Sampingan
0

Alhamdulillaah‘ adalah ucapan terima kasih kepada Allah yang sering kita ucapkan di saat kita sedang dikaruniai kebahagiaan, sedang melihat keindahan, sedang merasakan kenikmatan dan kesenangan. Tak banyak yang tahu kalau dalam bahasa Arab sendiri, kata Alhamdu : berasal dari kata hamd, yang sesungguhnya memiliki arti gabungan dari dua kata, yaitu mahd (puji) yang artinya menyebut kelebihan orang karena orang itu telah melakukan suatu keuntungan dan kebahagiaan, dan syukr (terima kasih), yang artinya sebuah sikap luhur, bukan dengan sekedar ucapan, yang menunjukkan penghargaan terhadap nikmat yang didapat. Di mana kedua kata tersebut berbeda penerapan dalam pemakaiannya.

Misal, saat berjalan-jalan kita melihat seorang anak bayi yang kecil, mungil, lucu, matanya berbinar-binar, lalu kita mendatanginya dan mengucapkan untuknya, “Waahhh lucu sekaliiiii… imut-imuuuut..”, ini adalah sebuah bentuk pujian, mahd. Sedangkan pada situasi ini juga kurang cocok kita memanjatkan syukr, terima kasih, misal, “Terima kasiiih, kamu lucu sekalii” lalu kita memberikan perlakuan baik atau hadiah kepadanya atas kelucuannya tersebut, kurang tepat.

Misal lagi, kita tahu kisah seorang Nabi Ibrahim yang berayahkan seorang pembuat berhala, di mana beliau adalah seorang anak yang dipelihara dan dididik oleh ayahnya sejak kecil, namun tidak sepakat dengan penyembahan berhala tersebut. Dia pun menentang sikap ayah dan kaumnya yang tidak mau mengesakan Allah itu. Namun, Sang Nabi di sini tetap menyatakan sikap syukr kepada ayahnya, beliau tetap berbakti kepada ayahnya, tetap berbuat baik, berterima kasih atas pengorbanan yang diberikan ayahnya untuk membesarkan Sang Nabi. Bahkan, secara pribadi, beliau memohonkan kepada Allah ampunan atas kesalahan-kesalahan ayahnya. Tampaklah di sini Sang Nabi menunjukkan sikap syukr-nya, namun tidak sama sekali dengan sikap mahd-nya, jelas dia tidak memuji perbuatan ayahnya yang tidak terpuji itu.

Jadi, alhamdulillaah, bukan hanya sekedar kata, bukan hanya sekedar diksi untuk menunjukkan kelegaan dan kebahagiaan, tapi dari kata ini diharapkan adanya sebuah pengakuan bahwa Allah lah yang berhak dipuji karena kebagusan perbuatan-Nya, kebesaran nikmat-Nya, kelengkapan kekuasaan-Nya, ketinggian rahmat-Nya, sehingga kita memanfaatkan segala apa yang diberikan oleh Allah kepada kita tersebut untuk menyempurnakan hikmat yang Allah kehendaki, yaitu KETAATAN yang sesuai wadah dan kesanggupannya.

Maka ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan ingat kepadamu, bersyukurlah kepada-Ku , dan janganlah kamu  ingkar kepada-Ku  ( QS. Al Baqarah : 152)

– nyontek ceramah Ust. Nouman Ali Khan dan ditambahin dikit-dikit

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s