Sampingan
0

Pada sebuah pagi, di bawah langit biru berhias awan berarak-arak, burung-burung mendendangkan kicauan riuh ceria. Angin tidak bertiup tapi rasanya sejuk namun hangat. Matahari yang ikut menyapukan sinar lembutnya seakan enggan untuk bergerak menerik, dia seperti mau di situ saja mendamaikan segala yang disorotinya.

Perempuan itu tak sempat merasakan kebahagiaan alam di pagi itu. Dia tampak bersungut sambil membopong sepelukan pakaian kusut pria, lalu melemparkannya ke lantai teras sumur. Gusar sekali tampaknya ia.

“Itu baknya pakai yang hitam sebelah situ, di sini sabunnya,” tukas seorang perempuan paruh baya yang sedari tadi memperhatikan kedatangan perempuan itu.

Lalu si perempuan pun berjongkok sambil menarik sebuah ember hitam. Diraihnya gagang keran hingga keluar air lalu didorongnya si ember hitam sampai si mulut ember menadah air yang mengucur dari keran. Dia terdiam, memandangi air yang mengucur sambil dimain-mainkannya tangannya menadahi air naik-turun.

“Gak enak punya suami!” si perempuan tiba-tiba bicara dengan nada tinggi sambil membanting-bantingkan telapak tangannya ke permukaan air hingga wajahnya basah terkena cipratan air. Dia tahu dia tidak sedang berbicara sendiri, dia tahu di belakangnya ada si perempuan paruh baya yang sedari tadi berada di situ, walaupun entah apa yang dilakukannya dia tidak peduli.

“Ehh, ngaaawurrrr ae!! Pahala thok ikuuuu..!!!” si perempuan paruh baya menyahut kasar, sambil mendatanginya dan melemparkan pada punggungnya sebungkus sabun deterjen.

Iyo, ya?” si perempuan membalas asal sambil memasukkan satu per satu pakaian yang tadi dia bawa ke dalam ember hitam yang sudah hampir penuh dengan air.

Iyooo..!! Bersyukur kamuuu.. Setiap hal, sekecil apapun yang kamu lakukan buat suamimu itu pahalanya besarrr. Luar biasa. Surga! Ojo nggrutu meneh! Sing ikhlas!”

Ngunu, ta?” balasnya dengan asal lagi, sambil memindahkan pakaian-pakaian yang sudah terendam basah ke ember yang lain.

“Yo!”

Asik, hehe..!” tertawa dia kecil-kecil sambil menoleh kepada si perempuan paruh baya, lalu dia menengadah melihat langit. Dan dirasakannya pula lah kebahagiaan dan kedamaian alam pagi itu.

Kini dia pun tersenyum.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s