0

Bagaimana Senja di Jakarta?

Cerita sedikit tentang Novel Senja di Jakarta karangan Mochtar Lubis.

Novel berlatar Indonesia pada tahun 50-an ini menceritakan beberapa potongan kehidupan manusia Indonesia dari berbagai macam kelas. Potongan kehidupan tersebut dikisahkan beriring sesuai urutan waktu, di mana pada akhirnya tampak adanya keterkaitan nasib antara kelas manusia yang satu dengan kelas yang lain. Dan pengait kisah-kisah tersebut diperjelas dengan dihadirkannya si tokoh utama, Suryono.

Diawali dengan gambaran kehidupan pagi seorang kuli pengangkut sampah, Saimun, yang susah payah letih, belum sarapan, dan harus berjalan jauh sambil membawa barang yang berat dan bau. Dinyatakan jelas bagaimana Saimun berpikir tentang kondisi hidupnya, bagaimana hubungan dia dengan kawan baiknya, Itam, bagaimana hubungan dia dengan majikannya, bagaimana hubungan dia dengan Neneng, seorang wanita jalanan yang ditemui di dekat pondok Saimun berteduh.

Dilanjutkan dengan gambaran kehidupan pagi yang sangat berkebalikan, yaitu kehidupan si tokoh utama, Suryono, sarjana lulusan amerika yang di situ diceritakan memiliki jabatan cukup berkelas di sebuah instansi kementerian. Berbeda sekali dengan Saimun, Suryono hidup dalam kemewahan dan kemudahan. Dari buku dan benda-benda yang berada di kamarnya bisa ditebak bahwa dia adalah pemuda kaya yang cerdas, berselera tinggi, hidup bebas, dan suka bermain wanita.

Suryono adalah anak Raden Kaslan, pengusaha kaya raya, di bidang apa saja, yang terkenal sebagai sumber dana sebuah partai yang dominan dalam pemerintahan kala itu. Memiliki ibu tiri bernama Fatma yang umurnya hampir sama dengan dia, dan tentu saja dia ada main dengan ibu tirinya ini.

Di masa itu, Indonesia baru saja berdaulat, tak sedikit pemuda-pemuda yang merasa bahwa mereka harus berperan aktif dalam membangun dasar-dasar negara ini, yang sebenarnya mereka sadari masih belum jelas berdasar apa. Salah satu bentuk peran aktifnya adalah dengan mengadakan kelompok diskusi, yang dari situ diharapkan masing-masing membawa hasil diskusinya ke ranah yang sedang mereka perankan. Suryono aktif dalam salah satu diskusi itu.

Lalu ada juga Sugeng, pegawai rendahan kementerian yang dituntut oleh istrinya agar punya rumah sendiri. Dahlia, seorang istri pegawai rendahan kementrian pendidikan yang sering ditinggal pergi suaminya dan tanpa sepengetahuan suaminya ia menjual dirinya. Tony dan temannya, pencuri-pencuri muda yang tak segan-segan menyakiti korbannya. Semua tokoh tersangkut dengan Suryono dalam peristiwa-peristiwa yang natural, tidak dipaksakan.

Tampaknya penulis sangat ingin menggigit-gigit emosi pembaca akan keperihan kondisi masa itu dengan menunjukkan kegundahan Suryono, yang notabene idealis dalam diskusi, tapi ikut masuk ke ranah politik kotor yang dicetuskan oleh ayahnya saat partai meminta ayahnya untuk mengumpulkan dana yang sangat besar untuk pemilu. Ikut menikmati kemewahan di saat dia sadar rakyat di bawahnya banyak yang tak jelas nasibnya. Juga kegundahan Suryono dalam keburukan tabiat dia dalam bermain wanita, dia pun teringat lagi dengan yang namanya agama.

Ditunjukkan jelas oleh penulis bahwa efek keprematuran negara, kebusukan perangkat pemerintahan, kerakusan penguasa, kesalahpikiran pemuda, dan ketidakberagamaannya masyarakat sangat besar terhadap rusaknya sebuah peradaban. Diperlihatkan juga oleh penulis usaha pejuang komunis dalam keikutsertaan mengisi dan merebut kemerdekaan Indonesia, mereka paham sekali bahwa negara ini prematur dan penguasa tidak bisa diandalkan. Memang usaha mereka nyata, masif, rakyat ikut serta, namun sayang, itu hanyalah pergerakan anarki dan ganjil.

Juga terasa sekali penulis menunjukkan kesempurnaan ajaran Islam yang sepatutnya menjadi dasar bernegara, namun sayang juga, Islam kurang bersatu, tidak berstrategi, lemah, dan seolah hanya diperalat untuk menghancurkan pergerakan komunis.

Penulis sebenarnya menegaskan di awal prakata, bahwa novel ini fiksi, tidak nyata, baik nama maupun peristiwa. Tapi setelah melihat biografi si penulis, di mana dia adalah seorang jurnalis, pengumpul fakta, yang di jamannya terkenal suka mencibir pemerintahan Soekarno atas ketidak sempurnaan pemerintahannya, ingin lagi berpikir ulang atas kefiksian novel ini. Mungkin memang benar nama dan peristiwa tak ada yang sama, tapi bisa jadi serupa tapi tak sama kan?  😉
Kutipan
0

Penindasan.

Penindasan oleh pihak ini kepada pihak itu. Oleh kelas ini terhadap kelas itu. Oleh kpintaran ini terhadap kebodohan itu. Oleh kekuasaan ini terhadap ketertindihan itu.

Atau juga penindasan yang berlangsung di dalam diri setiap penindas maupun diri setiap tertindas.

Para tertindas diimpit tidak hanya oleh orang atau kelompok, tetapi juga oleh suatu tatanan yang dirancang khusus untuk menindas.

Mereka harus mendekam berjejal-jejal di dalam kamar sel sejarah yang gegap dan buram oleh lampu lima watt : sedemikian rupa sehingga mereka akhirnya yakin bahwa hidup memang ruang pengap buram lampu lima watt.

Mulut mereka disumpal atau dijahit : sedemikian rupa sehingga mereka percaya bahwa takdir kehidupan ini tak lain adalah tersumpalnya dan terjahitnya mulut.

Mereka harus makan tinja : sedemikian rupa sehingga mereka berpendapat dengan mantap bahwa yang bernama makanan adalah memang tinja.

Dan, itu tidak cukup, mereka harus meyakinkan mulut, lidah, perasaan, dan pikiran mereka bahwa tinja itu gurih rasanya. Dan, akhirnya mereka memang yakin.

Dengan demikian, persoalan terbesar dari segala sejarah umat manusia adalah bagaimana meyakinkan orang bahwa tinja itu tidak gurih rasanya.

Sementara itu, para penindas disiksa oleh keinginan-keinginan mereka sendiri yang besar dan kekuatannya jauh melebihi diri pribadi mereka. Mereka disayat-sayat oleh keharusan memelihara proses penindasan tanpa sehelai benang tatanan pun boleh terputus. Apapun yang memiliki kemungkinan untuk bisa mengancam ketersambungan tali-temali penindasan itu harus disantap di meja makan malam.

Para penindas adalah juga orang-orang tertindas. Mereka ditindas tuntas oleh segala yang mereka ciptakan sendiri. Dan, rentang waktu penindasan mereka jauh melebihi jatah penderitaan kaum tertindas.

Mereka ditipu oleh apa-apa yang mereka cari dan apa-apa yang mereka pertahankan.

-Arus Bawah

QS Al Balad

QS Al Balad

Sampingan
2

A : Hai..
B : Hm..
A : Udah lama ya?
B : *menunduk, tiba-tiba jadi setengah terisak*
A : *menggeserkan tempat duduknya mendekati si kawannya*
B : *menunduk, terisak, tanpa air mata*

A : Ya..ya.. Aku tahu…
B : Kenapa kamu baru datang? *berkata sambil terisak, menoleh kepada si kawannya* 
A : Dulu, sekarang, atau nanti, apa bedanya? *menoleh pula kepada si kawannya ini dari yang sebelumnya menatap jauh ke arah langit*
B : Terlambat sudah semuanya.. *kembali menunduk*
A : Kamu bicara apa? *dengan pelan mengembalikan pandangannya ke arah langit*

*sunyi selama beberapa detik*

A : Dari dulu aku tak pernah bisa berbuat apa-apa untukmu.. *tetap menatap langit*
B : Tapi kenapa kamu pergi? *tetap menunduk*
A : Ya sama saja aku pergi atau di sini.
B : Tapi tak ada yang lain lagi yang bisa mengerti..
A : Lalu? Kalau aku di sini pun, kamu hanya akan merajuk kepadaku saja, tanpa aku bisa melakukan apa-apa.
B : Tidak.
A : Iya. Kan sudah berulang kali semacam itu?
B : Berbeda. Bahkan aku tidak merajuk kepadamu kamu sudah tahu apa yang harus kamu lakukan.
A : Dan gagal.
B : Sekarang aku yang meminta. Ah..bukan sekarang…
A : Ya, dan kamu pikir akan berbeda cerita jika kamu meminta lebih dulu?
B : Sudah terlambat…
A : Makanya. Sama saja.

*sunyi lagi*

A : Cobalah berbahagia. *sambil perlahan menoleh ke arah si kawan yang sedang menunduk*
A : Bahagia yang sebenarnya. *tersenyum kepada si kawan, walaupun si kawan tertunduk tak melihat senyumannya*
A : Jangan lagi bilang kau tak pantas bahagia.
B : Aku hampir saja bilang begitu. *tetap menunduk*
A : Ah! Aku ragu apakah kamu orang beriman atau bukan. Terimalah takdir, bertawakallah, berjiwa tenanglah, bersyukurlah,
B : Iya, aku juga khawatir.

A : *berdiri*
B : *menatap wajah si kawan* Mau ke mana lagi kamu?
A : Aku ke sini sebenarnya hanya untuk mengatakan kata-kata barusan itu tadi padamu. Sudah kukatakan dan aku akan pergi.
B : Jangan pergi duluuu
A : Semakin lama aku di sini semakin kamu tidak bisa memegang dirimu sendiri. Sadar!
B : Tolong aku.. *merengek sambil bercucuran air mata*
A : Apa? Memangnya kamu kenapa? Tak ada yang salah, tak ada yang perlu kutolong? Kamu hanya perlu berpikir, lalu sadar, lalu jalani hidupmu sebaik mungkin.

*sunyi lagi*

A : Juga sebenarnya aku ingin meminta maaf padamu, karena telah ikut campur dalam urusanmu. Aku berniat membantumu, memberikan yang terbaik bagimu tapi sepertinya itu bukan yang terbaik menurut Allah. Aku seringkali terlalu tergesa-gesa dan tinggi diri. Dan bisa saja aku bukan orang yang ditakdirkan untuk membantumu sesuai kebutuhanmu dalam menemui Rabb-mu.
B : *menangis mendayu-dayu*
A : Sadar! Dzikir! Doa! *lalu menghadap membelakangi kawannya itu*
A : Aku pergi. Aku tidak mau ke sini lagi. Jaga dirimu. Jaga harga dirimu. Jaga keluargamu. Sudah. Sampai jumpa di waktu yang baik, jika Allah meridhai.
B : *masih menangis mendayu-dayu*

0

The Sigh of a Peasant Woman

This year the rice plants ripen late,
They won’t be ready
until frosty winds begin to blow.
And when frosty winds came
the rain never stopped,
Mold grew on the hoe,
the sickle turned rusty.


Her eyes had no more tears,
yet still the rains came down.
Staring bitterly at yellow stalks
lying in black mud.
For a month she stayed
in a shack in the fields,
Picked what she could
when the weather cleared,
then followed the ox home.


Sweating,
she carried the crops to the market,
her shoulders bruised from the load,
But received a price
usually paid for mere husks of grain.
She sold the ox to pay taxes,
stripped wood from her roof
for her cooking fire,
Desperate acts
with no thought for next year’s hunger.


This year the tax collectors
demand cash not crops
To recruit Tibetans
to guard the vast northwestern frontier.
Sage officials fill the court,
but the people’s lives get worse,

Better to end her days as the River Lord’s wife!

(Su Shi 1036-1101)

0

Seperti Bukan Mimpi

Siang itu aku dan beberapa kawanku sedang bercengkrama di sebuah teras lapang dalam rangka perayaan kecil yang dihelat salah satu kawanku di situ. Aku duduk menyendiri di salah satu bangku panjang di sudut lapang dekat pot-pot bunga. Beberapa macam jenis makanan menghiasi meja di depanku. Angin semilir serta langit bermendung pembuat sejuk melengkapi keceriaan siang itu. Bahagia rasanya.

Tak lama ada seorang lelaki yang kukenal datang menghampiriku lalu menduduki sisi ujung kiri bangku panjang yang ujung kanannya lagi aku duduki. Wajahnya menampakkan keseganan dan keraguan. Kusapa dia,

“Hei, gmn kabarnya?”, dia hanya tersenyum.

“Nih, kamu suka ga?”, tawarku sambil kuarahkan piring berisi empat buah sushi ke sisi meja di depannya. Dia tetap tak berucap, dan masih tersenyum. Lalu dia menatapku, dengan tatapan ragu dan mungkin agak sedikit takut, lalu menunduk.

Aku terheran-heran, apa maunya? Aku agak risih dibuatnya, jadinya aku buang muka darinya ke arah kumpulan kawan-kawanku lain yang sedang asyik bercengkrama.

“Tumben nggak galak..”, kata-kata itu tiba-tiba terdengar dari sebelah kiriku yang datangnya pastinya dari lelaki yang tadi.

“Sial..”, kataku dalam hati. Tak mau aku obrolan ini jadi panjang ataupun kedengaran orang.

Wajahku tetap pada arah sebelumnya, tak mau kutolehkan padanya. Justru kugeser posisi dudukku semakin ke kanan, menjauhinya, berencana kubuat sikap di antara kami hanyalah dua orang yang saling kenal saja dan tak pernah akrab. Aku tak mau ketahuan.

Dan tiba-tiba aku tersentakkan oleh bunyi alarm, kembali ku terbaring di ruang kamarku yang sedang remang. Kulihat jamku menunjukkan pukul 04.21 WIB. Langsung sadar, kubangunkan sosok di sebelahku yang sedang nyenyak dan akan memburu travel jam 5 ke Bandung pagi ini.

Ah, syukurlah cuma mimpi.