2

Kambuh

Aku lihat “penyakit”mu kambuh lagi. Dan seringkali sewaktu kambuh kau bilang padaku, “Duh, gimana ini, ‘penyakit’ku kambuh lagi” dengan wajah sedih.

Aku tak tahu apa alasannya kau mengatakannya padaku. Lagipula, aku pun sudah bisa melihatnya sendiri tanpa perlu kau katakan.

Apakah kau meminta tolong untuk disembuhkan?

Apa yang bisa aku lakukan?

Kau kan tau aku tidak bisa berbuat apa-apa terhadap “penyakit”mu itu. Sudah berkali-kali aku tunjukkan, hanya dirimu dan Tuhanmu yang bisa menyembuhkan. Lagipula kau sudah tahu caranya. Tinggal mau atau tidak.

Oh, atau kau mengatakan padaku agar kau punya orang yang memaklumi konsekuensi dari “penyakit”mu itu? Sehingga kau bisa melenggang bebas melakukan hal yang tidak seharusnya dengan alih-alih sedang sakit?

Kau salah besar. Sadarilah kalau itu semua adalah cobaan. Dia ada untuk membuatmu semakin kuat dan berderajat. Bukan untuk membuatmu semakin lemah dan pengecut.

0

Iya Juga

Akhir-akhir ini suka berpikir, kenapa ya dulu saya suka memasang status fb, twitter, plurk, ym, dan sejenisnya itu dengan doa-doa, harapan, sesalan, umpatan kepada sesuatu atau seseorang?

Kenapa ya?

Kalau dipikir-pikir, ngga ada gunanya juga ya…

Eh ada sih… biar lebih plong, atau juga mungkin ada yang berpikiran ingin jadi inspirasi bagi yang melihatnya.

Tapi sebenarnya, kalau dipikir jujur, bukan sensasi plongnya itu sih yang jadi tujuan utama, apalagi inspirasi . Yang jadi motif utamanya sih sepertinya hanya ingin dilihat oleh orang, ingin diperhatikan, mungkin turunan lebih jauhnya ingin ditanggapi, bisa juga ingin dipuji.

Ya, wajar mungkin. Tapi juga, malu sih buat mengakui ini semua.

Kenapa malu?

Karena, ya itu adalah motif yang sangat pendek sekali, yang pada dasarnya membuktikan betapa butuhnya dengan perhatian, betapa kesepiannya kita, betapa nistanya sehingga tidak ada lagi yang mau menjadi sandaran untuk semua beban-beban yang ada sehingga sampai mengobral murah di tempat umum.

Astaghfirullah… Fuh…

Harusnya, yang namanya mukmin ngga gitu kan ya?

0

Nafsu Nyata Nafsu Tersembunyi

Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary

“Bagian nafsu dalam kemaksiatan itu jelas nyata. Sedangkan bagian nafsu di dalam ta’at, itu tersembunyi dan tidak nyata. Mengobati yang tersembunyi itu sangat sulit terapinya.”
Bahwa nafsu itu memiliki kecenderungan maksiat dan melakukan tindak maksiat itu sangat nyata dan jelas, karena naluri nafsu memang demikian. Namun ketika nafsu menyelinap di balik aktivitas taat, kebajikan, amaliah, sangat tersembunyi.Alur nafsu dalam konteks ini memiliki tiga karakter:

Takut pada sesama makhluk,
Ambisi rizki,
Rela pada kemauan nafsu itu sendiri.

Munculnya ketiga karakter itu bersamaan dengan selera nafsu.

Sedangkan perselingkuhan nafsu dibalik taat dan ibadah kita begitu tersembunyi. Tiba-tiba ia merasa lebih tinggi dibanding orang lain, lebih suci, kemudian muncul rekayasa untuk manipulasi, dengan tujuan tertentu atau imbalan tertentu, yang menyebabkan riya’.

Mari kita bertanya pada diri sendiri dibalik nafsu yang tersembunyi ini. Apakah ketika kita beribadah, melakukan aktivitas kebajikan dan amaliyah lainnya, agar kita disebut berperan? Agar disebut lebih dibanding yang lain? Mendapat pujian  dan kehormatan orang lain? Anda sendiri dan orang-orang sholeh yang memiliki matahatilah yang mengenal karakter itu.

Karena itu nafsu sering bersembunyi dibalik bendera agama, dibalik aktivitas ibadah dan gerakan massa keagamaan, bahkan nafsu merangsek ornamen penampilan orang-orang saleh, agar disebut saleh.

Disnilah Ibnu Athaillah juga mengingatkan berikutnya: “Kadang-kadang riya’ itu masuk padamu, ketika orang lain tidak memandangmu.”

Kenapa demikian? Karena riya’ itu bertumpu pada pandangan makhluk. Ketika anda bersembunyi atau makhluk lain tidak mengenal anda, lalu anda diam-diam merasa ikhlas, karena makhluk lain tidak melihatmu, itu pun disebut riya’. Sebab unsur makhluk masih tersisa di hatimu.

Al-Fudhail bin ‘Iyadh, ra,  menegaskan, “Beramal demi pandangan manusia itu adalah syirik. Sedangkan tidak melakukan amaliah karena agar dipandang manusia, adalah riya’. Meninggalkan amal demi manusia adalah syirik. Ikhlas, adalah Allah jika anda diampuni (lalu meninggalkan) kedua faktor di atas.”

Ketika seseorang berlaku riya’, dalam kondisi khalwat, secara diam-diam pula ia ingin disebut lebih utama dibanding yang lain. “Wah saya sudah suluk, saya sudah baiat, saya sudah khalwat… Sedangkan kalian kan belum… Jelas saya lebih baik dibanding anda…”. Bisikan lembut ini adalah bentuk ketakaburan dan riya’.

Inilah mengapa Ibnu Athaillah melanjutkan: “Upayamu untuk meraih kemuliaan agar makhluk mengetahui keistemewaanmu, menunjukkan bahwa ubudiyahmu sama sekali tidak benar.”

Karena, menurut Syeikh Zarruq, ra, manakala anda benar dalam ubudiyah pada Tuhanmu, pasti anda tidak senang jika yang lainNya tahu amalmu.

Sebagian Sufi mengatakan, “Tak seorang pun benar pada Allah Swt, sama sekali, kecuali jika ia senang bila cintanya tidak dikenal oleh yang lain.”

Ahmad bin Abul Hawary ra, mengatakan, “Siapa pun bila senang kebaikannya dipandang orang lain atau disebut-sebut, ia benar-benar musyrik dalam ibadahnya. Karena orang yang berbakti pada cinta, tidak senang bila baktinya dipandang oleh selain yang dijabdi.”

Sahl bin Abdullah ra, mengatakan, “Siapa yang senang pamer amalnya pada orang lain ia telah riya’. Dan siapa yang ingin dikenal  kondisi ruhaninya oleh orang lain, ia adalah pendusta.”

Ibrahim bin Adham nengatakan, “Tidak benar bagi Allah orang yang senang dengan keterkenalan (popularitas).”

Dan menghapus riya’ dan membersihkannya, sudah seharusnya dilakukan dengan memandang kepada Allah Swt dan menolak selain DiriNya.