Jaket Merah

Aku begitu miskin, sehingga untuk membeli sepotong jaket itu saja aku harus menabung selama tiga bulan, jaket merah berkupluk yang ada di sebuah toko baju di pusat perbelanjaan di kota itu. Hari ini sudah genap tabunganku untuk membelinya.

“Nanti pulang mampir dulu beli jaket ya!”

Aku ingat jaket itu terpajang di lantai tiga.

“Aku mau ke atas, kamu nunggu di mana?”

“Aku mau makan, lapar.”

“Oke, nanti janji ketemu di toko kaset ya!”

Aku sebenarnya khawatir jaket itu sudah tidak ada di tempat semula, karena sudah sejak tiga bulan lalu aku melihatnya. Jangan-jangan sudah terbeli orang, atau jangan-jangan sudah diganti dengan stok yang baru-baru.

Tapi syukurlah, jaket itu masih ada.

Ah, di keranjang itu ada baju diskon!

Aku masukkan si jaket merah ke keranjang belanjaanku, lalu aku melihat-lihat dulu baju yang seperti apa saja yang didiskon. Aku tidak berniat membeli, hanya melihat-lihat, karena aku sadar aku begitu miskin.

Baju-bajunya sangat menarik. Celana-celananya juga sangat lucu lucu. Ah, aku hanya punya sedikit celana. Sudah ah, lain kali saja.

Aku ingin jalan-jalan sebentar ke sisi lain, walaupun tidak membeli, aku suka melihat-lihat barang-barang bagus. Berkhayal untuk memiliki dan memakainya saja sudah membuatku tersenyum-senyum sendiri, intinya aku bisa cukup bahagia dengan begitu saja.

Lagipula, dia masih makan. Makan membutuhkan waktu yang lama, pikirku.

Setelah aku puas dengan menyenangkan diriku sendiri di toko baju itu, aku pun membayar untuk si jaket merah dan langsung menuju ke toko kaset.

Nah kan, dia belum datang. Dia makan lama sekali. Tak masalah, aku suka menunggu jika di tempat menyenangkan. Aku bisa melihat-lihat dan turut mendengar lagu-lagu apa saja yang terbaru.

“Aku udah di toko kaset”, bunyi smsku padanya.

Ah, kaset ini! Grup band ini ada album baru! Aku harus menabung lagi agar bulan depan bisa membelikan untuk dia. Aku ambil kaset itu dari raknya

“Ka!!!”

“Eh, ini.. Album baru..”

“Sini!!!”

Dia menarik tangan kiriku, tangan kananku meletakkan kembali kaset ke posisi semula dengan sedikit melempar. Dia menyeretku kasar ke luar toko kaset. Aku lihat wajahnya bersungut-sungut.

“Kenapa sih?”

Dia tidak berkata-kata, hanya tetap menggeretku sambil berjalan cepat menuruni eskalator yang sedang berjalan. Langkah kakiku pun jadi mengikuti kecepatan langkah kakinya. Hingga akhirnya ke tempat parkir, ke motornya yang sedang diparkirkan.

Dengan kasar pula dia memakaikan helm di kepalaku. Dia kasar, tapi tidak. Maksutku, kekasaran dia hanya sebuah kepura-puraan. Dia hanya ingin menunjukkan kekasaran, tapi sebenarnya dia tidak kasar. Dia memang sering begitu.

“Kenapa sih?!”

“Buruan naik!!”

Aku pun menaiki motor menyamping.

“Bwahahahha!!”

“Hah? Kamu kenapa sih?!”

Dia berhenti tertawa karena kami melewati penjaga parkir, lalu aku keluarkan tiket dan uang parkir.

“Bwahahahhaahahaha!!”

Tawanya menggema di dinding-dinding lorong keluar parkir yang memanjang itu seiring lajuan motornya.

“Kamu sih!! Hahahhaha”

“Apa? Kamu kenapa?”

“Aku cemburu. Hahahahhaha”

“Ha? Maksudnya?”

Kami sudah berada di jalan raya, terik, ramai, dan kami berbicara sambil saling berteriak.

“Kamu pakai rok bagus, sepatu bagus, tampak manis, aku pikir kamu memperalatku saja hari ini, hahahhahaha.”

“Hah?”

“Aku udah berpikir buruk sejak pagi, hahaha”

“Maksutnya? Nggak ngerti!”

Kami masih saling teriak di keterikan itu. Sambil aku terheran-heran, aku tak mengerti sama sekali apa yang dia bicarakan. Cemburu? Rok bagus? Sepatu bagus? Iya sih, sepatuku baru, cantik memang, baru pertama aku punya yang semacam ini. Putih berjaring-jaring. Bapakku yang membelikan. Lalu mengapa?

“Aku tadi sudah di toko kaset. Kamu nggak dateng-dateng.”

“Oh”

“Aku pikir kamu kencan dengan orang lain”

“Hah? Kok bisa kamu mikir gitu?”

“Iya, itu, karena sepatu dan rokmu. Ahhahahha”

“Oh, jadi kamu berpikir aku sengaja mengajakmu ke sini untuk mengantarku kencan dan aku sengaja menutupinya darimu biar kamu mau mengantarku, begitu?”

“Iya, hahahhaha”

“Haish..”

“Dan aku tadi udah sampai tempat parkir, mau pulang, tapi kamu sms. Hahahaha”

“Ya kenapa dari tadi nggak nanya aku masih di mana?”

“Gengsi. Hahahaha”

“Ah!”

“Hahahahah”

Mengherankan sekali cara berpikirnya, padahal dia kenal aku sudah sejak lama. Dan dia pun masih terus menerus mengakak sepanjang perjalanan. Itu juga membuat aku heran. Dia sedang bahagia atau sedang menertawakan kebodohan dia sendiri?

Ah, yang penting aku sudah punya si jaket merah bagus ini.

Iklan

8 thoughts on “Jaket Merah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s