7

Pingki dan Lele

Aku memang berasal dari keluarga sederhana dan aku bersyukur atasnya. Dengan demikian, banyak sekali pengalaman yang bisa dijadikan pelajaran dan pengolah rasa. Susah senang kami sekeluarga lalui bersama dan justru itulah kenikmatan yang tiada terbelikan oleh harta.

Tentang harta, pemasukan kami satu-satunya hanya berasal dari gaji Bapak hasil mengajar di SMP. Gaji guru memang seharusnya bisa dibilang cukup untuk kebutuhan primer sebuah keluarga kecil dengan satu atau dua anak, tetapi berhubung Ibu dan Bapak membangun rumah tangga ini mulai dari nol, jadinya banyak sekali kebutuhan sekunder yang harus dipenuhi untuk memodali keluarga kami.

Ya kita semua tahu, untuk mengadakan rumah saja jaman sekarang sebagian orang memilih melalui kredit bank karena besarnya dana yang dibutuhkan. Walaupun kami tinggal di desa dan dana yang dibutuhkan tidak sebesar di kota, tetap saja tabungan Bapak yang sudah beberapa tahun belum juga bisa untuk membangun sebuah rumah utuh beserta isinya. Bagian rumah utama beserta kamar mandi saja yang dibangun di awal, bagian yang lain beserta isinya menyusul sedikit-sedikit. Beberapa isi lain menggunakan perabot lungsuran dari keluarga Ibu.

Pernah pada suatu malam, lupa saat itu aku sedang berumur berapa, keluargaku sedang dirundung masa yang cukup sulit, banyak kebutuhan yang harus segera dipenuhi. Dan rundungan itu secara langsung tertuju kepada Sang Pengatur Rumah Tangga, yang tak lain dan tak bukan adalah Ibu.

“Mau makan apa keluargaku malam ini? Cuma ada nasi, cabai, kecap dan garam.”

“ Ya Allah, mosok aku ngasih makan makanan yang nggak sehat ke keluargaku?”

Bicara sendiri Ibu malam itu di belakang rumah, duduk di depan pintu dapur yang baru saja selesai dibangun. Lalu merenung.

Ibu menurutku adalah sesosok wanita Jawa tulen yang berhati lembut, sangat setia kepada suami, dan legowo serta nerimo terhadap takdir yang telah dituliskan oleh Sang Gusti. Tak pernah sedikit pun merengek ataupun marah atas kesulitan-kesulitan yang melanda, beda sekali dengan anak-anaknya. Tak jua protes menyalahkan Bapak, Sang Pemimpin Rumah Tangga, dengan kondisi kekurangan ini. Yang Ibu lakukan adalah mengatur segala yang ada, segala yang dipunyai, untuk menghidupi keluarga dengan sebaik mungkin, lalu bersyukur dan berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar segala yang diaturnya tepat dan bermohon untuk ke depan agar ditunjuki jalan yang terbaik dan kemudahan.

Di akhir renungannya, matanya yang sedikit berair itu menatap langit malam yang cerah bertabur bintang, selanjutnya diperhatikannya jalan masuk ke rumah yang sepi. Bapak belum pulang, aku sedang belajar di ruang tamu, dan Ibu pun sadar di situ dia tak seorang diri, ada Pingki, kucing betina milik keluarga yang sepertinya sedari tadi sudah duduk diam di sebelah kaki Ibu.

“Ah kucing ini juga belum makan. Cari tikus sendiri aja ya, Ping, aku gak ada lauk buatmu,” yang diajak bicara tidak menyahut.

Akhirnya Ibu memutuskan untuk menggoreng nasi saja. Yah, walaupun kurang sehat yang penting ada rasanya.

Ibu pun bergegas ke dapur untuk menyiapkan bumbu-bumbu. Cabai, kecap, dan garam, syukurlah masih ada sisa bawang buat penambah rasa. Biasanya aku tak mau makan nasi goreng jika tidak ada irisan telur dadar dan mentimun, sedangkan ayam di kandang sedang tidak ada, apalagi telurnya. Ibu pun menitikkan air mata sewaktu memikirkannya. Ya sudahlah, kalau lapar pasti juga makanan apa saja bisa masuk.

Saat Ibu sedang sibuk menguleg bumbu, tiba-tiba Ibu mendengar suara Pingki, tidak mengeong seperti biasa, seakan mulutnya sedang tersumpal sesuatu. Ibu melongok lewat pintu, dilihatnya Pingki setengah berlari menuju dapur dengan membawa sesuatu yang cukup besar di mulutnya. Sesampai Pingki di depan Ibu, diletakkannya benda itu di lantai, lalu mengeong sambil menatap Ibu. Ibu pun jongkok memastikan benda apakah itu sambil masih terheran. Itu adalah seekor ikan! Ikan mentah, ikan lele yang cukup besar, masih segar dan utuh!

“Ping!”

“Dapat dari mana?!”

“Maling?”

Antara kaget, campur senang, campur bingung, Ibu langsung menangis sambil mengelus-elus kepala Pingki dan berterima kasih kepadanya. Hanya sedikit perasaan bersalah waktu itu, khawatir ikan tersebut ikan curian.

Ragu sebenarnya, tapi ya sudahlah, dianggap ini adalah rejeki dari Gusti Allah, toh Ibu tak tahu pasti apakah Pingki mencuri atau tidak. Lagian di kampung ini tidak ada kolam lele yang bisa dicuri. Kalaupun ada, orang biasa membeli lele pagi-pagi, aneh saja sampai semalam itu belum diolah. Juga kalau ingin menanyai tetangga satu per satu siapa yang kehilangan ikan lele juga semakin ribet. Kalaupun ada juga, apakah ada kewajiban pemilik binatang peliharaan untuk mempertanggungjawabkan kejahatan yang dilakukan oleh binatangnya di luar kuasa sang pemilik? Ibu belum pernah mengenal hukum semacam itu.

Dan anehnya lagi, kalau Pingki mencuri kenapa tidak saja dihabiskan dimakan oleh dirinya sendiri? Kenapa harus dibawa pulang dalam keadaan segar dan utuh? Diletakkan begitu saja di depan Ibu sambil mengeong menatap Ibu? Jadilah semakin membenarkan kalau si ikan lele ini adalah benar-benar rejeki dari Allah, jawaban dari permohonan Ibu.

Dengan bahagia Ibu mengambil dan mencuci lele lalu menghadiahkan sepotong kepala lele kepada Pingki. Kucing itu pun makan dengan lahap dan tampak gembira. Bagian ikan lainnya dipotong jadi dua lalu digoreng setelah digarami, untuk Bapak dan aku. Ibu sendiri makan nasi saja dengan melihat keluarga makan enak sudah sangat nikmat untuknya.

Kisah ini diceritakan padaku saat aku sudah usia dewasa, diceritakan oleh Ibu secara canda, dengan tema Pingki, si Kucing Ajaib yang bisa mengerti perkataan majikannya. Kenangan itu menjadi kenangan yang sangat indah baginya. Sedangkan buatku, cerita itu harusnya menjadi semangat hidup dan semangat untuk menambah bhaktiku padanya.

Iklan
0

Seperti Bukan Mimpi

Siang itu aku dan beberapa kawanku sedang bercengkrama di sebuah teras lapang dalam rangka perayaan kecil yang dihelat salah satu kawanku di situ. Aku duduk menyendiri di salah satu bangku panjang di sudut lapang dekat pot-pot bunga. Beberapa macam jenis makanan menghiasi meja di depanku. Angin semilir serta langit bermendung pembuat sejuk melengkapi keceriaan siang itu. Bahagia rasanya.

Tak lama ada seorang lelaki yang kukenal datang menghampiriku lalu menduduki sisi ujung kiri bangku panjang yang ujung kanannya lagi aku duduki. Wajahnya menampakkan keseganan dan keraguan. Kusapa dia,

“Hei, gmn kabarnya?”, dia hanya tersenyum.

“Nih, kamu suka ga?”, tawarku sambil kuarahkan piring berisi empat buah sushi ke sisi meja di depannya. Dia tetap tak berucap, dan masih tersenyum. Lalu dia menatapku, dengan tatapan ragu dan mungkin agak sedikit takut, lalu menunduk.

Aku terheran-heran, apa maunya? Aku agak risih dibuatnya, jadinya aku buang muka darinya ke arah kumpulan kawan-kawanku lain yang sedang asyik bercengkrama.

“Tumben nggak galak..”, kata-kata itu tiba-tiba terdengar dari sebelah kiriku yang datangnya pastinya dari lelaki yang tadi.

“Sial..”, kataku dalam hati. Tak mau aku obrolan ini jadi panjang ataupun kedengaran orang.

Wajahku tetap pada arah sebelumnya, tak mau kutolehkan padanya. Justru kugeser posisi dudukku semakin ke kanan, menjauhinya, berencana kubuat sikap di antara kami hanyalah dua orang yang saling kenal saja dan tak pernah akrab. Aku tak mau ketahuan.

Dan tiba-tiba aku tersentakkan oleh bunyi alarm, kembali ku terbaring di ruang kamarku yang sedang remang. Kulihat jamku menunjukkan pukul 04.21 WIB. Langsung sadar, kubangunkan sosok di sebelahku yang sedang nyenyak dan akan memburu travel jam 5 ke Bandung pagi ini.

Ah, syukurlah cuma mimpi.