2

Tobil

Menyapu teras rumah dua kali dalam sehari adalah tugas wajibku dari ibu. Walaupun si teras masih juga dalam keadaan bersih. Dan, setiap kali ada ayamku yang bermain di teras dan mengotorinya, tugasku jugalah untuk membersihkannya.

Aku sering beradu mulut dengan ibuku karena merasa ini tidak adil. Katanya aturan teras yang masih bersih tetap harus disapu karena tugasku itu menyapu dua kali dalam sehari, tetapi semena-mena lagi tugasku bertambah jika ayam-ayam mengotori teras itu lagi dan itu menjadikannya lebih dari dua kali dalam sehari. Di sinilah kasih sayangku kepada ayam-ayamku menjadi pudar dan ingin rasanya menyembelih mereka semua satu per satu.

Setiap beradu mulut, selalu saja diakhiri dengan, “Oalah, Ik.. Nyapu sak ilat ae kok yo angel erraammmm men dikongkon!“* Lalu aku pun diam, kalah adu, takut durhaka.

Pagi itu aku lupa menyapu, dan kewajibanku mengganti menyapu di siang hari, yang panas, yang berdebu, yang membuatku merasa sapu yang aku pegang seperti satu ton saja, membuatku menyapu dalam keadaan terseok-seok. Malasssss.

Sepertinya kemalasanku ini terbaca oleh ibuku yang ternyata sedang mengintip dari dalam rumah melalui jendela, “Mangkanyaaa, nyapu itu di pagi hari, biar masih seger, nggak berdebu, nggak panas.” Aku diam saja sambil melanjutkan kegiatan persapuanku.

Baru saja separuh bagian teras tersapu, aku sudah merasa luar biasa sangat lelahnya. Sedikit-sedikit aku jongkok sebentar, ngaso sambil bermain-main debu. Lanjut menyapu jika sudah lumayan hilang lelahnya.

Dan pada saat aku jongkok ke sekian kalinya, tepat di bawah jendela, aku lihat ada benda hitam berkilat terselip di siku dinding dan lantai. Sebesar isi pulpen pilot, namun lebih pendek sedikit. Aku dekati perlahan dengan jongkok. Lalu, benda itu berlari! Ah, ular!!! Tapi… Dia berlari! Bukan melata! Dia berkaki! Aku pun langsung teringat film kartun dan cerita-cerita mistis bersama teman-temanku di sekolah.

nagaLangsung aku berjingkat dan melompat-lompat sambil berterteriak, menjerit, “Aaaa…!! Ibuuuukkkk,,, nagaaa!!! Anak nagaaa!!! Ada anak nagaaaa!!! Bayi nagaaaa!!!”

“Opoo.. He?! Opooo?!” Ibuku pun menyusul ke teras rumah, langsung aku berlari kepadanya dan mendekapnya.

“Heee?! Onok opo, ndhuuukk?!” Berbarengan dengan nenek yang berlari dari rumahnya akibat jeritanku.

“Itu.. itu naga! Ular berkaki!!” Kataku sambil menunjuk-nunjuk benda yang sekarang sedang mendepis di ujung teras, di pinggir pot bunga.

“Mana seh?” Nenek pun sigap mencari.

“Itu… ituuu.. hiyyy.. di bawah pooot..bunuuuhhh,” seingatku naga adalah makhluk yang paling ganas dan berbahaya, dia bisa menyemburkan api, keberadaannya mengancam umat manusia.

“Oooo…. tobil ikuuu…. hwahahahhaa.. ojoo.. biar hidup, jangan dibunuh,” kata nenek sambil tertawa kecil.

“Hooalah..,” ibu pun mendengus.

“Nagaaaa… Tobil? Apa itu tobil?”

“Anak kadal.. ya begitu anak kadal, bentuknya ya begitu itu,” jawab nenek.

“Bukan naga!” Perjelas ibu.

“Nggak ada naga di dunia ini. Itu hanya bikinan. Hooalah. Bikin heboh saja. Sana! Lanjut nyapu!” lanjut ibu dengan melepaskan dekapanku dan berjalan menuju kepada nenek. Mereka pun lanjut berbincang-bincang urusan lain. Dan aku melanjutkan tugasku lagi yang baru separuh beres sambil memperhatikan benda tadi yang akhirnya berlari dan bersembunyi di antara rumput-rumput.

“Dia bukan tobil! Bukan anak kadal! Dia naga! Naga kecil! Pasti naga! Nenek dan ibu pasti berbohong biar aku tidak cemas. Pasti. Pasti!! Baiklah, mulai sekarang aku akan berhati-hati, Naga! Aku akan waspada! Aku akan menjaga keluargaku dari seranganmu nanti saat kamu sudah dewasa!” Aku membatin sambil terus menyapu.

* “Oalah, Ik.. Menyapu cuma selebar lidah saja kok susah banget ya disuruh!”

4

Karena Mereka Copet

Malam itu malam rabu.

Aku sedang dalam perjalanan pulang dari perjumpaan dengan kawan seperjuangan.

Kunaiki kendaraan favoritku,

bukan mercy,

bukan ferrari,

bukan pula lamborghini,

cuma bis mini si saudara metromini.

Dialah kopaja bernomor 19, yang sedang melaju ke arah tanah abang.

Penumpang ramai seperti biasa,

hingga kursi terisi penuh.

Kududuk di pinggir jendela,

tepat di sebelah pintu.

“Stasiuun.. Stasiuun..”, sang kenek mengabarkan bahwa sebentar lagi kopaja akan sampai di Stasiun Sudirman.

Banyak penumpang berdiri, ribut, rungsing, sampai-sampai ada yang jaketnya terjatuh di lantai bis.

Jaket terjatuh? Aneh, pikirku awalnya.

Tapi biarlah, mungkin saking kacaunya.

Sang pemilik jaket pun panik dan kesulitan mengambil jaketnya.

Lalu..

“Apaan sih, Pak?!!” Seorang wanita muda membentak seorang laki-laki paruh baya yang berdiri di depannya, sambil memegang erat-erat tasnya.

Dan di saat itu aku pun sadar bahwa wanita itu menginjak jaket yang terjatuh tadi.

Si pemilik jaket berjongkok di belakang wanita itu menarik-narik jaketnya sambil berkata, “ini keinjeekk!”

“Jangan macam-macam ya!!”, wanita muda itu berteriak lagi, kali ini bukan hanya ke lelaki paruh baya di depannya, namun juga ke si pemilik jaket.

Kopaja pun berhenti,

beberapa yang berdiri turun ke luar si bis mini.

Tidak halnya si pemilik jaket dan  lelaki paruh baya tadi.

Lalu kenapa mereka ikut berdiri?

Masih di dalam kopaja, ingatanku menjalar ke masa lalu. Di mana di dalam kopaja serupa, kusaksikan sebuah kejadian istimewa.

“Blokem..blokem..blokem…” si kenek bersemangat sekali menarik perhatian calon penumpang, yang di siang terik itu tampak berbondong-bondong berlarian menuju kopaja yang kami tumpangi. Kami? Iya, waktu itu aku sedang bepergian bersama kawanku yang cenderung jarang naik angkutan umum di Jakarta.

Sekelompok gadis-gadis muda masuk lewat pintu depan, dan beberapa laki-laki masuk lewat pintu belakang.

“Mas, mas…. Hehe, maap”, seorang laki-laki berbadan gempal sambil meringis menarik-narik sapu tangan dari injakan kaki seorang laki-laki muda berkulit putih yang tampak sedang banyak pikiran hari itu.

Lalu laki-laki muda berkulit putih duduk tepat di sebelahku. Kami duduk di jajaran kursi paling belakang, yang memanjang untuk enam orang penumpang.

pikpoket

Tiba-tiba,

“Mbak, boleh pinjam henpon buat miskol?”, sambil menoleh ke arahku.

“Ah, pasti henpon dia hilang”, gumamku dalam hati.

“Pinjam henpon kamu buat miskol, dong” kataku sambil menoleh ke arah kawanku, karena ponselku sedang mati.

“Berapa nomornya, Mas?”, lalu dia menyebutkan dua belas digit angka sambil dimasukkan oleh kawanku ke dalam kolom panggilannya, dan panggilan pun terhubung.

Terhubung. Artinya masih aktif. Dan kemungkinan besar masih ada di dalam kopaja ini.

Laki-laki muda itu pun berdiri sambil tampak menajamkan pendengarannya. Sedikit demi sedikit dia maju ke depan, melewati kursi-kursi penumpang di depan kami, sambil sesekali melihat kami berdua, yang selanjutnya kami memberikan tanda anggukan yang berarti ponsel dia masih terhubung dengan panggilan dari ponsel kawanku.

Dia tetap maju sedikit, pelan, sambil sedikit menunduk. Dan tiba-tiba,

“Duh, panaaasss!!”, lelaki gempal yang tadi aku lihat sapu tangannya terjatuh, mengeluh kepanasan sambil kipas-kipas.

“Perhatiin laki-laki itu,” kataku pada kawanku, sambil aku arahkan mukaku kepada lelaki gempal yang tampak kepanasan itu, yang sedang ditambahin gerakan geliat yang tak berarti.

Laki-laki muda tadi masih fokus dengan pengamatannya, sambil maju sedikit demi sedikit mendekati kursi lelaki gempal tadi.

“Geraaahhh!” Lelaki gempal itu masih juga mengeluh, kini dia memutar badannya sampai kakinya yang besar itu menutupi celah kursi yang akan dilewati si laki-laki muda yang sedang khidmat dalam pengamatan.

“Kenapa?!! Mau turun?!!” Lelaki gempal malah menoleh, melotot, dan membentak si laki-laki muda ini.

“Eng..enggak.”

Si laki-laki muda pun tampak putus asa, lemas, dan kembali ke sampingku.

“Gak nemu, Mas?” Tanyaku, dan dijawab dengan gelengan kepala olehnya.

“Sabar ya, Mas”

“Makasih, Mbak”

Dan tak lama kemudian dia turun dari kopaja. Dan penumpang baru pun mengisi kursi di sampingku. Seorang laki-laki berbaju batik.

“Dia nggak sendiri, coba perhatiin, kira-kira temannya siapa aja?” Kataku pada kawanku.

“Ho..”

Dan tak lama seorang bapak-bapak berkumis yang sebaris dengan lelaki gempal tadi menatapku.

“Mak..!” Refleks mulutku berucap.

Bapak-bapak berkumis itu ternyata tidak hanya menatapku saja, dia menatap ke penumpang baru di sebelahku, lalu ke deretan laki-laki yang sebaris dengannya, termasuk lelaki berbadan gempal.

“Masukkan henponmu, simpan erat barang berhargamu, sepertinya bakal seru lagi nih,” kataku lagi pada kawanku.

“Mbaak, aku takuut.” Kawanku tampaknya sangat tertekan.

Seorang laki-laki berbaju batik yang duduk sebaris dengan kami berdiri, tampak akan segera turun.

Dan dengan agak terburu-buru, bapak-bapak berkumis, lelaki gempal, dan dua laki-laki lain yang sebaris dengan mereka berhambur ke arah kami. Lalu mereka memencar, ada yang berdiri di dekat pintu, ada yang meminggir ke dekat jendela tepat di depan kawanku, ada yang berdiri di dekat kursi, dan ada yang duduk di sampingku.

Mereka membuat suara berisik, menimpali suara kenek yang masih tidak bosan memancing perhatian calon penumpang. Lalu aku merasa ada yang menyenggol lengan kiriku, dan kulihat si laki-laki yang tadi sebaris dengan lelaki gempal sedang sibuk mengeluarkan sapu tangan dari saku belakangnya. Lalu meletakkannya di dekat-dekat kaki lelaki berbaju batik.

“Permisi-permisi” sambil menjongkok dia memegang-megang sapu tangannya yang masih ada di lantai itu.

“Gubrakkk!!!” Entah apa yang terjadi, tiba-tiba si lelaki berbaju batik terdorong ke arah belakang dan menabrak jendela di depan kawanku. Suasana jadi ribut.

“Aduhhh…” Teriakku kesakitan, entah kaki siapa yang sudah menginjak jempol kakiku.

“Kiriii!!” Teriak lelaki berbaju batik, dan tak lama kemudian kopaja berhenti. Dia pun turun, keempat laki-laki yang duduk sebaris tadi, kembali ke posisinya semula.

Dan sekali lagi, bapak-bapak berkumis itu melirik ke arahku.

“Mbaak, ayo turuun. Aku takuuut.” Pinta temanku, dan kami pun turun walaupun belum sampai tujuan kami.

Kembali aku dari lamunan,

tiba-tiba sang pemilik jaket sudah duduk di sampingku.

Temannya memilih duduk di depan,

dan kulihat dua-duanya termangu.

“Hari ini dapet berapa, Pak?” sempat kalimat tanya itu ingin aku lontarkan, tapi aku takut berlaku tidak sopan.

Dan aku pun jadi merasa terhenyak karena pikiranku sendiri.

Mereka mungkin sedang ditunggu anak dan istri.

Apakah sebelum pulang dia membeli oleh-oleh dahulu?

Seperti bapakku kalau dia harus pulang malam?

Apakah dia bercerita kepada istrinya tentang peristiwa malam ini terhadap wanita muda bertas tadi?

Seperti bapakku yang cerita kepada ibuku kondisi tempat kerjanya hari ini?

Apakah anaknya bangga terhadap pekerjaannya dan menganggapnya sebagai pahlawannya?

Seperti halnya aku bangga terhadap bapakku?

Kopaja 19 sudah sampai di perhentian terakhir, kami bertiga, aku, sang pemilik jaket dan rekannya, turun dari kopaja berurutan.

Mereka berdua berjalan lebih dulu, dan aku di belakang mereka. Entah mengapa malam itu aku tidak merasa mereka jahat, aku tidak ada keinginan untuk mengutuk-ngutuk mereka, aku hanya berdoa dalam hati agar Sang Kuasa merahmati mereka dan menunjuki mereka jalan yang lurus.

Lalu aku pun berbelok ke arah gang kosku, dan mulai berpikiran,

“Heran, kok mereka tidak memprospekku ya?

Apakah penampilanku secompang-camping itu???”

Huft.

7

Pingki dan Lele

Aku memang berasal dari keluarga sederhana dan aku bersyukur atasnya. Dengan demikian, banyak sekali pengalaman yang bisa dijadikan pelajaran dan pengolah rasa. Susah senang kami sekeluarga lalui bersama dan justru itulah kenikmatan yang tiada terbelikan oleh harta.

Tentang harta, pemasukan kami satu-satunya hanya berasal dari gaji Bapak hasil mengajar di SMP. Gaji guru memang seharusnya bisa dibilang cukup untuk kebutuhan primer sebuah keluarga kecil dengan satu atau dua anak, tetapi berhubung Ibu dan Bapak membangun rumah tangga ini mulai dari nol, jadinya banyak sekali kebutuhan sekunder yang harus dipenuhi untuk memodali keluarga kami.

Ya kita semua tahu, untuk mengadakan rumah saja jaman sekarang sebagian orang memilih melalui kredit bank karena besarnya dana yang dibutuhkan. Walaupun kami tinggal di desa dan dana yang dibutuhkan tidak sebesar di kota, tetap saja tabungan Bapak yang sudah beberapa tahun belum juga bisa untuk membangun sebuah rumah utuh beserta isinya. Bagian rumah utama beserta kamar mandi saja yang dibangun di awal, bagian yang lain beserta isinya menyusul sedikit-sedikit. Beberapa isi lain menggunakan perabot lungsuran dari keluarga Ibu.

Pernah pada suatu malam, lupa saat itu aku sedang berumur berapa, keluargaku sedang dirundung masa yang cukup sulit, banyak kebutuhan yang harus segera dipenuhi. Dan rundungan itu secara langsung tertuju kepada Sang Pengatur Rumah Tangga, yang tak lain dan tak bukan adalah Ibu.

“Mau makan apa keluargaku malam ini? Cuma ada nasi, cabai, kecap dan garam.”

“ Ya Allah, mosok aku ngasih makan makanan yang nggak sehat ke keluargaku?”

Bicara sendiri Ibu malam itu di belakang rumah, duduk di depan pintu dapur yang baru saja selesai dibangun. Lalu merenung.

Ibu menurutku adalah sesosok wanita Jawa tulen yang berhati lembut, sangat setia kepada suami, dan legowo serta nerimo terhadap takdir yang telah dituliskan oleh Sang Gusti. Tak pernah sedikit pun merengek ataupun marah atas kesulitan-kesulitan yang melanda, beda sekali dengan anak-anaknya. Tak jua protes menyalahkan Bapak, Sang Pemimpin Rumah Tangga, dengan kondisi kekurangan ini. Yang Ibu lakukan adalah mengatur segala yang ada, segala yang dipunyai, untuk menghidupi keluarga dengan sebaik mungkin, lalu bersyukur dan berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar segala yang diaturnya tepat dan bermohon untuk ke depan agar ditunjuki jalan yang terbaik dan kemudahan.

Di akhir renungannya, matanya yang sedikit berair itu menatap langit malam yang cerah bertabur bintang, selanjutnya diperhatikannya jalan masuk ke rumah yang sepi. Bapak belum pulang, aku sedang belajar di ruang tamu, dan Ibu pun sadar di situ dia tak seorang diri, ada Pingki, kucing betina milik keluarga yang sepertinya sedari tadi sudah duduk diam di sebelah kaki Ibu.

“Ah kucing ini juga belum makan. Cari tikus sendiri aja ya, Ping, aku gak ada lauk buatmu,” yang diajak bicara tidak menyahut.

Akhirnya Ibu memutuskan untuk menggoreng nasi saja. Yah, walaupun kurang sehat yang penting ada rasanya.

Ibu pun bergegas ke dapur untuk menyiapkan bumbu-bumbu. Cabai, kecap, dan garam, syukurlah masih ada sisa bawang buat penambah rasa. Biasanya aku tak mau makan nasi goreng jika tidak ada irisan telur dadar dan mentimun, sedangkan ayam di kandang sedang tidak ada, apalagi telurnya. Ibu pun menitikkan air mata sewaktu memikirkannya. Ya sudahlah, kalau lapar pasti juga makanan apa saja bisa masuk.

Saat Ibu sedang sibuk menguleg bumbu, tiba-tiba Ibu mendengar suara Pingki, tidak mengeong seperti biasa, seakan mulutnya sedang tersumpal sesuatu. Ibu melongok lewat pintu, dilihatnya Pingki setengah berlari menuju dapur dengan membawa sesuatu yang cukup besar di mulutnya. Sesampai Pingki di depan Ibu, diletakkannya benda itu di lantai, lalu mengeong sambil menatap Ibu. Ibu pun jongkok memastikan benda apakah itu sambil masih terheran. Itu adalah seekor ikan! Ikan mentah, ikan lele yang cukup besar, masih segar dan utuh!

“Ping!”

“Dapat dari mana?!”

“Maling?”

Antara kaget, campur senang, campur bingung, Ibu langsung menangis sambil mengelus-elus kepala Pingki dan berterima kasih kepadanya. Hanya sedikit perasaan bersalah waktu itu, khawatir ikan tersebut ikan curian.

Ragu sebenarnya, tapi ya sudahlah, dianggap ini adalah rejeki dari Gusti Allah, toh Ibu tak tahu pasti apakah Pingki mencuri atau tidak. Lagian di kampung ini tidak ada kolam lele yang bisa dicuri. Kalaupun ada, orang biasa membeli lele pagi-pagi, aneh saja sampai semalam itu belum diolah. Juga kalau ingin menanyai tetangga satu per satu siapa yang kehilangan ikan lele juga semakin ribet. Kalaupun ada juga, apakah ada kewajiban pemilik binatang peliharaan untuk mempertanggungjawabkan kejahatan yang dilakukan oleh binatangnya di luar kuasa sang pemilik? Ibu belum pernah mengenal hukum semacam itu.

Dan anehnya lagi, kalau Pingki mencuri kenapa tidak saja dihabiskan dimakan oleh dirinya sendiri? Kenapa harus dibawa pulang dalam keadaan segar dan utuh? Diletakkan begitu saja di depan Ibu sambil mengeong menatap Ibu? Jadilah semakin membenarkan kalau si ikan lele ini adalah benar-benar rejeki dari Allah, jawaban dari permohonan Ibu.

Dengan bahagia Ibu mengambil dan mencuci lele lalu menghadiahkan sepotong kepala lele kepada Pingki. Kucing itu pun makan dengan lahap dan tampak gembira. Bagian ikan lainnya dipotong jadi dua lalu digoreng setelah digarami, untuk Bapak dan aku. Ibu sendiri makan nasi saja dengan melihat keluarga makan enak sudah sangat nikmat untuknya.

Kisah ini diceritakan padaku saat aku sudah usia dewasa, diceritakan oleh Ibu secara canda, dengan tema Pingki, si Kucing Ajaib yang bisa mengerti perkataan majikannya. Kenangan itu menjadi kenangan yang sangat indah baginya. Sedangkan buatku, cerita itu harusnya menjadi semangat hidup dan semangat untuk menambah bhaktiku padanya.

0

Mimpi Jadi Nyata

Yeah, sesuai dengan judul, itulah yang terjadi pada saya hari ini. Walopun judul seakan-akan menunjukkan sesuatu yang membahagiakan, menggembirakan, tapi kenyataannya tidaklah seperti itu. Hiks. Oya, itu judul maknanya denotasi ya, bukan majas. Jadi tidak usah repot-repot berprasangka baik kalau cita-cita saya tercapai atau saya sukses mengejar harapan, atau semacamnya. :mrgreen:

Jadi gini ceritanya, sudah dua minggu ini si mejikom saya yang seringkali saya pakai masak nasi itu rusak. Bocor deh kayaknya. Nasi matengnya rasanya nggak enak, trus kalo dipakai masak tiba-tiba ada air netes dari bagian bawahnya. Maka dari itulah saya bertekad gak make mejikom ini lagi, ntar pas tanggal muda aja beli baru (ini masih tanggal muda padahal -__-).

Ntah kenapa ya, apa baru kepikiran sekarang atau gimana, tadi malem itu saya kok mimpiin ini mejikom. Di mimpi itu saya seakan terpaksa harus memasak pake mejikom ini. Masak mie instan. Padahal saya gak terlalu suka masak mie instan pake mejikom, mendingan di kompor di dapur lantai bawah. Lagian si mejikom juga lagi eror. Ntar bisa-bisa bocor dan harus ngebersihin air bocorannya. Tambah ribet lah. Tapi entah kenapa di mimpi itu ada yang gak ngebolehin saya masak di tempat selain mejikom. Heu..

Nah, hari ini kan hari Sabtu, libur kerja. Saya berencana ga sarapan, lagian bangunnya siang juga gara-gara malemnya begadang. Mau makan siang di luar aja sekalian mau jalan-jalan, tapi sebelumnya mau nyuci dan ngijah lain-lain.

Setelah ngijah dan nyuci beres, harusnya kan mandi. Eh tapi kenapa kok laper banget. Laaaaperrrrrrrrrrrrr bangettttt. Ya udah deh, ini sebelum mandi mau ganjal perut dulu pake mi instan. OK, sambil bawa sebungkus mi rasa soto sama mangkuk sendok garpu, melajulah saya ke dapur.

Oya saya belum cerita. Kosan saya ini aneh. Masa ya kamar saya ini terpisah kosan sebenarnya. Jadi semacam ada dua gedung, gedung kosan sebenarnya, yang di sana terdapat dapur beserta perabotnya, dan gedung yang ada kamar sayanya. Dan saya kalau keluar masuk itu harus lewat gedung kosan sebenarnya, yang sebelumnya harus melewati area cuci-jemur. Ribet deh. Apalagi gedung kosan sebenarnya itu sering dikunci. 😡

Ini penampakan pintu gedung kosan sebenarnya dari pintu gedung kosan yang berisi kamar saya. Rrrr

Naaaahhh, hari ini nihh…pas saya sedang melaju dengan ceria menuju ke dapur, ngebayangin ntar masak mie rasa soto plus telor dan sayuran-sayuran yang ada di kulkas, saya tersadar, kalau pintu kosan sebenarnya sedang terkunci rapat dan tidak ada orang di sebrang sana. Zzzz… Punahlah sudah harapan saya untuk makan mie rasa soto dengan bermacam-macam topping itu. Begitu juga harapan saya buat keluar jalan-jalan, ikut punah. Hiks.

Dengan putus asa dan kelaparan saya kembali ke kamar. Nyari sisa-sisa kue kok ya habis. Lapar. Ga ada pilihan lain, daripada saya mati kelaparan, saya masak mie instan pake mejikom aja. Dan benarlah adanya mimpi saya semalem jadi kenyataan. Akhirnya saya ambil mie instan goreng aja, soalnya kalo mi kuah masaknya ribet, harus dua kali rebus air biar lilin di mienya ilang.

Yah, sedih sih, tidak sesuai harapan, tapi tetep Alhamdulillaah..masih bisa makan, lumayan enak kok, dan ga mati kelaparan. Hehe. 😆

Piring Sendok Garpu Jadi Saksi

Satu lagi masalah, sampai sekarang saya terjebak di kosan, gak bisa keluar. Makanya ngeblog. 😥