Karena Mereka Copet

Malam itu malam rabu.

Aku sedang dalam perjalanan pulang dari perjumpaan dengan kawan seperjuangan.

Kunaiki kendaraan favoritku,

bukan mercy,

bukan ferrari,

bukan pula lamborghini,

cuma bis mini si saudara metromini.

Dialah kopaja bernomor 19, yang sedang melaju ke arah tanah abang.

Penumpang ramai seperti biasa,

hingga kursi terisi penuh.

Kududuk di pinggir jendela,

tepat di sebelah pintu.

“Stasiuun.. Stasiuun..”, sang kenek mengabarkan bahwa sebentar lagi kopaja akan sampai di Stasiun Sudirman.

Banyak penumpang berdiri, ribut, rungsing, sampai-sampai ada yang jaketnya terjatuh di lantai bis.

Jaket terjatuh? Aneh, pikirku awalnya.

Tapi biarlah, mungkin saking kacaunya.

Sang pemilik jaket pun panik dan kesulitan mengambil jaketnya.

Lalu..

“Apaan sih, Pak?!!” Seorang wanita muda membentak seorang laki-laki paruh baya yang berdiri di depannya, sambil memegang erat-erat tasnya.

Dan di saat itu aku pun sadar bahwa wanita itu menginjak jaket yang terjatuh tadi.

Si pemilik jaket berjongkok di belakang wanita itu menarik-narik jaketnya sambil berkata, “ini keinjeekk!”

“Jangan macam-macam ya!!”, wanita muda itu berteriak lagi, kali ini bukan hanya ke lelaki paruh baya di depannya, namun juga ke si pemilik jaket.

Kopaja pun berhenti,

beberapa yang berdiri turun ke luar si bis mini.

Tidak halnya si pemilik jaket dan  lelaki paruh baya tadi.

Lalu kenapa mereka ikut berdiri?

Masih di dalam kopaja, ingatanku menjalar ke masa lalu. Di mana di dalam kopaja serupa, kusaksikan sebuah kejadian istimewa.

“Blokem..blokem..blokem…” si kenek bersemangat sekali menarik perhatian calon penumpang, yang di siang terik itu tampak berbondong-bondong berlarian menuju kopaja yang kami tumpangi. Kami? Iya, waktu itu aku sedang bepergian bersama kawanku yang cenderung jarang naik angkutan umum di Jakarta.

Sekelompok gadis-gadis muda masuk lewat pintu depan, dan beberapa laki-laki masuk lewat pintu belakang.

“Mas, mas…. Hehe, maap”, seorang laki-laki berbadan gempal sambil meringis menarik-narik sapu tangan dari injakan kaki seorang laki-laki muda berkulit putih yang tampak sedang banyak pikiran hari itu.

Lalu laki-laki muda berkulit putih duduk tepat di sebelahku. Kami duduk di jajaran kursi paling belakang, yang memanjang untuk enam orang penumpang.

pikpoket

Tiba-tiba,

“Mbak, boleh pinjam henpon buat miskol?”, sambil menoleh ke arahku.

“Ah, pasti henpon dia hilang”, gumamku dalam hati.

“Pinjam henpon kamu buat miskol, dong” kataku sambil menoleh ke arah kawanku, karena ponselku sedang mati.

“Berapa nomornya, Mas?”, lalu dia menyebutkan dua belas digit angka sambil dimasukkan oleh kawanku ke dalam kolom panggilannya, dan panggilan pun terhubung.

Terhubung. Artinya masih aktif. Dan kemungkinan besar masih ada di dalam kopaja ini.

Laki-laki muda itu pun berdiri sambil tampak menajamkan pendengarannya. Sedikit demi sedikit dia maju ke depan, melewati kursi-kursi penumpang di depan kami, sambil sesekali melihat kami berdua, yang selanjutnya kami memberikan tanda anggukan yang berarti ponsel dia masih terhubung dengan panggilan dari ponsel kawanku.

Dia tetap maju sedikit, pelan, sambil sedikit menunduk. Dan tiba-tiba,

“Duh, panaaasss!!”, lelaki gempal yang tadi aku lihat sapu tangannya terjatuh, mengeluh kepanasan sambil kipas-kipas.

“Perhatiin laki-laki itu,” kataku pada kawanku, sambil aku arahkan mukaku kepada lelaki gempal yang tampak kepanasan itu, yang sedang ditambahin gerakan geliat yang tak berarti.

Laki-laki muda tadi masih fokus dengan pengamatannya, sambil maju sedikit demi sedikit mendekati kursi lelaki gempal tadi.

“Geraaahhh!” Lelaki gempal itu masih juga mengeluh, kini dia memutar badannya sampai kakinya yang besar itu menutupi celah kursi yang akan dilewati si laki-laki muda yang sedang khidmat dalam pengamatan.

“Kenapa?!! Mau turun?!!” Lelaki gempal malah menoleh, melotot, dan membentak si laki-laki muda ini.

“Eng..enggak.”

Si laki-laki muda pun tampak putus asa, lemas, dan kembali ke sampingku.

“Gak nemu, Mas?” Tanyaku, dan dijawab dengan gelengan kepala olehnya.

“Sabar ya, Mas”

“Makasih, Mbak”

Dan tak lama kemudian dia turun dari kopaja. Dan penumpang baru pun mengisi kursi di sampingku. Seorang laki-laki berbaju batik.

“Dia nggak sendiri, coba perhatiin, kira-kira temannya siapa aja?” Kataku pada kawanku.

“Ho..”

Dan tak lama seorang bapak-bapak berkumis yang sebaris dengan lelaki gempal tadi menatapku.

“Mak..!” Refleks mulutku berucap.

Bapak-bapak berkumis itu ternyata tidak hanya menatapku saja, dia menatap ke penumpang baru di sebelahku, lalu ke deretan laki-laki yang sebaris dengannya, termasuk lelaki berbadan gempal.

“Masukkan henponmu, simpan erat barang berhargamu, sepertinya bakal seru lagi nih,” kataku lagi pada kawanku.

“Mbaak, aku takuut.” Kawanku tampaknya sangat tertekan.

Seorang laki-laki berbaju batik yang duduk sebaris dengan kami berdiri, tampak akan segera turun.

Dan dengan agak terburu-buru, bapak-bapak berkumis, lelaki gempal, dan dua laki-laki lain yang sebaris dengan mereka berhambur ke arah kami. Lalu mereka memencar, ada yang berdiri di dekat pintu, ada yang meminggir ke dekat jendela tepat di depan kawanku, ada yang berdiri di dekat kursi, dan ada yang duduk di sampingku.

Mereka membuat suara berisik, menimpali suara kenek yang masih tidak bosan memancing perhatian calon penumpang. Lalu aku merasa ada yang menyenggol lengan kiriku, dan kulihat si laki-laki yang tadi sebaris dengan lelaki gempal sedang sibuk mengeluarkan sapu tangan dari saku belakangnya. Lalu meletakkannya di dekat-dekat kaki lelaki berbaju batik.

“Permisi-permisi” sambil menjongkok dia memegang-megang sapu tangannya yang masih ada di lantai itu.

“Gubrakkk!!!” Entah apa yang terjadi, tiba-tiba si lelaki berbaju batik terdorong ke arah belakang dan menabrak jendela di depan kawanku. Suasana jadi ribut.

“Aduhhh…” Teriakku kesakitan, entah kaki siapa yang sudah menginjak jempol kakiku.

“Kiriii!!” Teriak lelaki berbaju batik, dan tak lama kemudian kopaja berhenti. Dia pun turun, keempat laki-laki yang duduk sebaris tadi, kembali ke posisinya semula.

Dan sekali lagi, bapak-bapak berkumis itu melirik ke arahku.

“Mbaak, ayo turuun. Aku takuuut.” Pinta temanku, dan kami pun turun walaupun belum sampai tujuan kami.

Kembali aku dari lamunan,

tiba-tiba sang pemilik jaket sudah duduk di sampingku.

Temannya memilih duduk di depan,

dan kulihat dua-duanya termangu.

“Hari ini dapet berapa, Pak?” sempat kalimat tanya itu ingin aku lontarkan, tapi aku takut berlaku tidak sopan.

Dan aku pun jadi merasa terhenyak karena pikiranku sendiri.

Mereka mungkin sedang ditunggu anak dan istri.

Apakah sebelum pulang dia membeli oleh-oleh dahulu?

Seperti bapakku kalau dia harus pulang malam?

Apakah dia bercerita kepada istrinya tentang peristiwa malam ini terhadap wanita muda bertas tadi?

Seperti bapakku yang cerita kepada ibuku kondisi tempat kerjanya hari ini?

Apakah anaknya bangga terhadap pekerjaannya dan menganggapnya sebagai pahlawannya?

Seperti halnya aku bangga terhadap bapakku?

Kopaja 19 sudah sampai di perhentian terakhir, kami bertiga, aku, sang pemilik jaket dan rekannya, turun dari kopaja berurutan.

Mereka berdua berjalan lebih dulu, dan aku di belakang mereka. Entah mengapa malam itu aku tidak merasa mereka jahat, aku tidak ada keinginan untuk mengutuk-ngutuk mereka, aku hanya berdoa dalam hati agar Sang Kuasa merahmati mereka dan menunjuki mereka jalan yang lurus.

Lalu aku pun berbelok ke arah gang kosku, dan mulai berpikiran,

“Heran, kok mereka tidak memprospekku ya?

Apakah penampilanku secompang-camping itu???”

Huft.

Iklan

4 thoughts on “Karena Mereka Copet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s