubungan dan menghasilkan anak, maka anak tersebut akan mati sebelum dewasa.

Dan teori ini tampaknya sesuai di hubungan incest Simon dan Donna pada kehamilan-kehamilan Donna berikutnya. Tiga kali Donna melahirkan setelahnya, tidak ada satu anak pun yang sukses hidup lama, paling lama hanya bertahan seminggu. Dua kali kelahiran diketahui anak-anaknya mati dengan sendirinya. Dan pada kelahiran ketiga, diketahui ada bekas gigitan pada leher salah satu mayat bayi Donna, dan mayat bayi yang lain dalam kondisi tanpa kepala. Berdasarkan penyelidikan, kemungkinan besar pelakunya adalah Simon, karena pada waktu kejadian ada saksi mata yang melihat Simon berkeliaran di sekitar tempat bayi. Heu.

Dan dari kemungkinan kebenaran teori ini juga ditemukan dugaan lain, bahwa kegagalan kehamilan Donna yang awal-awal bisa jadi karena anak yang dikandung Donna adalah hasil hubungannya dengan bapaknya sendiri. Heu

Begitulah cerita hubungan keluarga kucing saya yang terakhir. Semoga bisa menjelaskan. Mohon maaf jika ceritanya agak menjijikkan dan ada hal-hal yang kurang layak diceritakan.

Kita merasa jijik karena kita sebagai manusia yang mempunyai adab dan norma, buah dari akal dan rasa kita. Kucing katanya tidak mempunyainya jadi mereka hanya hidup mengikuti nalurinya saja, dan mereka tidak akan dipersalahkan karenanya. Tapi jika kita, manusia yang bisa menulis ataupun membaca blog ini, mau hidup seperti kucing? Ya mau disebut apa ya? Disebut kucing juga kayaknya kucing-kucing bakal pada protes gak rela. Heu.

Semoga kita terhindar dari sifat dan sikap yang membawa kita tidak sadar bahwa diri kita ini adalah manusia, makhluk mulia seutuhnya.

Iklan
0

Mina (Part IV)

Kediri, 1999
Minut sakit,. Ibu mewanti2.
“Ika…. Kamu liat sendiri kan? Minut sakit… daripada nanti mati dan kamu tau matinya trus nangis lagi mending dijual aja ya ke bakul pitik.. kan lumayan buat beli jajan”

“Nggak akan! Biar mati aja! Nanti aku kubur di sebelah rumah!”

Saya waktu itu benar-benar emosi karena teringat Mimi yang mati dan selanjutnya saya makan sendiri. Mending tau orang, eh, hewan yang saya sayangi mati di hadapan saya dan sayalah yang merawatnya hingga ke liang lahat, daripada dia mati entah di mana, tersiksa tanpa orang yang mencinta sebelum akhir hayatnya tiba. Halah.

“Ya udah, terserah, jangan nyesel lho yaa..”, pinta ibu.

Waktu itu saya duduk di kelas 1 SMP. Sebelum berangkat dan setelah pulang sekolah selalu saya jenguk Minut. Saya suapin makan, saya kasih cabe, saya kasih dumex, saya kasih minum, tapi tampaknya tidak juga membaik, bahkan semakin memburuk saja keadaan Minut. 😦

Saya sudah siap jiwa raga untuk kehilangan dia waktu itu. Keadaan Minut sepertinya memang sudah sangat parah. Idung meler, badan dingin (nah, di manusia, badan panas malah yang dianggap sakit/demam, kalau di ayam justru yang dingin yang dianggap sakit), lemes ga mau gerak, bulu di badannya mulai layu, mata merem mulu. Sedihh sekali melihat Minut waktu itu. 😦

Sebenarnya Mina juga agak tertular dengan penyakitnya itu. Semacam flu gitu, tapi belum separah Minut. Mereka berdua dipisahkan biar tidak saling menular.

Dan akhirnya, tibalah saatnya Minut meninggalkan kita semua. Minut ditemukan mati pagi-pagi di kurungannya. Membujur kaku dan beku. Hiks. Tanpa tangis waktu itu. Saya sudah ridha. Hiks.

Karena kelas 1 SMP masuk sekolahnya siang, jadinya saya masih bisa santai ikut prosesi pemakaman Minut.

Dikuburkan di halaman sebelah kanan rumah saya, di antara pohon mangga dan belimbing, di atasnya ada ayunan dari ban (ga penting). Disaksikan oleh saya, ibu saya, adek saya, Mina, dan Mbak Tri, tetangga saya yang suka maen ke rumah saya. Tanpa air mata, sayalah yang memasukkan tubuh kaku Minut ke liang lahatnya. Menutupi tubuhnya dengan tanah sedikit demi sedikit, diiringi tahlil. Menancapkan nisan untuknya yang waktu itu baru saja saya bikinkan dari potongan beton dan bertuliskan nama Minut dari coretan tipe-x. Kuburannya berbentuk gundukan, itu saya yang minta, biar kayak di tv-tv. Mina pun ikut melihat prosesi itu, dan nampak dari wajahnya, dia cuek.

Cukup lega. Antara bahagia dan sedih. Bahagia telah bersamanya sampai akhir hayat, dan sedih karena telah kehilangan dia. Oh Minut… :-(.

Ibu dan Mbak Tri segera pergi dari kuburan Minut. Mereka tampak punya kehidupan lain yang lebih penting. Saya dan adek saya yang waktu itu berumur 3 tahun masih saja di situ. Menabur-nabur bunga seadanya yang ngambil dari halaman rumah, ke atas kuburan Minut. Lalu berdoa ala kadarnya untuk Minut. Setelah cukup puas kami pun pergi menonton Telenovela.

Selayaknya mainan baru, anak-anak ingin selalu melihat dan memperhatikannya terus sampai mereka bosan. Bagaimanapun juga, kuburan Minut itu adalah hal baru, dan itu kami (saya dan adek, red.) terjemahkan sebagai permainan baru. Belum lama nonton TV, kami mengintip kuburan Minut dari jendela rumah kami. Dan tidak terjadi perubahan apa-apa (yaiyalah, masa mau berubah jadi Jiban? -_-). Lalu kami pun kembali menonton Telenovela.

Tak lama lagi, saya ke belakang rumah, ngambil Mina dan anak-anaknya (waktu itu Mina lagi punya anak yang kecil-kecil), saya bawa ke kuburan Minut. Ceritanya ziarah kubur gitu. Tapi Mina tampak cuek. Dia lebih milih ceker-ceker tumpukan daun di sebelah kuburan Minut berharap nemu rayap ato cacing buat makan anak-anaknya. Dasar ayam gak punya hati. Huh. Ya sudahlah. Saya kembali nonton Telenovela.

Tak lama kemudian, saya mengintip lagi dari jendela rumah. Dan, saya pun tersentak, dan berteriak, “Mina!!!! Pergi!!! Hush!! Hush!!!” Sambil gebruk-gebruk jendela biar si Mina kaget dan pergi. Tapi Mina tetap asyik mencakar-cakar gundukan tanah yang tak lain dan tak bukan adalah KUBURAN MINUT dengan ceria. Ternyata dia menganggap gundukan tanah itu semacam rumah cacing yang mempunyai kemungkinan melimpah cacing lezat di sana. Dasar ayam bodoh! Padahal tadi dia di sana ikut ngeliat penguburan Minut, masih aja gak nyadar itu gundukan tempat apa. -___-‘

Langsung deh saya keluar rumah, ngusir-ngusir Mina, biar dia pergi dari kuburan Minut. Lalu mengadukannya ke ibu yang sedang mencuci baju di dekat sumur. Ibu pun tampak agak geram dan bergegas ke kuburan Minut untuk meratakan permukaannya. Lalu bilang, “Makanyaa.. gak usah kebanyakan petengseng, ikut-ikutan tivi segala!” =,=

Selanjutnya, hidup saya hanya ditemani oleh Mina dan anak-anaknya..

(bersambung)

8

Ivoku yang Mahal, Mati dalam Keadaan Terhormat

Saya pernah punya ayam jantan Bangkok, hadiah dari nenek saya. Ayamnya ganteng, guedheeee…, rambutnya (ato bulu ya? pokoknya yang di sekitar kepalanya itu lah) panjang, kuning dan sering saya kuncir. Kalo ngeliat dia lagi kunciran, saya selalu inget ama tokoh utama cowo telenovela indosiar siang2 yang judulnya Wild Angel. Nama tokoh di perannya itu Ivo, makanya saya ngasih nama ayam jago saya ini juga Ivo. Haha.

Ini Ivo

Ini Ivo, Mirip Ayam kan? 😛

Ivo itu ternyata dari kecil memang terbiasa hidup dalam kurungan, bukan ayam bebas yang petita-petiti pethakilan kayak ayam saya yang lain. Dia ayam yang penurut, gampang ditangkepnya, bahkan  justru dia yang sering mendatangi para manusia majikannya buat minta makan. Di saat ayam-ayam jago saya yang lain pada sok gagah nyanyi-nyanyi plus pamer kebisaan nyari makanan buat ngedapetin ayam cewe-cewe, bahkan ga sedikit yang punya pacar lebih dari satu, Ivo sepertinya sama sekali tidak tertarik untuk ikut-ikutan. Bahkan ayam-ayam cewe yang justru datang mendekati Ivo (Ya iyalah, lha wong di sekitar dia melimpah makanan, otomatis ayam-ayam pada dateng). Kalo kata temen saya yang saya ceritain bilangnya gini, “Mungkin itu ayam jaga hijab,  jaga hati dari zina hati.” Hmm..Mungkin sih.. (trus dipikir -_-).

Pernah waktu itu Ivo sakit. Kakinya bengkak dan jadi lunak, jadinya dia nggak bisa jalan. Dia cuma bisa diam saja di deket kandang. Gak bisa maen-maen sama saya lagi. Entah itu penyakit apa. Bapak ibu saya pun heran. Bapak saya pun seperti biasa, ga mungkin diam saja, beliau bersemangat dengan cara beliau sendiri mengobati Ivo (pake cara ngaco maksutnya, haha). Ntahlah waktu itu dikasih obat apa, pokoknya baunya nggak enak,  dioles-oleskan ke kaki Ivo. Trus ada pil juga yang dimasukin ke mulutnya (eh, paruh ya?) Ivo. Saya kalo ketemu Ivo cuman ngelus-elus kepalanya aja, ga mau gendong-gendong lagi soalnya takut kena kakinya yang bau obat (jahat ya? 😦 ).

Dan ternyata, Ivo bisa sembuh beberapa minggu kemudian. Bisa jalan lagiii, walopun agak pincang. Ya antara heran dan terharu. Herannya, bapak saya itu kok ya bisa bikin sembuh ya walopun racikan obatnya ngaco. Terharunya, bapak saya bener-bener tau saya sayang Ivo, dan pengen nyembuhin Ivo biar saya bisa maen lagi, dan Ivo bisa menghasilkan keturunan yang bagus-bagus dari gen Bangkoknya itu, sehingga saya lebih banyak lagi punya ayam bagus. Hehehe.

Ivo pun semakin tumbuh gede dan dewasa seiring berjalannya waktu. Tambah ganteng, walopun masih pincang. Sekarang dia punya banyak cewe (kok ga jaga hijab lagi? mungkin udah dewasa dan itu bukan pacaran, tapi udah nikah, hekekke). Dan sepertinya ga cuman ayam-ayam cewe aja yang tertarik sama dia, manusia pun ada yang tertarik.

Pernah suatu hari, pas saya lagi gak di rumah, ibu saya lagi di halaman belakang, tiba-tiba ada orang teriak-teriak (ke depan kita akan menyebutnya orang-teriak) dari teras rumah manggil ibu saya, “Mbak Iiiisss.. Mbak Iiiiisss..!” Ibu saya memang terkenal dengan panggilan “Mbak Is” di desa saya.

Mendengar teriakan itu, ibu saya pun langsung lari ke teras depan. Setelah sampai teras depan dan di situ ada tetangga saya yang tadi meneriaki dan mbahkung saya yang nganter tetangga saya, ibu saya heran “Hei, ada apa kok rame-rame?“. Si orang-teriak menjawab,  “Jago Bangkokmu biar aku beli ya? Aku beli 100ribu deh

100ribu itu angka yang sangat besar buat seekor ayam jago jaman segitu (sekitar SMP kalo ga salah). Biasanya juga 25-50ribuan. Jago Bangkok yang dimaksud pastinya si Ivo, karena itu satu-satunya jago bangkok di rumah saya. Si Ivo dihargain segini mungkin karena badannya yang oke dan digadang-gadang buat jadi pemenang di acara ‘Adu Ayam’.

Memang, desa saya itu terkenal islami, secara ritual. Tiap sore anak-anak kecilnya berduyun-duyun ke masjid sebelah rumah buat belajar baca tulis AlQuran dan Fiqh. Remajanya juga sering mengadakan perkumpulan buat Yasinan dan Al Berjanji (ya tapi ini bukan ritual se menurut saya, ini cuman dipake nongkrong-nongkrong aja, ga ada ruh-nya, ga ada ilmu yang didapet juga). Orang-orang tuanya sering ngadain istighotsah, ziarah wali, ziarah kyai, ngunjungi kyai. Pengajian-pengajian juga sering diadain. (etapi itu pengajian apa pertunjukan lawak saya juga rada bingung sih). Ya buat ukuran orang-orang awam termasuk islami lah ya kegiatannya.

Tapi ternyata, di desa saya itu, juga udah terkenal jadi suplaier dan tempat adu ayam (karena masih banyak kebonannya, jadinya gak ketauan jelas kalo ada polisi). Dan salah satu pentolan suplaier ayam jago dan pelindung kegiatan adu ayam ini tidak lain dan tidak bukan adalah Kyai Masjid Sebelah Rumah Saya, yang notabene jadi orang yang paling berpengaruh di desa saya itu. AWWW! Ntahlah saya bingung kenapa kejadian kayak gini.

Oke, kembali ke adegan di teras rumah saya di mana orang-teriak menawar Ivo. Ibu saya sempet tergoda sih katanya, tapi ragu, karena Ivo pasti bakal dipake adu ayam dan Ivo adalah ayam kesayangan saya. Akhirnya ibu saya menjawab, “Waduh, itu ayam kesayangan Ika e.. ntar Ika marah kalo aku jual” Orang-teriak pun nimpalin “Halah Mbak Is, cuma ayam doang, beliin ayam yang lain aja, itu udah mahal banget loh,,,” Ibu saya akhirnya jawab, “Kalo mau 500rb, itu ayam kesayangan Ika soale” (kasih sayang saya hanya dihargai 500ribu rupiah, hiks..sediihhh T.T)  “Wah, nggak berani aku, itu ayam juga pernah sakit kan? Terlalu beresiko. Kalo mau 100ribu, kalo gak mau ya udah“. “Yo uwes, gak mau 500rb ya gak aku kasih” Akhirnya si orang-teriak pun tidak mendapatkan Ivo.

Seminggu setelah kejadian itu, badan Ivo melemah. Gak bisa jalan lagi walopun kakinya gak melunak seperti dulu. Penyakit kali ini beda. Saya pikir cuman kecapean biasa. Jadinya penanganannya gak intensif seperti dulu. Ternyata cuma selang beberapa hari, Ivo mati. Hiks. Dan ibu mulai bergumam “Tau gitu aku jual aja kemaren, lumayan dapet 100ribu, daripada sekarang cuma dapat bangkai. 100ribu melayang~” -___-‘ Tapi dilanjut lagi sama ibu, “Ya gakpapa juga sih tapi, aku jadi nggak dosa, gak ngejual ayam buat maksiat.” Hahahahha (tertawa meratap gara-gara punya ibu labil -_-)

Semoga saya nanti masuk surga, dan bisa ketemu Ivo dan ayam-ayam saya yang lain lagi di sana. Aamiin. 😀

0

The Weight of Hatred

A kindergarten teacher has decided to let her class play a game. The kindergarten teacher told each child in the class to bring along a plastic bag containing a few potatoes. Each potato will be given a name of a person that the child hates, so the number of potatoes that a child will put in his/her plastic bag will depend on the number of people he/she hates. So when the day came, every child brought some potatoes with the name of the people he/she hated. Some had 2 potatoes; some 3 while some up to 5 potatoes.

The kindergarten teacher then told the children to carry with them the potatoes in the plastic bag wherever they go (even to the toilet) for one week. Days after days passed by, and the children started to complain due to the unpleasant smell let out by the rotten potatoes. Besides, those having 5 potatoes also had to carry heavier bags. After 1 week, the children were relieved because the game had finally ended.

The kindergarten teacher asked: “How did you feel while carrying the potatoes with you for 1 week?” The children let out their frustrations and started complaining of the trouble that they had to go through having to carry the heavy and smelly potatoes wherever they go. Then the kindergarten teacher told them the hidden meaning behind the game.

The kindergarten teacher said: “This is exactly the situation when you carry your hatred for somebody inside your heart. The stench of hatred will contaminate your heart and you will carry it with you wherever you go. If you cannot tolerate the smell of rotten potatoes for just one week, can you imagine what is it like to have the stench of hatred in your heart for your lifetime?”

_beautifulqalb

2

Mengeluh

Adalah satu kisah menceritakan bahwa Nashrudin Hoja disambati oleh sahabatnya yang bodoh, mengeluhkan rumahnya yang sumpeg karena kecilnya. Sedangkan anaknya kecil-kecil berjumlah 7 gundhul. Nashrudin lantas memberikan nasehatnya :
Peliharalah ayam di rumahmu, setidaknya 5 ekor!

Nasehat itu dituruti juga. Maka setelah seminggu, sahabat si Nashrudin itu dateng lagi. Keluhannya tambah menyayat hati. Soalnya rumah yang sudah sumpeg itu ternyata tambah makin sumpeg. Tapi si Nahsrudin menenangkan. :
Sabar, namanya juga proses, jangan ingin cepat melihat hasil. Aku kan belum selesai kasih nasehat. Setelah kau pelihara ayam, peliharalah 5 ekor burung dara di rumahmu.

Si sahabat itu nurut juga. Dan bisa ditebak, minggu berikutnya dia tambah misuh-misuh pada si Nashrudin. Rumahnya tambah gak karu-karuan. Ayam dan burung dara bikin tambah kaco ruangan rumahnya. Si Nashrudin menenangkan :
Aku jamin dalam sebulan ke depan kau akan tenang tinggal di rumahmu. Tapi peliharalah 2 ekor kambing di rumahmu.

Nasehat itu dijalaninya juga. Minggu berikutnya si sahabat bukan hanya misuh-misuh, tapi juga marah-marah hebat.
Gara-gara nasehatmu, rumahku jadi tambah berantakan, tambah sempit dan tambah sumpeg. Teman macam apa kau ini. Kambing, ayam dan burung bikin tambah ruwet isi rumah!” bentaknya penuh emosi.

Nashrudin kembali menenangkan, “Aku kan bilang butuh waktu sebulan. Coba sekarang kau jual ayam-ayam mu itu. Minggu depan kita lihat keadaan rumahmu.”

Minggu berikutnya si sahabat dengan tersenyum bilang pada Nashrudin. “Betul juga nasehatmu. Rumahku sekarang sudah agak longgar. Adakah nasehatmu berikutnya?

Ya. Sekarang juallah burung-burung daramu. Kita lihat minggu besok gimana kondisi rumahmu.

Demikianlah seterusnya, sampai akhirnya Nashrudin memerintahkan sahabatnya menjual kambingnya. Setelah menjual kambingnya, maka si sahabat itu berkata, “Rumahku sekarang longgar sekali. Aku bisa tinggal dengan lapang dan longgarnya. Terimakasih atas nasehatnya wahai kawanku.