0

Permulaan

Siang itu beda dengan siang biasanya. Di kantor yang biasanya cowok-cowok di jam istirahat suka maen ke spot cewek, nonton tivi, makan siang, ngobrol-ngobrol, siang itu nggak kelihatan satu pun batang hidung cowok. Katanya mereka sedang rapat di luar kantor. Sepi. Kami cewek-cewek pun seakan kehilangan selera humor dan gosip. Semua terdiam di meja masing-masing. Entah bekerja, entah melamun, entah membaca, yang pasti semua tampak sedang diam dalam keadaan tidak ceria. Termasuk saya. Hari itu adalah hari yang cukup melelahkan, karena kerjaan yang sebelumnya belum kelar, eh, terbitlah kerjaan baru yang datangnya tiba-tiba seabreg dan sangat membutuhkan kerja otak yang keras.

Mungkin beberapa sudah tahu bahwa saya akhir-akhir ini suka kambuh-kambuh gitu pusingnya, ntah karena apa saya gak tau. Pusing yang membuat kepala terasa sangat berat dan perih seringkali tiba-tiba datang menghadang. Sebelum-sebelumnya sih biasanya hanya datang di malam hari, tapi ya kali itu dia tiba-tiba nongol di siang hari, di saat saya dilanda merana karena tugas-tugas yang banyaknya luar biasa. Dan pusing kali itu saaangat menyiksa. Sepertinya itu adalah pusing yang paling berat yang pernah saya rasakan sepanjang tahun ini. Saya awalnya tetap memaksakan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang ada, tapi lama-lama nggak tahan juga, sampai ternangis-nangis saya menahan rasa pusing ini. Biasanya saya minum obat tertentu buat ngebunuh rasa pusing ini, tapi kali itu saya nggak bawa obatnya.

Akhirnya, sebelum rasa pusing bertambah besar dan parah, saya paksakan diri ke luar kantor buat beli obat, barangkali juga ke luar kantor bisa lebih segar dan nggak pusing lagi. Saya ke minimarket beli decolgen buat ngilangin pusing dan eskrim buat nyugesti otak. Pas udah sampai kantor, saya minum ituh eskrim dan decolgen. Eh, gak terlalu banyak perubahan. Tetep pusing! Dan malah muncul serangan baru, ngantuk. -_-.

Ya sudahlah, daripada semakin parah, saya sengaja tidurkan saja ini badan saya. FYI, di kantor saya ada ruangan bos-sangat-besar yang jaraaang sekali didatengin empunya, ruangannya luas, enak, ada dua sofa gedhenya. Dan ruangan itulah yang biasanya kami, para pegawai teladan, memakainya untuk kegiatan yang dibilang ibadah pada saat bulan puasa, a.k.a tidur. Ya, saya akhirnya merebahkan diri di salah satu sofa di ruangan tidur itu. Karena sangat pusing, susah sekali saya tertidur. Sudah merem-merem juga tetep masih sadarkan diri. Lalu tiba-tiba teman saya yang bernama Dhona, masuk ke ruangan tidur itu. Saya menyapanya sebentar, dia juga ikut-ikutan tidur di sofa satunya, dan tertidurlah kami.

Tapi, tiba-tiba saya dikagetkan oleh teriakan bos kecil saya. Beliau tiba-tiba membuka pintu dan masuk ke ruangan tidur, teriak-teriak aneh. Saya pun langsung terbangun dan ketakutan, takut kalau-kalau beliau marah kepada kami karena tidur di jam kerja, saya pun langsung berdiri dan minta maaf ke bapak bos kecil. Anehnya, beliau ternyata tidak berbicara kepada saya ataupun Dhona. Beliau seperti orang bingung. Berkata, “Pergi! Pergi kamu!!! Saya gak ikut2an! Bukan saya yang melakukannya! Pergi!!”. Beliau pun mojok di pojok ruangan ujung sofa. Akhirnya saya sadar bahwa beliau sedang kesurupan. Saya pun bilang, “Paak…tenang Pak..dia gak ada di sini, tenang saja, Paakk..dia sudah pergi..tenang Paakk..tenang..”Saya sebenarnya tidak tau apa yang saya bicarakan, di benak saya hanya ingin membuat si bapak tenang. Dan akhirnya si bapak pun agak tenang, tapi masih dengan napas tersengal-sengal, dan beliau pun berkata “Ika..maaf ika…tolong jangan ceritakan keadaan saya yang tadi dengan siapa pun ya..”. Setelah bilang itu pun si bapak kadang masih juga melotot-lotot ketakutan. Saya coba tenangkan lagi, “iyaa,,tapi Bapak juga tenang dulu, yang Bapak takutin nggak ada di sini, tenang ya, Pak..

Akhirnya saya biarkan bapak di ruangan tidur, saya keluar dan saya kunci ruangan tidur itu dari luar. Saya kaget setelah keluar kok banyak orang. Banyak anak-anak sekolahan di sekitar meja saya. Ramai. Karena saya tidak tau apa-apa dan masih pusing, keluar ruangan tidur pun terpaksa karena ada insiden aneh dan ingin menjaga kerahasiaan kondisi bos kecil, saya pun kembali duduk di bangku saya, melanjutkan pekerjaan yang tadi saya pending. Eh si anak-anak sekolahan itu malah ke meja saya, dan nanya-nanya detail benda-benda di ruangan saya itu fungsinya apa saja. Dan saya pun mulai berpikiran bahwa anak-anak ini sedang kunjungan perusahaan, ya saya ladenin lah sebisa saya. Saya jawab setau saya. Dan tiba-tiba semua jadi gelap…

Saya terbangun, dan membuka mata, saya kembali berada di ruangan tidur dan menyadari bahwa semua kejadian tadi hanyalah mimpi. Dan Dhona pun membuka pintu, masuk ruangan tidur dan menyapa saya, “belum tidur, Ka?” Saya pun bercerita panjang lebar tentang mimpi yang barusan saya alami. Saya tekankan bagian di mana pak bos kecil kesurupan. Dhona pun ngakak dan bilang, “Hahahaha, Dodol lo, Ka… bisaaa aja.. udah ah tidur yuk”. Dhona pun merebahkan dirinya di sofa sebelah sofa saya. Dan tiba-tiba semua menjadi gelap lagi..

Saya terbangun lagi, saya masih berada di ruangan tidur. Saya lihat Dhona di sebelah sedang tertidur pulas. Saya langsung berdiri dan berjalan ke luar ruangan tidur dengan sempoyongan. Kantor sepi, tidak ada siapa-siapa. Saya pun duduk di bangku saya, masih pusing, linglung, lalu mencoba berpikir jernih. Saya masih belum bisa membedakan mana kejadian yang mimpi mana yang bukan. Dan tidak lama kemudian Dhona keluar dari ruangan tidur. Saya nggak cerita apa-apa, ingin tenang dulu, trauma nanti tiba-tiba jadi gelap dan saya balik lagi ke ruangan tidur, hahahaha.

Akhirnya saya pergi ke toilet buat wudhu, dan ashar. Setelah sholat semua jadi segar, dan saya yakin ini bukan mimpi lagi. Saya berani cerita ke Dhona apa yang saya alami sebelumnya, dan tidak tiba-tiba gelap lagi. Hahahaha. Waktunya melanjutkan pekerjaan dengan lebih tenang dan alhamdulillah tuntas pada hari itu juga.

Mungkin suatu saat nanti kita semua juga akan merasa tiba-tiba gelap dan terbangun di dunia yang sangat berbeda dengan dunia yang kita hinggapi saat ini. Mari kita persiapkan bekal untuk menghadapi saat itu. 😀

Iklan
2

Durhaka ataukah Cinta?

Saya sebenarnya tidak mengerti dan tidak bisa membayangkan apa itu yang dinamakan cinta. Rasanya seperti apa juga saya tidak tau. Jadi jika ada pertanyaan yang dilemparkan ke saya pernah jatuh cinta atau tidak, saya tidak tau, karena tidak paham cinta itu seperti apa. Kalau sayang atau suka sih masih terbayang lah oleh saya. Sayang kepada orang tua, kawan, hewan-hewan; Suka kepada kegiatan tertentu, warna tertentu, benda tertentu, bisa lah dimengerti oleh saya.

Dulu ada orang yang bilang, suka itu ya semacam sayang gitu, tetapi lebih mendalam, lebih menguras hati, lebih merasa memiliki dan dimiliki. Emm…ya kita anggap lah pernyataan ini benar. Cukup lah ya, tak perlu lah jauh-jauh nyari di kamus atau filosopedia. Soalnya saya mau lanjut ke pembahasan berikutnya, di mana cinta itu ‘sepertinya’ tidak hanya dimiliki atau dirasakan oleh manusia. Hewan pun sepertinya juga punya cinta. Tumbuhan? Wah kurang tau kalau ini. Dan percayalah kalau cinta itu tidak muncul hanya di antara sesama spesies, tidak hanya manusia cinta ke manusia yang lain, atau kucing cinta ke kucing lain, atau ayam cinta ke ayam yang lain, tapi lintas spesies pun sangat mungkin timbul rasa cinta. Tidak percaya? Saya punya buktinya.

Bukti yang saya punya bukan hanya kata orang yang ntah itu siapa dan saya ngutip ceritanya, tapi ini benar-benar kejadian di orang-orang terdekat saya, dan saya jadi saksi mata terjadinya bukti ini. Peristiwa yang akan menjadi  bukti ini terjadi sekitar 5 bulan yang lalu, di rumah saya, siang hari saat ibu, saya, dan adek saya sedang berkumpul di halaman belakang rumah. Dan bukan rahasia lagi kalau di rumah saya itu tidak hanya dihuni oleh manusia saja, tapi ada makhluk-makhluk lain juga yang ikutan numpang, salah satunya adalah kucing. Di cerita-cerita sebelumnya saya juga pernah cerita bahwa ada beberapa kucing di rumah saya, dan yang akan jadi tokoh lumayan utama dalam cerita saya ini adalah kucing saya yang bernama Donni.

Donni adalah kucing cowok yang ganteng,  jutek, sok cool, jarang bilang ‘meong’, jarang deket-deket buat minta dielus, pokoknya gak ada manja-manjanya sama sekali. Donni bukanlah kucing yang unyu, imut, mengasyikkan untuk diajak bermain, yang pasti tidak selayaknya takdir kucing yang seharusnya membahagiakan majikannya dengan kemanjaannya dan tatapannya yang meluruhkan hati setiap orang yang melihatnya. Akan tetapi, berhubung dia ganteng, sekali lagi, GANTENG, seisi rumah saya sangat menyayangi dia, terutama ibu saya. Donni adalah kucing yang sangat diistimewakan, saat pembagian makanan kucing-kucing pun, Donni adalah sang beruntung yang mendapatkan lauk yang paling melimpah dibanding kucing yang lain. Kalau tengah malam Donni pulang, selalu menuju kamar ibu dan hanya bilang ‘meong’ sekali saja, ibu yang sebelumnya tertidur pulas pun, rela bangun untuk mengelus Donni dan selanjutnya menyiapkan makan malam untuk Donni. Saya pun jadi mengerti kenapa ada cowok yang ganteng, tapi juteknya minta ampun, tetep aja banyak cewek yang kelepek-kelepek. Heu,,

Tetapi, semakin ke sini, Donni semakin jarang di rumah, dia lebih memilih untuk pergi ke luar rumah, menjadi garong, mencari tahta dan wanita. Pulang ke rumah hanya untuk makan dan tidur. Bersamaan dengan itu, si Bambang, salah satu kucing cowok yang tinggal di rumah saya juga, semakin besar, dan semakin menyenangkan. Walaupun mukanya tidak seganteng Donni, bahkan metroseksual, Bambang jauh lebih menunjukkan karakter ‘kucing’ sebagai binatang peliharaan dibanding Donni. Walhasil, ibu saya yang sebelumnya sangat menyukai Donni, kini sedikit berpindah hati kepada Bambang. Terlihat dari jumlah limpahan lauk yang ada di makanan Bambang, dulu yang kalau diangkakan, hanya mendapat 30% dari jumlah lauk Donni, sekarang hampir mencapai 100%. Perpindahan hati ibu juga terlihat dari intensitas kebersamaan ibu dan Bambang, dulu ibu yang cukup agak ogah megang-megang dan ngelus-ngelus Bambang, kini nama Bambang bahkan jadi nama yang paling sering disebut oleh ibu.

Sepertinya hal ini membuat Donni cukup geram. Mungkin dia merasa ibu menduakannya. Tidak jarang Donni menabok muka Bambang, menyeruduk Bambang, bahkan sampe cakar-cakaran pun sudah menjadi hal biasa jika mereka bertemu, padahal sebelumnya aman-aman saja, damai-damai saja. Mengetahui hal ini, ibu pun selalu menjadi pemisah mereka, selalu menghalangi mereka agar tidak saling berdekatan jika ada dalam satu ruangan. Seringkali ibu menyembunyikan Bambang di ruangan tertentu jika Donni pulang.

Sepertinya ini membuat Donni semakin geram, dan membuat Donni ingin menunjukkan betapa besar daerah kekuasaannya kepada Bambang. Mungkin banyak pembaca yang belum tau, kalau kucing itu menandai daerah kekuasaannya adalah dengan cara mem-pipis-i daerah yang dianggap itu batas kekuasaannya. Kalau barang, ya barang itu dipipisi untuk menandai bahwa barang itu adalah di bawah pengaruh kekuasaan dia. Jadi jangan heran kalo kendaraan Anda semua jika diparkir di tempat yang di sana banyak sekawanan kucing, tiba-tiba sudah berbau pesing.

Dan kurang ajarnya, Donni ini, karena menganggap ibu saya adalah miliknya, dan Bambang tidak boleh mengambilnya, dan kalau ada tindakan merebut berarti menyatakan perang dengan Donni,  maka Donni pun mem-pipis-i ibu saya pada saat kami sedang bercengkerama di halaman belakang rumah. Ibu yang sedang ngobrol bareng kita-kita, tiba-tiba didatangi oleh Donni, dan dengan posisi membelakangi ibu, tiba-tiba ibu merasakan hangatnya sesuatu di punggungnya, dan kamipun melihat, bahwa sesuatu itu adalah air pipisnya si Donni. Inikah bukti perjuangan cinta Donni? -___-‘

Anehnya, ibu saya hanya tertawa, tidak ada kemarahan sedikit pun terhadap Donni. Oh…inikah bukti saking cintanya ibu kepada Donni sehingga tidak sanggup untuk menyakiti hati Donni dengan hanya sedikit menghukum dia? -___-

8

Depan Kosan

Dulu waktu saya masih kuliah, saya tinggal di kosan yang bertetanggaan dengan rumah susun. Saya tinggal di lantai dua, kamar paling depan dengan jendela yang ekstra lebar. Sangat nyaman menurut saya. Udara masuk dengan leluasanya, bebas menghirup udara luar tanpa adanya kepengapan. Akan tetapi, kenyamanan tersebut agak berkurang sedikit, gak banyak-banyak kok, saat saya menyadari bahwa jendela itu sangat ‘pas’ menghadap rumah susun yang tampak penghuninya cukup berjejal. Ya…hanya karena pemandangannya sedikit terganggu dengan adanya banyak tercantolnya baju beraneka ragam warna dan jenisnya. Baik baju luar dalem, wanita pria, anak-anak sampe kakek nenek, menghiasi pemandangan saat saya membuka pintu jendela.

Ada satu cerita, pada suatu malam, saya ingin melihat bintang-bintang. Saya pun melongokkan kepala saya keluar, mencari-cari di manakah bintang di langit. Mungkin malam itu saya kurang beruntung, soalnya gak ada satu pun bintang di langit Bandung. Gak kelihatan. Sepertinya tertutup awan. Akhirnya mata saya mencari-cari yang lain. Waktu itu belum diputuskan untuk mencari apa, pokoknya pengen liat sesuatu yang menarik lah malam itu.

Dan…saya menemukan sesuatu yang menarik, dan setelah itu akan menghasilkan kesimpulan penting yang bisa saya share ke teman-teman saya. Saya melihat suatu fenomena aneh di salah satu spot rumah susun depan kosan saya. Ada satu jendela di mana, saat ada orang yang terlihat di jendela itu posisinya di situ agak kurang wajar menurut saya. Dan malam-malam berikutnya saya amati, kondisi yang terjadi adalah sama. Posisi orangnya juga sama dengan malam-malam sebelumnya. Bahkan pada waktu siang pun, saya pernah lihat, jika ada orang ke sana, posisinya juga sama. Penasaran? Dapat dilihat dari gambar berikut :

Saya dan teman-teman saya sih punya kesimpulan sendiri mengenai, ruangan apakah itu sebenarnya. Walopun belum dikonfirmasi kebenarannya, tapi kami sangat yakin. Bagaimana dengan Anda? 😀

9

Another SMS Geje

Malam-malam tanggal 12 September 2011 pukul 21.53 WIB, dapet sms dari ibu :

Mami : He ibuk punya calon kalo cocok. guru baru kptr. ganteng, namanya Fr***. rumahnya Jombang. kalo mau sana kenalan.

Tidak saya balas.

Tanggal 14 September 2011 pukul 10.16 WIB, dapet sms dari ibu lagi :

Mami : Maem lauk apa mbak?

Ika : Bubur ayam.

Mami : Gimana? Mau dikenalin cowok?

Ika : Gak.

Mami : Guanteng. Nyari gak dapet2. Dicariin gak mau. Libur ato ngantor?

Ika : Ngantor lah, kan aku gak suka mbolos.

Mami : Pinter, anak mami semilikiti. Jaga kesehatan ya…

Ika : Emang kesehatan sering kemalingan? Kok harus dijaga segala?

Mami : Paijempalikan. Iya. Kemalingannya penyakitnya masuk. ngabisin duit.

Ika : Jaga kesehatan juga ngabisin duit. Harus makan teratur. Makan di sini mahal.

Mami : Nasi, sayuran, tahu, tempe, kan murah, sekali2 ayam daging gitu. cuman seorang sebulan 500rb cukup. kecuali makannya di restoran, 3 juta gak cukup.

Pukul 21.06 WIB

Mami : Cari kerjaan di kediri aja. Maemnya di ibuk. Gratis. Uangnya ditabung.

-____-

Ya cukup begitu sajalah obrolan kami.  😐