Sampingan
2

A : Hai..
B : Hm..
A : Udah lama ya?
B : *menunduk, tiba-tiba jadi setengah terisak*
A : *menggeserkan tempat duduknya mendekati si kawannya*
B : *menunduk, terisak, tanpa air mata*

A : Ya..ya.. Aku tahu…
B : Kenapa kamu baru datang? *berkata sambil terisak, menoleh kepada si kawannya* 
A : Dulu, sekarang, atau nanti, apa bedanya? *menoleh pula kepada si kawannya ini dari yang sebelumnya menatap jauh ke arah langit*
B : Terlambat sudah semuanya.. *kembali menunduk*
A : Kamu bicara apa? *dengan pelan mengembalikan pandangannya ke arah langit*

*sunyi selama beberapa detik*

A : Dari dulu aku tak pernah bisa berbuat apa-apa untukmu.. *tetap menatap langit*
B : Tapi kenapa kamu pergi? *tetap menunduk*
A : Ya sama saja aku pergi atau di sini.
B : Tapi tak ada yang lain lagi yang bisa mengerti..
A : Lalu? Kalau aku di sini pun, kamu hanya akan merajuk kepadaku saja, tanpa aku bisa melakukan apa-apa.
B : Tidak.
A : Iya. Kan sudah berulang kali semacam itu?
B : Berbeda. Bahkan aku tidak merajuk kepadamu kamu sudah tahu apa yang harus kamu lakukan.
A : Dan gagal.
B : Sekarang aku yang meminta. Ah..bukan sekarang…
A : Ya, dan kamu pikir akan berbeda cerita jika kamu meminta lebih dulu?
B : Sudah terlambat…
A : Makanya. Sama saja.

*sunyi lagi*

A : Cobalah berbahagia. *sambil perlahan menoleh ke arah si kawan yang sedang menunduk*
A : Bahagia yang sebenarnya. *tersenyum kepada si kawan, walaupun si kawan tertunduk tak melihat senyumannya*
A : Jangan lagi bilang kau tak pantas bahagia.
B : Aku hampir saja bilang begitu. *tetap menunduk*
A : Ah! Aku ragu apakah kamu orang beriman atau bukan. Terimalah takdir, bertawakallah, berjiwa tenanglah, bersyukurlah,
B : Iya, aku juga khawatir.

A : *berdiri*
B : *menatap wajah si kawan* Mau ke mana lagi kamu?
A : Aku ke sini sebenarnya hanya untuk mengatakan kata-kata barusan itu tadi padamu. Sudah kukatakan dan aku akan pergi.
B : Jangan pergi duluuu
A : Semakin lama aku di sini semakin kamu tidak bisa memegang dirimu sendiri. Sadar!
B : Tolong aku.. *merengek sambil bercucuran air mata*
A : Apa? Memangnya kamu kenapa? Tak ada yang salah, tak ada yang perlu kutolong? Kamu hanya perlu berpikir, lalu sadar, lalu jalani hidupmu sebaik mungkin.

*sunyi lagi*

A : Juga sebenarnya aku ingin meminta maaf padamu, karena telah ikut campur dalam urusanmu. Aku berniat membantumu, memberikan yang terbaik bagimu tapi sepertinya itu bukan yang terbaik menurut Allah. Aku seringkali terlalu tergesa-gesa dan tinggi diri. Dan bisa saja aku bukan orang yang ditakdirkan untuk membantumu sesuai kebutuhanmu dalam menemui Rabb-mu.
B : *menangis mendayu-dayu*
A : Sadar! Dzikir! Doa! *lalu menghadap membelakangi kawannya itu*
A : Aku pergi. Aku tidak mau ke sini lagi. Jaga dirimu. Jaga harga dirimu. Jaga keluargamu. Sudah. Sampai jumpa di waktu yang baik, jika Allah meridhai.
B : *masih menangis mendayu-dayu*

Iklan

2 thoughts on “Si Kawan Lama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s