Durhaka ataukah Cinta?

Saya sebenarnya tidak mengerti dan tidak bisa membayangkan apa itu yang dinamakan cinta. Rasanya seperti apa juga saya tidak tau. Jadi jika ada pertanyaan yang dilemparkan ke saya pernah jatuh cinta atau tidak, saya tidak tau, karena tidak paham cinta itu seperti apa. Kalau sayang atau suka sih masih terbayang lah oleh saya. Sayang kepada orang tua, kawan, hewan-hewan; Suka kepada kegiatan tertentu, warna tertentu, benda tertentu, bisa lah dimengerti oleh saya.

Dulu ada orang yang bilang, suka itu ya semacam sayang gitu, tetapi lebih mendalam, lebih menguras hati, lebih merasa memiliki dan dimiliki. Emm…ya kita anggap lah pernyataan ini benar. Cukup lah ya, tak perlu lah jauh-jauh nyari di kamus atau filosopedia. Soalnya saya mau lanjut ke pembahasan berikutnya, di mana cinta itu ‘sepertinya’ tidak hanya dimiliki atau dirasakan oleh manusia. Hewan pun sepertinya juga punya cinta. Tumbuhan? Wah kurang tau kalau ini. Dan percayalah kalau cinta itu tidak muncul hanya di antara sesama spesies, tidak hanya manusia cinta ke manusia yang lain, atau kucing cinta ke kucing lain, atau ayam cinta ke ayam yang lain, tapi lintas spesies pun sangat mungkin timbul rasa cinta. Tidak percaya? Saya punya buktinya.

Bukti yang saya punya bukan hanya kata orang yang ntah itu siapa dan saya ngutip ceritanya, tapi ini benar-benar kejadian di orang-orang terdekat saya, dan saya jadi saksi mata terjadinya bukti ini. Peristiwa yang akan menjadi  bukti ini terjadi sekitar 5 bulan yang lalu, di rumah saya, siang hari saat ibu, saya, dan adek saya sedang berkumpul di halaman belakang rumah. Dan bukan rahasia lagi kalau di rumah saya itu tidak hanya dihuni oleh manusia saja, tapi ada makhluk-makhluk lain juga yang ikutan numpang, salah satunya adalah kucing. Di cerita-cerita sebelumnya saya juga pernah cerita bahwa ada beberapa kucing di rumah saya, dan yang akan jadi tokoh lumayan utama dalam cerita saya ini adalah kucing saya yang bernama Donni.

Donni adalah kucing cowok yang ganteng,  jutek, sok cool, jarang bilang ‘meong’, jarang deket-deket buat minta dielus, pokoknya gak ada manja-manjanya sama sekali. Donni bukanlah kucing yang unyu, imut, mengasyikkan untuk diajak bermain, yang pasti tidak selayaknya takdir kucing yang seharusnya membahagiakan majikannya dengan kemanjaannya dan tatapannya yang meluruhkan hati setiap orang yang melihatnya. Akan tetapi, berhubung dia ganteng, sekali lagi, GANTENG, seisi rumah saya sangat menyayangi dia, terutama ibu saya. Donni adalah kucing yang sangat diistimewakan, saat pembagian makanan kucing-kucing pun, Donni adalah sang beruntung yang mendapatkan lauk yang paling melimpah dibanding kucing yang lain. Kalau tengah malam Donni pulang, selalu menuju kamar ibu dan hanya bilang ‘meong’ sekali saja, ibu yang sebelumnya tertidur pulas pun, rela bangun untuk mengelus Donni dan selanjutnya menyiapkan makan malam untuk Donni. Saya pun jadi mengerti kenapa ada cowok yang ganteng, tapi juteknya minta ampun, tetep aja banyak cewek yang kelepek-kelepek. Heu,,

Tetapi, semakin ke sini, Donni semakin jarang di rumah, dia lebih memilih untuk pergi ke luar rumah, menjadi garong, mencari tahta dan wanita. Pulang ke rumah hanya untuk makan dan tidur. Bersamaan dengan itu, si Bambang, salah satu kucing cowok yang tinggal di rumah saya juga, semakin besar, dan semakin menyenangkan. Walaupun mukanya tidak seganteng Donni, bahkan metroseksual, Bambang jauh lebih menunjukkan karakter ‘kucing’ sebagai binatang peliharaan dibanding Donni. Walhasil, ibu saya yang sebelumnya sangat menyukai Donni, kini sedikit berpindah hati kepada Bambang. Terlihat dari jumlah limpahan lauk yang ada di makanan Bambang, dulu yang kalau diangkakan, hanya mendapat 30% dari jumlah lauk Donni, sekarang hampir mencapai 100%. Perpindahan hati ibu juga terlihat dari intensitas kebersamaan ibu dan Bambang, dulu ibu yang cukup agak ogah megang-megang dan ngelus-ngelus Bambang, kini nama Bambang bahkan jadi nama yang paling sering disebut oleh ibu.

Sepertinya hal ini membuat Donni cukup geram. Mungkin dia merasa ibu menduakannya. Tidak jarang Donni menabok muka Bambang, menyeruduk Bambang, bahkan sampe cakar-cakaran pun sudah menjadi hal biasa jika mereka bertemu, padahal sebelumnya aman-aman saja, damai-damai saja. Mengetahui hal ini, ibu pun selalu menjadi pemisah mereka, selalu menghalangi mereka agar tidak saling berdekatan jika ada dalam satu ruangan. Seringkali ibu menyembunyikan Bambang di ruangan tertentu jika Donni pulang.

Sepertinya ini membuat Donni semakin geram, dan membuat Donni ingin menunjukkan betapa besar daerah kekuasaannya kepada Bambang. Mungkin banyak pembaca yang belum tau, kalau kucing itu menandai daerah kekuasaannya adalah dengan cara mem-pipis-i daerah yang dianggap itu batas kekuasaannya. Kalau barang, ya barang itu dipipisi untuk menandai bahwa barang itu adalah di bawah pengaruh kekuasaan dia. Jadi jangan heran kalo kendaraan Anda semua jika diparkir di tempat yang di sana banyak sekawanan kucing, tiba-tiba sudah berbau pesing.

Dan kurang ajarnya, Donni ini, karena menganggap ibu saya adalah miliknya, dan Bambang tidak boleh mengambilnya, dan kalau ada tindakan merebut berarti menyatakan perang dengan Donni,  maka Donni pun mem-pipis-i ibu saya pada saat kami sedang bercengkerama di halaman belakang rumah. Ibu yang sedang ngobrol bareng kita-kita, tiba-tiba didatangi oleh Donni, dan dengan posisi membelakangi ibu, tiba-tiba ibu merasakan hangatnya sesuatu di punggungnya, dan kamipun melihat, bahwa sesuatu itu adalah air pipisnya si Donni. Inikah bukti perjuangan cinta Donni? -___-‘

Anehnya, ibu saya hanya tertawa, tidak ada kemarahan sedikit pun terhadap Donni. Oh…inikah bukti saking cintanya ibu kepada Donni sehingga tidak sanggup untuk menyakiti hati Donni dengan hanya sedikit menghukum dia? -___-

Iklan

2 thoughts on “Durhaka ataukah Cinta?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s