Pada Suatu Malam

Sudah sejak tadi adzan berkumandang, namun aku belum sempat juga menunaikan kewajiban shalatku. Hari ini rungsing, rusuh, ripuh. Banyak tuntutan, banyak kebutuhan, banyak juga celaan.

Kulihat tempat ini masih saja ramai, dan belum kulihat pula ada yang menunaikan shalat. Kugelar sajadah, lalu kuangkat takbirku.

Gerakan demi gerakan, rakaat demi rakaat, sampai pada akhirnya pada posisi berdiri berikutnya, ada yang mendorong punggungku ke depan. Terdorong kuat dan aku pun berusaha keras untuk menahan agar aku tidak terjelungup ke depan. 

Dorongan itu semakin lama semakin kuat. Aku berusaha keras untuk bertahan pada shalatku. Kujalani rukun demi rukun dengan susah payah. Sampai akhirnya aku berhasil mencapai salam.

Segera kutengok siapa yang mendorongku, siapa yang mengganggu shalatku. Dua orang lelaki meringis berkata, “Kiblatmu salah, aku dari tadi berusaha memberitahumu. Kiblat itu ke sana,” sembari menunjuk ke arah yang berlawanan arah shalatku.

Aku sebenarnya ragu, apakah sudah cukup saja shalatku atau perlu aku ulangi lagi.

Aku juga sebenarnya geram, mengapa mereka memberitahuku dengan cara begitu? Patutkah itu? Tidakkah ada cara yang lebih baik dan benar dari itu?

Aku pun pergi, dan masih ragu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s