0

Sebenarnya Setia

setia

Minggu lalu, aku duduk sendiri di ujung jalan itu. Di sudut kursi halte yang agaknya masih baru dibangun, membelakangi sungai. Entah kenapa tiba-tiba badan ini terasa lelah berjalan. Padahal jarak yang aku tempuh tak terlalu jauh, dan aku sudah cukup terbiasa melaluinya.

Pelan-pelan aku mulai menikmati pemandangan sekitar sore itu. Tak jauh dari tempat dudukku ada segerombol laki-laki berbaju lusuh, basah, penuh dengan tanah sedang duduk-duduk mengobrol, ada juga yang sudah lelap tertidur, ada juga yang sedang asyik merokok sendirian. Mereka adalah tukang gali lubang jalan yang sedang ngaso dari pekerjaannya, oh atau mungkin jam kerja mereka sudah selesai dan sekarang mereka berkumpul sejenak sebelum pulang ke rumah masing-masing, aku kurang tau.

Tiba-tiba ponselku berbunyi, nada sms. Dari nadanya aku tau itu sms dari siapa. Itu sms darimu. Aku sengaja membedakan bunyi deringnya. Dengan enggan aku ambil ponselku dari tas, lalu aku buka kunci pengaman ponsel sehingga langsung terpampang jelas pop-up sms darimu.

Hai, sedang apa?

Aku hanya tersenyum. Tak membalasnya. Tak akan, pada saat itu.

Aku mulai menoleh lagi ke arah tukang gali lubang jalan. Mereka semakin bertambah riuh. Tampaknya ada seorang yang memang sengaja menyulut tawa di sana. Mungkin seperti halnya di tempat lain juga, ada suatu peran-peran tertentu dalam suatu kebersamaan, ada si pemimpin, si pembuat ketawa, si pendiam, si dungu, si cuek, si pemarah, si pendendam, si kompor… Dan tiba-tiba ponselku berbunyi lagi, menginterupsi otak sederhanaku yang tadinya melamun sambil berpikir.

Sms darimu lagi.

Aku hanya kepikiran pembicaraan kita tadi malam. Kamu bagaimana?

Sudah kutebak. Kamu sedang mengkhawatirkanku. Dan aku tetap sama sekali tidak berpikiran untuk membalas smsmu. Aku malah kembali asyik memasukkan para tukang gali lubang tadi ke dalam pikiranku.

Aku mulai membayangkan untuk menjadi tukang gali lubang, mulai mengira-ngira apa yang sedang mereka tertawakan. Mungkinkah tentang keluarga mereka di rumah, menertawakan istri-istri atau anak-anak mereka? Mungkinkah tentang kebodohan mereka saat tadi melakukan pekerjaan mereka? Atau tentang orang-orang lalu lalang yang menurut mereka aneh dan pantas untuk ditertawai? Atau tentang mandor mereka yang mereka omong-omongkan keburukannya di belakang, dijadikan bahan lawakan, sedangkan di depannya mereka patuh-patuh dan hormat-hormat saja?

Di titik ini aku mulai mengikutsertakanmu dalam hiruk pikuk pikiranku. Mandor yang di belakang dijadikan bahan lawakan, sedangkan di depan dipatuhi dan dihormati, dan kamu. Aku tak akan berlaku seperti itu padamu. Dan ponsel pun berbunyi lagi. Sms darimu lagi.

Kenapa kamu tidak membalas? Aku percaya padamu.”

Aku mulai tidak tenang. Ingin rasanya aku segera menelponmu, tapi tak mungkin!

Ketidaktenanganku beradu dengan lanjutan pergolakan pikiranku sebelumnya. Di mana aku tidak akan memperlakukanmu seperti pikiranku tentang mandor tadi. Di depanmu aku baik, dan di belakangmu bersama orang lain, tanpa sepengetahuanmu, aku menertawakanmu, mempermainkanmu, mengkhianatimu, aku tidak seperti itu. Bahkan saat tak ada orang lain pun dan saat di mana kamu tak akan tahu aku berbuat apa juga aku tidak punya keinginan untuk berbuat tidak baik tentangmu.

Aku bukan hanya tidak ingin membuatmu kecewa, tapi juga aku sangat menghargaimu dari lubuk hati yang paling dalam. Aku berharap kamu tahu bahwa ini semua bukan hanya sikap semata, ini adalah cerminan hati. Dan ponsel pun berbunyi lagi, sama lagi, sms darimu lagi.

Aku khawatir…

Tiba-tiba air mataku sudah sampai pipi tanpa diperintahkan oleh otak sadarku. Dan seketika itu pula aku bangkit dari dudukku, beranjak pergi sambil menggumam lirih, “Aku bukannya tak setia, aku hanya tak punya pulsa…

Iklan