2

Gina

Gina namanya. Dulu, setiap sore kulihat dia bersepeda mini melintasi depan rumahku. 

Dandanannya menor. Lipstik oranye terang, eyeshadow warna warni, alis tipis setengah lingkaran, rambut keriting berbando, adalah dandanan khasnya. Bajunya tiap hari rapi dan hampir selalu memakai rok mini.

Jika disapa, “Mbak Gina..” selalu dia balas dengan lemah lembut manja dengan kata : “Daleem…” sambil tersenyum meringis, yang menurutku itu bukan lagi manis, tapi mengiris.

Sejak dulu aku selalu tertarik dengan profil si Gina ini karena dia berpenampilan dan bersikap terlalu berbeda, namun aku selalu merasa kurang puas dengan jawaban orang-orang yang sudah kutanyai.

Tidak jelas umurnya berapa, memang sudah keriput tetapi sulit untuk diterka karena dempulan bedak yang begitu tebalnya.

Hampir semua bilang rumahnya di gang sebelah, tetapi kurang tahu tepatnya rumah yang sebelah mana.

Ada yang bilang dia gila, ada yang bilang dia biasa saja cuma terlalu menor saja. Ada yang bilang dia bersepeda mini itu berkali-kali mengitari desa. Ada yang bilang dia pernah melihatnya ada di desa tetangga. 

Sehingga, untuk sementara itu, aku menyimpulkan sendiri bahwa Gina adalah sosok wanita kurang waras yang sering bersepeda mini berputar-putat karena tidak punya tujuan yang jelas.

Dan kini, aku yang dewasa, melihatnya lagi melintasi depan rumahku. Dia berhijab. Tetap bersepeda mini sambil berpakaian muslim rapi warna warni. Sempat kupanjatkan syukur. Tapi tak lama setelah itu sedikit hancur setelah mendengar pembicaraan para tetangga laki-laki di pinggir jalan dekat rumah.

“Aku dulu pernah bayar dia seribu buat main ramai-ramai sama anak-anak, di semak-semak di pinggir kali,” kata seseorang di pinggir jalan itu, disambut gelak tawa tiga orang lainnya. 

“Ya main-main doang, dulu waktu SD. Dibayar makanan juga mau dia, mungkin ga dibayar juga mau!” Tawa pun menggelak lagi.

Sampingan
0

Dia teringat dahulu seorang saleh pernah berkata padanya, “Neraka Zabbaniah lebih cepat dimasuki oleh pembaca Al Quran –yang melakukan maksiat kepada Allah SWT– dibandingkan penyembah berhala, saat mereka melakukan maksiat kepada Allah SWT setelah membaca Al Quran!”

Seketika ingatan itu datang, badannya mendadak terhuyung hingga ia tersungkur di lantai. Kakinya melemas. Badannya gemetar, kedinginan. Diambilnya mushaf yang sedang tertelungkup di atas meja kamarnya dengan susah payah, lalu didekapnya erat-erat. Beringsut-ingsut ia ke pojok kamarnya yang remang-remang itu, lalu mendepisnya di situ.

“Astagh..firullaah… As..taghfirul..laaah..,” dengan susah payah ia mengucapkan istighfar, seakan sedang menderita ashma, padahal seingatnya, tidak pernah ia mengidap penyakit itu.

“Astagh..firullaah… Astaghfirullaaah..,” terus tanpa henti mulutnya berkomat-kamit. Sesekali dia menghadap ke langit-langit. Sesekali diciuminya mushaf yang ada di dekapannya itu. Lalu menunduk. Lalu terisak. Sesekali dibuka-bukanya lagi, dibaca-bacanya lagi, padahal ia sadar ini bukan waktu yang tepat mengaji.

Dia sedang takut. Sangat ketakutan. Dia sedang menunggu tapi sebenarnya dia tak mau yang ditunggu itu datang. Dia menyesal sebenar-benarnya menyesal. Dia ingin kembali, tidak peduli apa cerca orang nanti. Tidak peduli jika tidak ada orang yang mau peduli. Tidak peduli lagi jika harus terus berjalan sendiri.

Namun sudah terlanjur, kata-kata sudah meluncur. Dia sudah dengan lantang bilang kepada Tuhan bahwa dia ingin mati, dan sangat mungkin sebentar lagi terjadi.

Baru kali ini dia mengharapkan Tuhan tidak mengabulkan keinginannya.

11

Waspadalah Terhadap Penyakit Anda

Anda sering memaksa orang lain agar sama seperti Anda?

Seolah Anda lebih baik dari mereka?

Anda sering merasa hasil cipta Anda sangat indah, luar biasa, tiada bandingannya?

Seolah Anda seorang berbakat yang layak menduduki jajaran para seniman kelas dunia, namun Anda hanya di sini sambil membanggakan karya bikinan sendiri dan tidak berada pada jajaran mereka?

Di pikiran Anda, Anda begitu cantik, begitu menarik, semua orang suka kepada Anda, mengagumi Anda?

Seolah Anda teristimewa di dunia ini dan tiada duanya?

Menurut Anda, Anda begitu pintar dan menyenangkan, memiliki banyak teman, memiliki sifat-sifat terbaik yang dimiliki manusia?

Seolah Anda manusia yang paling diberkahi di alam semesta ini?

Anda merasa luar biasa seolah Anda benar-benar luar biasa?

“Wahai orang yang patut dikasihani, kamu orang jahat, tetapi menganggap dirimu baik. Kamu itu orang jahil tetapi menganggap dirimu berilmu. Kamu bakhil, tetapi menganggap dirimu dermawan. Umurmu pendek, tetapi angan-anganmu panjang.” – Fudhail bin Iyadh

Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, “Pada zaman Bani Israil dahulu, hidup dua orang laki-laki yang berbeda karakternya. Yang satu suka berbuat dosa dan yang lainnya rajin beribadah. Setiap kali orang yang ahli ibadah ini melihat temannya berbuat dosa, ia menyarankan untuk berhenti dari perbuatan dosanya.

Suatu kali orang yang ahli ibadah berkata lagi, ‘Berhentilah dari berbuat dosa.’ Dia menjawab, ‘Jangan pedulikan aku, terserah Allah akan memperlakukan aku bagaimana. Memangnya engkau diutus Allah untuk mengawasi apa yang aku lakukan.’ 

Laki-laki ahli ibadah itu menimpali, ‘Demi Allah, dosamu tidak akan diampuni oleh-Nya atau kamu tidak mungkin dimasukkan ke dalam surga Allah.’

Kemudian Allah mencabut nyawa kedua orang itu dan mengumpulkan keduanya di hadapan Allah Rabbul’Alamin. Allah ta’ala berfirman kepada lelaki ahli ibadah, ‘Apakah kamu lebih mengetahui daripada Aku? Ataukah kamu dapat merubah apa yang telah berada dalam kekuasaan tanganKu.’ 

Kemudian kepada ahli maksiat Allah berfirman, ‘Masuklah kamu ke dalam surga berkat rahmat-Ku.’ 

Sementara kepada ahli ibadah dikatakan, ‘Masukkan orang ini ke neraka’.”

(HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Mubarak dalam Az-Zuhd, dan Ibnu Abi Dunya dalam Husn Az-Zhan, dan Al-Baghawi Syrah As-Sunnah) 

Jika Anda mengalami atau mirip dengan salah satu atau beberapa fenomena di atas, waspadalah! Anda mungkin mengidap efek Dunning-Kruger.

Astaghfirullaahaladziim

😦

2

Tobil

Menyapu teras rumah dua kali dalam sehari adalah tugas wajibku dari ibu. Walaupun si teras masih juga dalam keadaan bersih. Dan, setiap kali ada ayamku yang bermain di teras dan mengotorinya, tugasku jugalah untuk membersihkannya.

Aku sering beradu mulut dengan ibuku karena merasa ini tidak adil. Katanya aturan teras yang masih bersih tetap harus disapu karena tugasku itu menyapu dua kali dalam sehari, tetapi semena-mena lagi tugasku bertambah jika ayam-ayam mengotori teras itu lagi dan itu menjadikannya lebih dari dua kali dalam sehari. Di sinilah kasih sayangku kepada ayam-ayamku menjadi pudar dan ingin rasanya menyembelih mereka semua satu per satu.

Setiap beradu mulut, selalu saja diakhiri dengan, “Oalah, Ik.. Nyapu sak ilat ae kok yo angel erraammmm men dikongkon!“* Lalu aku pun diam, kalah adu, takut durhaka.

Pagi itu aku lupa menyapu, dan kewajibanku mengganti menyapu di siang hari, yang panas, yang berdebu, yang membuatku merasa sapu yang aku pegang seperti satu ton saja, membuatku menyapu dalam keadaan terseok-seok. Malasssss.

Sepertinya kemalasanku ini terbaca oleh ibuku yang ternyata sedang mengintip dari dalam rumah melalui jendela, “Mangkanyaaa, nyapu itu di pagi hari, biar masih seger, nggak berdebu, nggak panas.” Aku diam saja sambil melanjutkan kegiatan persapuanku.

Baru saja separuh bagian teras tersapu, aku sudah merasa luar biasa sangat lelahnya. Sedikit-sedikit aku jongkok sebentar, ngaso sambil bermain-main debu. Lanjut menyapu jika sudah lumayan hilang lelahnya.

Dan pada saat aku jongkok ke sekian kalinya, tepat di bawah jendela, aku lihat ada benda hitam berkilat terselip di siku dinding dan lantai. Sebesar isi pulpen pilot, namun lebih pendek sedikit. Aku dekati perlahan dengan jongkok. Lalu, benda itu berlari! Ah, ular!!! Tapi… Dia berlari! Bukan melata! Dia berkaki! Aku pun langsung teringat film kartun dan cerita-cerita mistis bersama teman-temanku di sekolah.

nagaLangsung aku berjingkat dan melompat-lompat sambil berterteriak, menjerit, “Aaaa…!! Ibuuuukkkk,,, nagaaa!!! Anak nagaaa!!! Ada anak nagaaaa!!! Bayi nagaaaa!!!”

“Opoo.. He?! Opooo?!” Ibuku pun menyusul ke teras rumah, langsung aku berlari kepadanya dan mendekapnya.

“Heee?! Onok opo, ndhuuukk?!” Berbarengan dengan nenek yang berlari dari rumahnya akibat jeritanku.

“Itu.. itu naga! Ular berkaki!!” Kataku sambil menunjuk-nunjuk benda yang sekarang sedang mendepis di ujung teras, di pinggir pot bunga.

“Mana seh?” Nenek pun sigap mencari.

“Itu… ituuu.. hiyyy.. di bawah pooot..bunuuuhhh,” seingatku naga adalah makhluk yang paling ganas dan berbahaya, dia bisa menyemburkan api, keberadaannya mengancam umat manusia.

“Oooo…. tobil ikuuu…. hwahahahhaa.. ojoo.. biar hidup, jangan dibunuh,” kata nenek sambil tertawa kecil.

“Hooalah..,” ibu pun mendengus.

“Nagaaaa… Tobil? Apa itu tobil?”

“Anak kadal.. ya begitu anak kadal, bentuknya ya begitu itu,” jawab nenek.

“Bukan naga!” Perjelas ibu.

“Nggak ada naga di dunia ini. Itu hanya bikinan. Hooalah. Bikin heboh saja. Sana! Lanjut nyapu!” lanjut ibu dengan melepaskan dekapanku dan berjalan menuju kepada nenek. Mereka pun lanjut berbincang-bincang urusan lain. Dan aku melanjutkan tugasku lagi yang baru separuh beres sambil memperhatikan benda tadi yang akhirnya berlari dan bersembunyi di antara rumput-rumput.

“Dia bukan tobil! Bukan anak kadal! Dia naga! Naga kecil! Pasti naga! Nenek dan ibu pasti berbohong biar aku tidak cemas. Pasti. Pasti!! Baiklah, mulai sekarang aku akan berhati-hati, Naga! Aku akan waspada! Aku akan menjaga keluargaku dari seranganmu nanti saat kamu sudah dewasa!” Aku membatin sambil terus menyapu.

* “Oalah, Ik.. Menyapu cuma selebar lidah saja kok susah banget ya disuruh!”