0

Mina (Part IV)

Kediri, 1999
Minut sakit,. Ibu mewanti2.
“Ika…. Kamu liat sendiri kan? Minut sakit… daripada nanti mati dan kamu tau matinya trus nangis lagi mending dijual aja ya ke bakul pitik.. kan lumayan buat beli jajan”

“Nggak akan! Biar mati aja! Nanti aku kubur di sebelah rumah!”

Saya waktu itu benar-benar emosi karena teringat Mimi yang mati dan selanjutnya saya makan sendiri. Mending tau orang, eh, hewan yang saya sayangi mati di hadapan saya dan sayalah yang merawatnya hingga ke liang lahat, daripada dia mati entah di mana, tersiksa tanpa orang yang mencinta sebelum akhir hayatnya tiba. Halah.

“Ya udah, terserah, jangan nyesel lho yaa..”, pinta ibu.

Waktu itu saya duduk di kelas 1 SMP. Sebelum berangkat dan setelah pulang sekolah selalu saya jenguk Minut. Saya suapin makan, saya kasih cabe, saya kasih dumex, saya kasih minum, tapi tampaknya tidak juga membaik, bahkan semakin memburuk saja keadaan Minut. 😦

Saya sudah siap jiwa raga untuk kehilangan dia waktu itu. Keadaan Minut sepertinya memang sudah sangat parah. Idung meler, badan dingin (nah, di manusia, badan panas malah yang dianggap sakit/demam, kalau di ayam justru yang dingin yang dianggap sakit), lemes ga mau gerak, bulu di badannya mulai layu, mata merem mulu. Sedihh sekali melihat Minut waktu itu. 😦

Sebenarnya Mina juga agak tertular dengan penyakitnya itu. Semacam flu gitu, tapi belum separah Minut. Mereka berdua dipisahkan biar tidak saling menular.

Dan akhirnya, tibalah saatnya Minut meninggalkan kita semua. Minut ditemukan mati pagi-pagi di kurungannya. Membujur kaku dan beku. Hiks. Tanpa tangis waktu itu. Saya sudah ridha. Hiks.

Karena kelas 1 SMP masuk sekolahnya siang, jadinya saya masih bisa santai ikut prosesi pemakaman Minut.

Dikuburkan di halaman sebelah kanan rumah saya, di antara pohon mangga dan belimbing, di atasnya ada ayunan dari ban (ga penting). Disaksikan oleh saya, ibu saya, adek saya, Mina, dan Mbak Tri, tetangga saya yang suka maen ke rumah saya. Tanpa air mata, sayalah yang memasukkan tubuh kaku Minut ke liang lahatnya. Menutupi tubuhnya dengan tanah sedikit demi sedikit, diiringi tahlil. Menancapkan nisan untuknya yang waktu itu baru saja saya bikinkan dari potongan beton dan bertuliskan nama Minut dari coretan tipe-x. Kuburannya berbentuk gundukan, itu saya yang minta, biar kayak di tv-tv. Mina pun ikut melihat prosesi itu, dan nampak dari wajahnya, dia cuek.

Cukup lega. Antara bahagia dan sedih. Bahagia telah bersamanya sampai akhir hayat, dan sedih karena telah kehilangan dia. Oh Minut… :-(.

Ibu dan Mbak Tri segera pergi dari kuburan Minut. Mereka tampak punya kehidupan lain yang lebih penting. Saya dan adek saya yang waktu itu berumur 3 tahun masih saja di situ. Menabur-nabur bunga seadanya yang ngambil dari halaman rumah, ke atas kuburan Minut. Lalu berdoa ala kadarnya untuk Minut. Setelah cukup puas kami pun pergi menonton Telenovela.

Selayaknya mainan baru, anak-anak ingin selalu melihat dan memperhatikannya terus sampai mereka bosan. Bagaimanapun juga, kuburan Minut itu adalah hal baru, dan itu kami (saya dan adek, red.) terjemahkan sebagai permainan baru. Belum lama nonton TV, kami mengintip kuburan Minut dari jendela rumah kami. Dan tidak terjadi perubahan apa-apa (yaiyalah, masa mau berubah jadi Jiban? -_-). Lalu kami pun kembali menonton Telenovela.

Tak lama lagi, saya ke belakang rumah, ngambil Mina dan anak-anaknya (waktu itu Mina lagi punya anak yang kecil-kecil), saya bawa ke kuburan Minut. Ceritanya ziarah kubur gitu. Tapi Mina tampak cuek. Dia lebih milih ceker-ceker tumpukan daun di sebelah kuburan Minut berharap nemu rayap ato cacing buat makan anak-anaknya. Dasar ayam gak punya hati. Huh. Ya sudahlah. Saya kembali nonton Telenovela.

Tak lama kemudian, saya mengintip lagi dari jendela rumah. Dan, saya pun tersentak, dan berteriak, “Mina!!!! Pergi!!! Hush!! Hush!!!” Sambil gebruk-gebruk jendela biar si Mina kaget dan pergi. Tapi Mina tetap asyik mencakar-cakar gundukan tanah yang tak lain dan tak bukan adalah KUBURAN MINUT dengan ceria. Ternyata dia menganggap gundukan tanah itu semacam rumah cacing yang mempunyai kemungkinan melimpah cacing lezat di sana. Dasar ayam bodoh! Padahal tadi dia di sana ikut ngeliat penguburan Minut, masih aja gak nyadar itu gundukan tempat apa. -___-‘

Langsung deh saya keluar rumah, ngusir-ngusir Mina, biar dia pergi dari kuburan Minut. Lalu mengadukannya ke ibu yang sedang mencuci baju di dekat sumur. Ibu pun tampak agak geram dan bergegas ke kuburan Minut untuk meratakan permukaannya. Lalu bilang, “Makanyaa.. gak usah kebanyakan petengseng, ikut-ikutan tivi segala!” =,=

Selanjutnya, hidup saya hanya ditemani oleh Mina dan anak-anaknya..

(bersambung)

Iklan
0

Demam Chibi

>.<

Mungkin saya udah kualat karena sering ngehina-hina band cewe-cewe sok unyu ini, jadinya saya kena kutuk, jadi HAFAL lagu-lagu mereka, dan senantiasa terngiang-ngiang iramanya setiap waktu >__<. Perasaan, saya gak pernah secara sengaja memperhatikan dan menikmati lagu-lagu mereka. Hanya pernah sekali penasaran buka yutup dan itu juga baru 5 detik udah ditutup. Ama mungkin nunjukin ke beberapa temen, betapa alaynya mereka. Ya mungkin dari situ, kan nggak suka, trus dikomenin bareng temen-temen, dilihat itu lagu ganjilnya di mana. Eh sekarang malah hafal dan terngiang-ngiang.  Argh!!

Apa mungkin benar kata orang-orang, cinta ama benci itu bedanya tipis. Kalau bencinya keterlaluan bisa-bisa malah  berubah jadi cinta. Dan sepertinya saya terlalu berlebihan dalam menunjukkan ketidaksukaan. Jadilah kayak gini, seakan diri inilah twibi sejati, Kyaa!!.  Memang segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Apalagi berat badan (kok?).

Oke, sekarang, khusus untuk chibi, saya akan mencoba untuk memanage hati saya. Saya akan mencoba untuk tidak terlalu berlebihan nyirik-nyirikin mereka. Sewajarnya lah ya. Ambil positifnya. Barangkali mereka niatnya memang baik, walopun itu caranya nggak sesuai ama saya.

Ya barangkali di lagunya yang “Beautiful” itu dia berusaha ngasih semangat ke para pendengarnya yang minder karena punya kekurangan. Ngajarin pendengarnya buat bersyukur. Ngajari pendengarnya buat melihat betapa sempurnanya ciptaan Tuhan yang Maha Sempurna. Mereka jauh lebih mending daripada orang-orang yang sukanya nyari kesalahan orang lain, yang bisanya cuman ngeluh tanpa tau solusi, bahkan mungkin orang-orang ini yang bikin orang lain jadi minder dan selanjutnya ditolong sama anak-anak cherrybelle ini. Wkwkwk.

Trus di lagu “Dilema” juga, walopun rada aneh liriknya, si anak-anak cherrybelle ini ngajakin kita buat meminta bantuan dan memohon ke Tuhan. Saat hati galau gara-gara jatuh cintrong, mereka curhatnya ke Tuhan. Ya jarang kan ya lagu-lagu yang ngingetin kita buat fokus ke Tuhan. Rata-rata cuman galau sendiri, sedih sendiri, nangis sendiri, sampe-sampe pengen mati. Zzzz.

Dih, kok saya tau banyak gini sih,,, padahal kan pengen mencoba mengurangi sedikit kebencian, tapi kok ini review bener-bener deh kayak fansnya. Oh tidaaaakkkk…. Tuhaaan Tolooong akuuu!! <— ini juga diambil dari lirik cherrybelle -_-.

Yah, paling tidak, banyak yang bisa kita ambil positifnya sebagai perenungan. Apakah kita sudah menjadi diri yang memang baik, apakah kita sudah terbiasa tawakkal kepada Tuhan, apakah kita punya mental syukur dan pantang menyerah, apakah kita punya itikad untuk saling menasehati  bukan saling mencibiri?

Semoga kita senantiasa didewasakan dan ditinggikan derajat saat menghadapi segala fenomena hidup. Dan semoga suatu saat nanti media hiburan kita jadi media hiburan yang benar-benar penuh berkah. Tidak menyiksa hati dalam keterngiang-ngiangan yang tidak jelas. Media yang benar-benar menentramkan jiwa, yang benar-benar mendekatkan manusia-manusia kepada Rabb-nya. Aamiin. 🙂

Obrolan
2

Another SMS Geje (Part Takhingga 2)

Selasa, 13 Maret 2012

12.49 WIB

Ibuk : Maem lauk apa, Mbak?

Ika : Bubur Ayam.

Ibuk : Lho, nggak kenyang dong. Nggak mandi? <<– ini pertanyaan maksutnya apa coba? -_-‘

Ika : Nggak.

Ibuk : Nggak ngantor?

Ika : Ngantor.

Ibuk : Lha nggak mandi. Muntah semua teman-temannya?

Ika : Nggak. Kan pake parfum.

Ibuk : Masaaloh ikkkk, ngantor wajib mandi. wajahnya kelihatan mandi ato nggak. segar ato kusut. tolong mbak jangan malu-maluin orang tua.

Ika : Gak ada di fikih kewajiban mandi pas ngantor.

Sekian untuk hari ini.

0

Mimpi Jadi Nyata

Yeah, sesuai dengan judul, itulah yang terjadi pada saya hari ini. Walopun judul seakan-akan menunjukkan sesuatu yang membahagiakan, menggembirakan, tapi kenyataannya tidaklah seperti itu. Hiks. Oya, itu judul maknanya denotasi ya, bukan majas. Jadi tidak usah repot-repot berprasangka baik kalau cita-cita saya tercapai atau saya sukses mengejar harapan, atau semacamnya. :mrgreen:

Jadi gini ceritanya, sudah dua minggu ini si mejikom saya yang seringkali saya pakai masak nasi itu rusak. Bocor deh kayaknya. Nasi matengnya rasanya nggak enak, trus kalo dipakai masak tiba-tiba ada air netes dari bagian bawahnya. Maka dari itulah saya bertekad gak make mejikom ini lagi, ntar pas tanggal muda aja beli baru (ini masih tanggal muda padahal -__-).

Ntah kenapa ya, apa baru kepikiran sekarang atau gimana, tadi malem itu saya kok mimpiin ini mejikom. Di mimpi itu saya seakan terpaksa harus memasak pake mejikom ini. Masak mie instan. Padahal saya gak terlalu suka masak mie instan pake mejikom, mendingan di kompor di dapur lantai bawah. Lagian si mejikom juga lagi eror. Ntar bisa-bisa bocor dan harus ngebersihin air bocorannya. Tambah ribet lah. Tapi entah kenapa di mimpi itu ada yang gak ngebolehin saya masak di tempat selain mejikom. Heu..

Nah, hari ini kan hari Sabtu, libur kerja. Saya berencana ga sarapan, lagian bangunnya siang juga gara-gara malemnya begadang. Mau makan siang di luar aja sekalian mau jalan-jalan, tapi sebelumnya mau nyuci dan ngijah lain-lain.

Setelah ngijah dan nyuci beres, harusnya kan mandi. Eh tapi kenapa kok laper banget. Laaaaperrrrrrrrrrrrr bangettttt. Ya udah deh, ini sebelum mandi mau ganjal perut dulu pake mi instan. OK, sambil bawa sebungkus mi rasa soto sama mangkuk sendok garpu, melajulah saya ke dapur.

Oya saya belum cerita. Kosan saya ini aneh. Masa ya kamar saya ini terpisah kosan sebenarnya. Jadi semacam ada dua gedung, gedung kosan sebenarnya, yang di sana terdapat dapur beserta perabotnya, dan gedung yang ada kamar sayanya. Dan saya kalau keluar masuk itu harus lewat gedung kosan sebenarnya, yang sebelumnya harus melewati area cuci-jemur. Ribet deh. Apalagi gedung kosan sebenarnya itu sering dikunci. 😡

Ini penampakan pintu gedung kosan sebenarnya dari pintu gedung kosan yang berisi kamar saya. Rrrr

Naaaahhh, hari ini nihh…pas saya sedang melaju dengan ceria menuju ke dapur, ngebayangin ntar masak mie rasa soto plus telor dan sayuran-sayuran yang ada di kulkas, saya tersadar, kalau pintu kosan sebenarnya sedang terkunci rapat dan tidak ada orang di sebrang sana. Zzzz… Punahlah sudah harapan saya untuk makan mie rasa soto dengan bermacam-macam topping itu. Begitu juga harapan saya buat keluar jalan-jalan, ikut punah. Hiks.

Dengan putus asa dan kelaparan saya kembali ke kamar. Nyari sisa-sisa kue kok ya habis. Lapar. Ga ada pilihan lain, daripada saya mati kelaparan, saya masak mie instan pake mejikom aja. Dan benarlah adanya mimpi saya semalem jadi kenyataan. Akhirnya saya ambil mie instan goreng aja, soalnya kalo mi kuah masaknya ribet, harus dua kali rebus air biar lilin di mienya ilang.

Yah, sedih sih, tidak sesuai harapan, tapi tetep Alhamdulillaah..masih bisa makan, lumayan enak kok, dan ga mati kelaparan. Hehe. 😆

Piring Sendok Garpu Jadi Saksi

Satu lagi masalah, sampai sekarang saya terjebak di kosan, gak bisa keluar. Makanya ngeblog. 😥