Melawan Kebatilan Pak Kasun

Rumah saya di kampung itu masih ndeso. Ndusun malah. Kalau secara suasana alam saangat nyaman, tenang, tenteram, bebas kebisingan dan kepenatan. Orang-orangnya pun baik-baik, ramah, kalo kata kawan istilahnya ‘tidak emosional’. Masyarakat hidup beriringan, saling membantu satu sama lain. Tapi, semua berubah ketika negara api menyerang, eh salah, bukan itu maksutnya (doh). Tapi beberapa waktu lalu ada kejadian yang membuat saya berpikir ulang tentang kondisi kampung saya ini. Kejadian yang menimpa salah satu orang terdekat saya.

Beberapa waktu yang lalu, ada pengumuman bahwa bakal ada pembagian sapi IDT (inpress desa tertinggal), bibit tanaman, sama pupuk. Dan yang tau pengumuman itu hanya sebagian kecil dari masyarakat desa saya, termasuk bapak saya. Karena sudah lama ada pengumuman itu ada dan ada kabar juga bahwa sapi, pupuk dan bibit tanaman itu sudah dibagikan ke dusun masing-masing, ribut lah sebagian kecil masyarakat yang sebelumnya sudah tau. Bapak saya memang bukan petani, tapi sering lah ya berkumpul bareng para tetangga, ikut ribut juga. Ribut tentang kenapa kok itu barang-barang dari pemerintah yang harusnya dibagikan kepada masyarakat tidak kunjung dibagikan jua. Padahal di desa lain udah dibagiin merata.

Di lingkungan saya, biasanya kalau ada hal ganjil semacam itu, rata-rata lebih memilih untuk diam. Cari aman. Karena terkenal juga kalo kades di desa kami juga tidak suka dengan rakyat yang suka protes. Doi banyak uang, banyak backingan. Daripada bikin gara-gara terus nggak selamat, ya mending diam saja.

Bapak saya nggak tahan ngelihat keadaan ini. Karena tau bakal nggak guna juga kalo lapor ke atas (pak kades, red.), jadinya bapak nulis di rubrik pengaduan di koran lokal kediri (Radar Kediri). Berharap si yang ngurus koran itu bikin rubrik pengaduan biar bisa tertangani masalahnya. Bapak menceritakan cukup detail kejadian yang dialami desa kami. Tak lama setelah bapak mengirimkan tulisan, koran lokal itu pun mejengin tulisan bapak di rubrik pengaduan.

Dan hasilnya adalah, sehari setelah tulisan bapak dimuat, rumah saya didatengin segerombolan polisi plus pak kasun. Mau nangkep bapak. Ibu ketakutan sekali waktu itu, dan bapak santai-santai (kayaknya dalam kondisi apa pun bisa santai deh si bapak nih -_-). Bapak dituduh mencemarkan nama baik Pak Kasun.

Bapak awalnya mau-mau aja kalo diproses sampe ke pengadilan. Tapi ternyata polisi datang ke rumah nggak langsung menangkap lalu menyeret bapak saya, mereka hanya mengantar pak kasun untuk berunding dengan bapak (mengantar sambil nakut-nakutin keknyaaa~). Pak kasun minta damai saja, asal bapak gak melakukan hal-hal yang membahayakan dia setelah itu. Ya bapak sih cuman minta keadilan aja di dusun kami. Minta barang-barang dari pemerintah dibagiin secara adil saja. Akhirnya pak kasun menyetujui dan berjanji akan melaksanakannya.

Ya sudah, pulanglah para polisi. Dan bapak saya gak masuk penjara atopun kena denda.

Dan bagaimana kondisi barang-barang IDT dari pemerintah? Beberapa waktu lalu saya tanyain ke ibu saya, katanya udah dibagiin sih…tapi gak sesuai pembagian yang seharusnya. Dan bapak sudah malas untuk pasang protes lagi. Heu…

Iklan

2 thoughts on “Melawan Kebatilan Pak Kasun

  1. Halo Dewa,Tulisan Anda bagus sekali. Mahasiswa ITB juga kan ? Wah πŸ™‚

    Jika berkenan meluangkan waktu dan pengalamannya, mohon bisa dibagi di web user generated http://www.masukitb.com.

    masukitb adalah tampilan kehidupan Kampus Ganesha ITB, wadah bertanya, berdiskusi, dan berinteraksi, antara para mahasiswa atau alumni ITB, dengan para pelajar yang berminat menjadi bagian dari komunitas ITB.

    Kami berharap, Anda mau berbagi dengan pelajar dari seluruh Indonesia, yang berminat masuk ITB.

    Terima kasih πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s