Kutipan
2

We must  realize that nothing happens without a purpose. Nothing. Not even broken hearts. Not even pain. That broken heart and that pain are lessons and signs for us. They are warnings that something is wrong. They are warnings that we need to make a change. Just like the pain of being burned is what warns us to remove our hand from the fire, emotional pain warns us that we need to make an internal change. We need to detach. Pain is a form of forced detachment. Like the loved one who hurts you again and again and again, the more dunya hurts us, the more we inevitably detach from it. The more we inevitably stop loving it.

And pain is a pointer to our attachments. That which makes us cry, that which causes us the most pain is where our false attachments lie. And it is those things which we are attached to as we should only be attached to Allah which become barriers on our path to God. But the pain itself is what makes the false attachment evident. The pain creates a condition in our life that we seek to change, and if there is anything about our condition that we don’t like, there is a divine formula to change it. God says:

“Verily never will God change the condition of a people until they change what is within themselves.”
(Qur’an, 13:11)

Iklan
Kutipan
0

Penindasan.

Penindasan oleh pihak ini kepada pihak itu. Oleh kelas ini terhadap kelas itu. Oleh kpintaran ini terhadap kebodohan itu. Oleh kekuasaan ini terhadap ketertindihan itu.

Atau juga penindasan yang berlangsung di dalam diri setiap penindas maupun diri setiap tertindas.

Para tertindas diimpit tidak hanya oleh orang atau kelompok, tetapi juga oleh suatu tatanan yang dirancang khusus untuk menindas.

Mereka harus mendekam berjejal-jejal di dalam kamar sel sejarah yang gegap dan buram oleh lampu lima watt : sedemikian rupa sehingga mereka akhirnya yakin bahwa hidup memang ruang pengap buram lampu lima watt.

Mulut mereka disumpal atau dijahit : sedemikian rupa sehingga mereka percaya bahwa takdir kehidupan ini tak lain adalah tersumpalnya dan terjahitnya mulut.

Mereka harus makan tinja : sedemikian rupa sehingga mereka berpendapat dengan mantap bahwa yang bernama makanan adalah memang tinja.

Dan, itu tidak cukup, mereka harus meyakinkan mulut, lidah, perasaan, dan pikiran mereka bahwa tinja itu gurih rasanya. Dan, akhirnya mereka memang yakin.

Dengan demikian, persoalan terbesar dari segala sejarah umat manusia adalah bagaimana meyakinkan orang bahwa tinja itu tidak gurih rasanya.

Sementara itu, para penindas disiksa oleh keinginan-keinginan mereka sendiri yang besar dan kekuatannya jauh melebihi diri pribadi mereka. Mereka disayat-sayat oleh keharusan memelihara proses penindasan tanpa sehelai benang tatanan pun boleh terputus. Apapun yang memiliki kemungkinan untuk bisa mengancam ketersambungan tali-temali penindasan itu harus disantap di meja makan malam.

Para penindas adalah juga orang-orang tertindas. Mereka ditindas tuntas oleh segala yang mereka ciptakan sendiri. Dan, rentang waktu penindasan mereka jauh melebihi jatah penderitaan kaum tertindas.

Mereka ditipu oleh apa-apa yang mereka cari dan apa-apa yang mereka pertahankan.

-Arus Bawah

QS Al Balad

QS Al Balad

Sampingan
2

A : Hai..
B : Hm..
A : Udah lama ya?
B : *menunduk, tiba-tiba jadi setengah terisak*
A : *menggeserkan tempat duduknya mendekati si kawannya*
B : *menunduk, terisak, tanpa air mata*

A : Ya..ya.. Aku tahu…
B : Kenapa kamu baru datang? *berkata sambil terisak, menoleh kepada si kawannya* 
A : Dulu, sekarang, atau nanti, apa bedanya? *menoleh pula kepada si kawannya ini dari yang sebelumnya menatap jauh ke arah langit*
B : Terlambat sudah semuanya.. *kembali menunduk*
A : Kamu bicara apa? *dengan pelan mengembalikan pandangannya ke arah langit*

*sunyi selama beberapa detik*

A : Dari dulu aku tak pernah bisa berbuat apa-apa untukmu.. *tetap menatap langit*
B : Tapi kenapa kamu pergi? *tetap menunduk*
A : Ya sama saja aku pergi atau di sini.
B : Tapi tak ada yang lain lagi yang bisa mengerti..
A : Lalu? Kalau aku di sini pun, kamu hanya akan merajuk kepadaku saja, tanpa aku bisa melakukan apa-apa.
B : Tidak.
A : Iya. Kan sudah berulang kali semacam itu?
B : Berbeda. Bahkan aku tidak merajuk kepadamu kamu sudah tahu apa yang harus kamu lakukan.
A : Dan gagal.
B : Sekarang aku yang meminta. Ah..bukan sekarang…
A : Ya, dan kamu pikir akan berbeda cerita jika kamu meminta lebih dulu?
B : Sudah terlambat…
A : Makanya. Sama saja.

*sunyi lagi*

A : Cobalah berbahagia. *sambil perlahan menoleh ke arah si kawan yang sedang menunduk*
A : Bahagia yang sebenarnya. *tersenyum kepada si kawan, walaupun si kawan tertunduk tak melihat senyumannya*
A : Jangan lagi bilang kau tak pantas bahagia.
B : Aku hampir saja bilang begitu. *tetap menunduk*
A : Ah! Aku ragu apakah kamu orang beriman atau bukan. Terimalah takdir, bertawakallah, berjiwa tenanglah, bersyukurlah,
B : Iya, aku juga khawatir.

A : *berdiri*
B : *menatap wajah si kawan* Mau ke mana lagi kamu?
A : Aku ke sini sebenarnya hanya untuk mengatakan kata-kata barusan itu tadi padamu. Sudah kukatakan dan aku akan pergi.
B : Jangan pergi duluuu
A : Semakin lama aku di sini semakin kamu tidak bisa memegang dirimu sendiri. Sadar!
B : Tolong aku.. *merengek sambil bercucuran air mata*
A : Apa? Memangnya kamu kenapa? Tak ada yang salah, tak ada yang perlu kutolong? Kamu hanya perlu berpikir, lalu sadar, lalu jalani hidupmu sebaik mungkin.

*sunyi lagi*

A : Juga sebenarnya aku ingin meminta maaf padamu, karena telah ikut campur dalam urusanmu. Aku berniat membantumu, memberikan yang terbaik bagimu tapi sepertinya itu bukan yang terbaik menurut Allah. Aku seringkali terlalu tergesa-gesa dan tinggi diri. Dan bisa saja aku bukan orang yang ditakdirkan untuk membantumu sesuai kebutuhanmu dalam menemui Rabb-mu.
B : *menangis mendayu-dayu*
A : Sadar! Dzikir! Doa! *lalu menghadap membelakangi kawannya itu*
A : Aku pergi. Aku tidak mau ke sini lagi. Jaga dirimu. Jaga harga dirimu. Jaga keluargamu. Sudah. Sampai jumpa di waktu yang baik, jika Allah meridhai.
B : *masih menangis mendayu-dayu*