8

Kelembutan Hati

Gambar

“Elu itu terlalu baik!” begitu kadang-kadang kita mendengar orang berkomentar. Ada ya istilah ‘terlalu baik’? Mungkin itu karena kita terlalu sering melihat orang yang memanfaatkan kebaikan orang-orang baik. Akhirnya, kita menakar kebaikan yang ingin kita lakukan, supaya tidak terlalu baik. Padahal, setiap kebaikan yang kita lakukan itu merupakan ciri dari ‘kelembutan hati’. Karena hati menyimpan kualitas sejati setiap insan, maka ‘kelembutan hati’ menunjukkan nilai-nilai dan bisikan yang murni dari nurani. Dan karena sumbernya berada jauh sekali didalam dada, maka perilaku yang mencerminkan kelembutan hati kadang-kadang tidak terjangkau oleh logika maupun perhitungan matematika. Juga tidak selalu sejalan dengan argumentasi yang bisa dimainkan oleh lidah yang tak bertulang.

Mr. A – sahabat yang saya kenal dengan sangat dekat – sedang berkendara di jalan tol dari arah Bandung menuju Jakarta. Tepat di kilometer 66 mobil di depannya mengerem mendadak menghindari tabrakan dengan sebuah truk yang berhenti secara tiba-tiba. Mr. A terkejut namun masih bisa menginjak rem sehingga tidak sampai menambrak mobil yang berhenti mendadak itu. Untuk beberapa detik, Mr. A bernafas lega sambil bersyukur karena terhindar dari tabrakan beruntun. Namun hanya sepersekian detik kemudian, mobilnya tertabrak dari belakang oleh pengemudi lain yang tidak berhasil mengantisipasi situasi itu. Braaaak! Mobilnya yang sudah berhenti seolah kembali terdorong beberapa meter ke depan.

Mr. A memarkir mobilnya di bahu jalan dengan kerusakan yang cukup berat dibagian belakangnya. Mobil yang menabraknya pun berhenti dalam jarak beberapa meter. Mr. A turun lalu berjalan kearah mobil yang menabraknya. Sopir mobil yang menabraknya juga turun, lalu berjalan menuju kearah mobil Mr. A. Akhirnya, mereka bertemu ditengah-tengah.

“Selamat malam,” sapa Mr. A lalu mengulurkan tangannya untuk bersalaman.

“Wah, gimana nih mobil saya jadi rusak begini Pak?!” balas orang yang disapanya. Lalu beberapa kalimat lainnya muncul dari mulutnya.

Setelah orang itu berhenti bicara Mr. A bertanya; “Apakah Bapak pemilik mobil ini?”

“Bukan,” jawab orang itu. “Saya sopirnya.” Lanjutnya.

“Kalau begitu saya ingin bicara dengan pemilik mobil ini,” demikian Mr. A berkata.

“Iya tapi gimana nih dengan mobilnya. Rusak parah begini.” Orang itu kembali komplain soal mobilnya.

“Pak, Anda yang menabrak mobil saya dari belakang,” jawab Mr. A. “Saya tidak ingin menyusahkan Anda, saya hanya ingin bicara dengan boss Anda.”

Orang itu pun kembali ke mobil yang dikendarainya. Sesaat kemudian dari dalam mobil keluar seorang lelaki. Lalu berjalan bersama sopirnya tadi.

“Selamat malam,” Mr. A menyapa lalu mengulurkan tangan.

Lelaki itupun mengulurkan tangannya sambil berkata;”Wah, Bapak ini bagaimana kok berhenti mendadak sih!” katanya.

“Bapak,” kata Mr. A. “Saya tidak ingin memperdebatkan kejadian ini, meskipun faktanya mobil Anda yang menabrak mobil saya dari belakang.” Lanjutnya. “Saya hanya ingin membicarakan hal ini dengan cara yang baik dan kepala dingin.” Dia pun menambahkan.

Efeknya ternyata sangat positif. Sang boss pun menurun nada suaranya. Bahkan mereka sempat bertukar kartu nama. Ketika pembicaraan berlanjut, seorang perempuan menghampiri mereka. Rupanya istri sang boss. Lalu dengan suara khasnya beliau komplain soal Mr A yang berhenti mendadak dan mobilnya yang jadi rusak. Mr. A diam, tidak mengatakan apapun selain menatap suami ibu itu. Beliau baru berhenti bicara setelah suaminya memintanya untuk diam.

Di tempat itu, Mr. A menyatakan tidak akan melakukan tuntutan apapun atas kejadian itu. Demikian pula halnya dengan sang boss atas kerusakan yang menimpa mobil kantornya. Masalah pun selesai. Setidaknya untuk sementara. Karena kemudian diketahui bahwa mobil yang menabrak itu mengalami pecah karburator, sehingga tidak mungkin bisa berjalan jauh.

“Anda kearah mana?” tanya Mr. A.

Beliau mengatakan jika akan menuju ke kantornya untuk menukarnya dengan mobil pribadi yang ditinggalkan dikantornya di pusat kota Jakarta.

“Saya kearah Cibubur,” kata Mr. A. “Jika Bapak dan Ibu berkenan, silakan ikut mobil saya sampai nanti bisa ketemu taksi di Cawang.”

Suami istri itu tidak menjawab.

“Tidak usah khawatir, saya pun bersama istri saya di dalam mobil. Mari.” Ajak Mr.A.

“Mobil kita gimana Pah?” sang Nyonya bertanya kepada suaminya.

“Diderek saja.” Katanya. “Sebentar lagi datang.” Tambahnya lagi.

Tak lama kemudian, petugas derek datang. Lalu, sesuai kesepakatan sang boss pemilik mobil beserta nyonya dan kedua anaknya ikut bersama mobil Mr.A. Sedangkan sang sopir berada didalam mobil yang diderek.

Menjelang pintu keluar toll cawang, Mr. A memberitahukan jika dia akan keluar toll untuk meneruskan perjalanan ke Cibubur. Sedangkan tamu istimewanya dapat meneruskan dengan taksi.

“Masak kita naik taksi sih Pak,” demikian respon yang didapatkannya dari sang tamu.

“Baiklah jika demikian, kami antarkan Bapak hingga ke kantor Bapak,” jawab Mr. A. Lalu mereka pun melanjutkan perjalanan.

Mereka pun tiba di area perkantoran megah di pusat kota Jakarta. Tamu-tamu istimewanya turun. Namun, ketika Mr. A hendak berpamitan karena hari sudah larut malam, sang boss memintanya untuk menunggu sebentar.  Tak lama kemudian beliau kembali lagi dan mengatakan:

“Pak biaya dereknya satu juta rupiah,” katanya. “Kita bagi dua saja…” begitu beliau melanjutkan.

Mr. A menatap orang itu. Kali ini agak serius seolah ingin melihat apakah orang ini sedang bercanda atau tidak. Namun, kelihatannya dia tidak sedang melontarkan guyonan.

“Lho, bukankah kita tidak pernah membicarakan soal itu Pak?” kata Mr. A setelah dia yakin orang itu benar-benar sedang mengalami anomali logika dan perasaan. “Itu mobil Anda, mengapa saya harus ikut membayar ongkos dereknya?” katanya.

“Tapi kan mobil itu menabrak gara-gara Bapak berhenti mendadak,” kata orang itu. Mungkin dia lupa jika ditempat kejadian mereka sudah membuat kesepakatan. Mungkin orang itu juga lupa jika kesepakatan itu sangat meringankan pihaknya. Meskipun sopirnya yang menabrak dari belakang, dia tidak harus memberi ganti rugi apapun. Mungkin, orang itu juga lupa jika orang yang mobilnya ditabraknya dari belakang itulah yang telah mengantarnya ke tempat tujuan.

“Saya kira kita sudah membuat kesapakatan secara terhormat,” tukas Mr. A. “Atau mungkin Anda ingin saya mempermasalahkan urusan mobil Anda menabrak mobil saya dari belakang.” Kali ini Mr. A mengatakannya dengan tatapan lurus kearah orang itu.

“Bukan begitu, Pak.” Jawab orang itu. “Saya minta kebijaksanaan Bapaklah,” tambahnya.

“Kurang bijaksanakah saya?” tukas Mr. A. “Saya kira Anda bukan orang seperti itu.”

Hening sesaat.

“Begini Pak,” kata orang itu lagi. “Uang saya tidak cukup untuk membayar ongkos derek. Jadi saya minta kebijaksanaan Bapaklah untuk membagi dua ongkosnya.”

“Jika Anda meminta saya untuk membayar setengah ongkos derek mobil Anda yang menabrak mobil saya, maka saya tidak akan lakukan itu.” Kata Mr. A. Tegas. Namun tetap tenang. “Tapi jika Anda tidak mempunyai cukup uang untuk membayar penuh, maka saya bisa meminjami Anda untuk melunasinya.”

Orang itu setuju.

Mr A. meminta untuk melihat lembar tagihan dari petugas derek. Disana tertera nilai tagihan 1 juta rupiah. Setelah memeriksa lembar tagihan itu, Mr. A mengeluarkan uang 500 ribu rupiah. Lalu katanya; “Saya meminjamkan uang ini kepada Anda untuk menutupi kekurangan ongkos derek ya Pak….”

Mereka pun sepakat.

Lalu Mr. A kembali ke mobilnya.

“Kenapa, Yah?” kata istrinya.

“Tidak kenapa-kenapa,” jawabnya. “Alhamdulillah, kita selamat.” Tambahnya.

Istrinya terdiam. Lalu katanya; “Ayah membayar orang itu?”

“Tidak,” jawabnya. “Hanya meminjaminya saja, karena katanya uangnya kurang untuk membayar ongkos derek mobilnya.”

“Ayah yakin orang itu akan mengembalikannya?”

Hening untuk sesaat.

Kemudian Mr. A kembali berkata;”Bayangkan seandainya kita tidak berhasil mengerem mobil. Terus menabrak mobil didepan kita yang menghindari truk itu. Terus kita tertabrak lagi oleh mobil orang itu.”

Hening lagi.

“Bukankah Tuhan sudah memberi kita keselamatan yang nilainya melebihi biaya yang harus kita keluarkan atau apapun yang harus orang itu kembalikan?” tambahnya.

Keduanya saling bertatapan. Berpegangan tangan. Saling melumeri wajah masing-masing dengan senyuman. Lalu meneruskan perjalanan penuh cinta dan rasa syukur yang tengah diarunginya. Cukup melelahkan. Tapi bahagia rasanya.

Setiap orang yang hatinya dipenuhi oleh kekuatan untuk memaafkan, pasti merasa ringan untuk mengijinkan orang lain yang pernah menyakitinya untuk terlepas dari kewajiban apapun sebagai penebusan. Jiwanya akan dipenuhi oleh rasa kasih sayang yang tidak kenal batasan-batasan. Sekujur tubuhnya akan dilingkupi oleh keihlasan untuk menerima setiap takdir Tuhan. Sehingga keseluruhan hidupnya sejalan dengan firman Tuhan dalam surah 11 ayat 115: “Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.” Kelembutan hati, mencerminkan kualitas seorang pribadi yang bersumber dari kekuatan memaafkan, kasih sayang, dan keikhlasan.

Masih suka mempertanyakan mengapa seseorang terlalu baik hati? Tidak usah lagi. Karena orang itu percaya bahwa setiap kebaikan sepenuh hati yang dilakukannya sama sekali tidak ada hubungannya dengan sikap maupun respon, apalagi terimakasih dari orang lain. Setiap kebaikan hati itu hanya bisa dibaca hakekatnya oleh Ilahi. Sehingga hanya Dia yang paling tahu balasan yang paling pantas untuk setiap kebaikan yang kita lakukan.  Semoga, kita termasuk orang yang Tuhan anugrahi dengan kelembutan hati.

(cerita dari Pak Dadang Kadarusman)

Iklan