Hujan, Dingin

Hujan di luar..

Dingin..

Malam..

Dingin begini..

Di tengah kota sana, seseorang lebih memilih untuk dirinya tenggelam dalam selimut mimpi.

“Hangat..,” ujarnya, “tak akan kubuat hujan di mimpi..,” lanjutnya, “bahkan kau tak perlu keluar,” tutupnya.

Besok tak dirinya pikirkan, sesalkah lewatkan hujan semalam? Atau barangkali tak mau kah ia bangun dari mimpi?

Tak begitu jauh darinya, seorang perempuan sedang menatapi jendela. Menunjuki butir-butir air yang menitiki kaca.

Rasanya di setiap butiran, termainkan kilasan cerita-cerita. Masa lalu lama, masa-masa kemarin, hingga kisah-kisah bahagia khayalan untuk masa tuanya.

Senyum tersungging, ada kisah perpisahan di salah satu butir air itu.

Perpisahan yang dingin. Sedingin malam itu, yang dilantuni oleh ricik hujan pembikin semakin pilu.

“Ibu.. Aku lapar..,” suara kecil itu ikut menyelip di sela-sela gemericik. 

“Sabar ya, Nak.. Mungkin besok..,” ujarnya dengan senyum yang masih sama.

Anak itu mengerti, lalu dia memilih dirinya untuk tenggelam dalam selimut mimpi.

Dingin..

Masih hujan.. Semakin deras..

Semakin dingin..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s