3

Apakah Saya Anak Tiri?

Pertanyaan di atas semakin gencar muncul akhir-akhir ini di benak saya. Puncaknya adalah tadi pagi dini hari, pada saat kami sekeluarga menyantap sahur. Seperti biasa, kami sekeluarga makan sahur di meja makan bersama-sama dan tak lepas pula dengan obrolan-obrolan kekluargaan di dalamnya. Entah itu serius, maupun tidak serius. Karena akhir-akhir ini saya memang menyandang predikat sebagai perantau, jadilah obrolan-obrolannya ada beberapa yang kurang begitu familiar dengan saya. Makanya saya seringkali menginterupsi bertanya untuk mendepatkan kejelasan dan jalan cerita yang sempurna.

Pada kali ini tema obrolannya random, mulai dari rasa makanan sahur, rencana berlebaran, lebai malang, hingga pada topik yang akan menjadi cerita saya dan menohok saya, yaitu kucing. Kucing yang dibahas tadi adalah bukan kucing sembarangan, bukan pula kucing yang telah terkenal dan gencar saya gembar-gemborkan di bumi permayaan ini, bukan Sukro, bukan Donni, bukan juga Bambang, dia adalah Pesek, aatau biasa disebut dengan Brengsek. Pesek adalah kucing yang pesek, makanya dinamakan pesek. (ini kalimat apaan seh????). Dia adalah kucing blesteran persia yang ditemukan ibu saya di depan rumah dan akhirnya dipungut jadi piaraan di rumah saya. Betina, pesek (disebut lagi), warna item agak mblegadhus cokelat gitu, bulu berantakan, buntut mekar.

Oiya, FYI, di rumah saya akhir-akhir ini ada empat kucing, Donni, Donna, Bambang, dan Pesek. Sebenarnya Pesek memiliki posisi yang aman di rumah saya. Walaupun dia anak baru tetapi dia dalam kondisi netral. Tidak seperti dua kucing begajul, Donni dan Bambang yang senantiasa bertengkar satu sama lain, bersaing dalam perhelatan pendudukan kepemimpinan di kawasan rumah saya dan sekitarnya. Mungkin posisinya seperti Donna, tetapi Donna sering labil, pulang dan kabur dari rumah tanpa alasan pasti, sehingga Pesek lah yang seringkali menemani ibu saya menjadi ahlul bait sejati di rumah saya ini. So pasti, Pesek lah yang menjadi sasaran empuk ibu saya untuk menyalurkan hobi dan mengisi waktu luang di rumah saya (baca : cari kutu kucing).

Dan, saya pikir cuman sebatas itu saja posisi pesek di keluarga saya. Tetapi dari obrolan tadi pagi saya merasakan ada yang beda. Dipicu dari datangnya Donna secara tiba-tiba masuk ke ruang makan kami, dan saya spontan berkata, “Huh, Donna jeleekk..”.

Dilanjut oleh ibu, “si Donni belum pulang juga e…

Bapak ikut, “si Pesek di Pak Eko gimana ya?

Ibu : “Waahh ayo ke rumah Pak Eko yuuukk..kangen e..katanya lagi hamil ya..” Naahh..di sini saya baru ingat kalau Pesek dihibahkan ke teman bapak saya yang namanya Pak Eko sekitar dua bulan yang lalu. Pak Eko punya anak namanya Mbak Lintang, dan adiknya bernama Awan, mungkin kalu punya anak lagi dinamakan Bledhek (-___-). Mbak Lintang adalah teman SMP saya. Sekitar dua minggu lalu kami chat lewat facebook membahas kucing, yang tidak lain dan tidak bukan adalah si Pesek ini. Mbak Lintang bilang ke saya kalau si Pesek itu baru saja melahirkan. Dan dia menawarkan ke saya untuk main ke rumahnya menjenguk Pesek. Akhirnya saya masuk ke obrolan juga,

Siapa sih?? Pesek?? Pesek udah melahirkan tauuu…

Ibu menyahut, “Kata siapa??!!

Saya bilang, “Kata Mbak Lintang di fesbuk

Ibu : “Ayo Paakk,, kita ke rumah Pak Ekooo.. kuangenn.. Pengen ngeliat anak-anaknya..”

Bapak : “iya nanti sekalian lebaran”

Ibu : “Bedaaa..ini pengen ngejenguk dan liat anak-anak Pesek, bukan buat lebaran ama Pak Eko.. ayo Ik, mintain foto2nya sama Mbak Lintang, sebelum datang ke sana buat melepas rindu, Ya?”

Saya : “Di sini sinyal susah, ntar aja dateng ke sana sendiri”

Saya udah mulai sewot nih. Masa kucing nemu, baru pergi dua bulan udah dikangenin segitunya, bahkan sampai punya niat mau ngejenguk segitunya. Sedangkan saya udah setengah taun di jakarta, beluumm pernah ada seorang pun yang menjenguk saya. Memilih tempat tinggal sendiri, pindahan dan ngangkut barang-barang sendiri, beli kebutuhan-kebutuhan hidup sendiri. Heu.

Apakah saya anak tiri? Dan sang kucing lah anak kandung?

 

2

I Want to Change Your Religion

Kenapa judul postingan kali ini seperti di atas? Berikut pembicaraan singkat antara saya dan teman saya yang baru saja nyampe korea, akan menjawabnya. 😀

(8:27:28 PM) dewak: gmn korea??
(8:28:14 PM) nawir: lagi musim panas
(8:28:19 PM) nawir: tapi cuacanya kek bandung
(8:28:40 PM) nawir: ada yang keren tadi
(8:28:21 PM) dewak: opo
(8:28:38 PM) nawir: tadi pas mau nyari makan
(8:28:47 PM) nawir: ada 2 orang bajunya rapi gitu
(8:28:52 PM) nawir: ngedatengin
(8:29:13 PM) dewak: trus
(8:29:31 PM) nawir: nawarin agama coba
(8:29:33 PM) nawir: :))
(8:29:51 PM) dewak: hoya?
(8:29:58 PM) dewak: gmn cara nawarinnya?
(8:30:09 PM) nawir: ngedatengin trus nanya2
(8:30:18 PM) nawir: masalahnya, vulgar banget
(8:30:32 PM) nawir: ngomongnya: “I want to change your religion”
(8:30:33 PM) dewak: vulgar gmn?
(8:30:39 PM) nawir: trus temen saya ngomong
(8:30:40 PM) dewak: hoo
(8:30:43 PM) nawir: “Change?”
(8:30:55 PM) nawir: jadinya kalimatnya diganri
(8:30:57 PM) nawir: *diganti
(8:31:04 PM) dewak: haha
(8:31:09 PM) nawir: “I want to discuss our religion with you”
(8:31:13 PM) nawir: kita ngomong aja
(8:31:29 PM) nawir: “we already have a religion”
(8:31:38 PM) nawir: maksa minta nomor hape ama email
(8:31:42 PM) nawir: ya kita ngeles aja
(8:31:43 PM) dewak: wiw
(8:31:49 PM) dewak: trus2?
(8:33:10 PM) Buzzing nawir…
(8:34:28 PM) nawir: ya udah kita bilang
(8:34:31 PM) nawir: kalau kita baru datang
(8:34:37 PM) nawir: gak punya hape dan gak punya email
(8:34:39 PM) nawir: 😀
(8:34:48 PM) dewak: huahha
(8:34:55 PM) dewak: udah aja. pergi?
(8:35:08 PM) nawir: emang situ mau ikut?
(8:35:08 PM) dewak: itu orang aseli korea?
(8:35:15 PM) nawir: dah kek MLM aja nih agama
(8:35:20 PM) nawir: iya orang asli korea
(8:35:27 PM) nawir: soalnya di korea kan banyakan atheis
(8:36:08 PM) dewak: ya kali aja pengen tau punya dia dan cara ngajakin ‘change’-nya gimana
(8:36:11 PM) dewak: ho
(8:36:21 PM) nawir: hahaha
(8:36:26 PM) nawir: lagian kita juga lagi buru2
(8:36:28 PM) nawir: nyari buka
(8:36:32 PM) dewak: ho
(8:36:37 PM) nawir: *gak bisa makan daging disini
(8:36:39 PM) nawir: T_T
(8:36:48 PM) dewak: keren juga ya keimanan si orang itu 😕
(8:37:01 PM) nawir: kirain mereka nanya jalan atau apa gitu
(8:37:09 PM) nawir: kita kan lagi nunggu mau nyebrang
(8:37:13 PM) nawir: eh ada mobil berhenti
(8:37:18 PM) nawir: trus keluar deh 2 orang itu
(8:37:20 PM) nawir: pake dasi loh
(8:37:25 PM) dewak: wow
(8:37:37 PM) dewak: beda ama ustad2 di sini ya 😀

 

Bagaimana menurut Anda? 😀

 

2

Permennya Lupa Dimakan

Alkisah ada dua orang anak laki-laki, Bob dan Bib, yang sedang melewati lembah permen lolipop. Di tengah lembah itu terdapat jalan setapak yang beraspal. Di jalan itulah Bob dan Bib berjalan kaki bersama.

Uniknya, di kiri-kanan jalan lembah itu terdapat banyak permen lolipopyang berwarni-warni dengan aneka rasa. Permen-permen yang terlihatseperti berbaris itu seakan menunggu tangan-tangan kecil Bob dan Bib untuk mengambil dan menikmati kelezatan mereka.

Bob sangat kegirangan melihat banyaknya permen lolipop yang bisa diambil. Maka ia pun sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut. Ia mempercepat jalannya supaya bisa mengambil permen lolipop lainnya yang terlihat sangat banyak didepannya. Bob mengumpulkan sangat banyak permen lolipop yang ia simpan di dalam tas karungnya. Ia sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut tapi sepertinya permen-permen tersebut tidak pernah habis maka ia memacu langkahnya supaya bisa mengambil semua permen yang dilihatnya.

Tanpa terasa Bob sampai di ujung jalan lembah permen lolipop. Dia melihat gerbang bertuliskan “Selamat Jalan”. Itulah batas akhir lembah permen lolipop. Di ujung jalan, Bob bertemu seorang lelaki penduduk sekitar. Lelaki itu bertanya kepada Bob, “Bagaimana perjalanan kamu di lembah permen lolipop? Apakah permen-permennya lezat? Apakah kamu mencoba yang rasa jeruk? Itu rasa yang paling disenangi. Atau kamu lebih menyukai rasa mangga? Itu juga sangat lezat.” Bob terdiam mendengar pertanyaan lelaki tadi. Ia merasa sangat lelah dan kehilangan tenaga. Ia telah berjalan sangat cepat dan membawa begitu banyak permen lolipop yang terasa berat di dalam tas karungnya. Tapi ada satu hal yang membuatnya merasa terkejut dan ia pun menjawab pertanyaan lelaki itu, “Permennya saya lupa makan!”

Tak berapa lama kemudian, Bib sampai di ujung jalan lembah permen lolipop. “Hai, Bob! Kamu berjalan cepat sekali. Saya memanggil-manggil kamu tapi kamu sudah sangat jauh di depan saya.” “Kenapa kamu memanggil saya?” tanya Bob. “Saya ingin mengajak kamu duduk dan makan permen anggur bersama. Rasanya lezat sekali. Juga saya menikmati pemandangan lembah, indah sekali!” Bib bercerita panjang lebar kepada Bob. “Lalu tadi ada seorang kakek tua yang sangat kelelahan. Saya temani dia berjalan. Saya beri dia beberapa permen yang ada di tas saya. Kami makan bersama dan dia banyak menceritakan hal-hal yang lucu. Kami tertawa bersama.” Bib menambahkan.

Mendengar cerita Bib, Bob menyadari betapa banyak hal yang telah ia lewatkan dari lembah permen lolipop yang sangat indah. Ia terlalu sibuk mengumpulkan permen-permen itu. Tapi pun ia sampai lupa memakannya dan tidak punya waktu untuk menikmati kelezatannya karena ia begitu sibuk memasukkan semua permen itu ke dalam tas karungnya.

Di akhir perjalanannya di lembah permen lolipop, Bob menyadari suatu hal dan ia bergumam kepada dirinya sendiri, “Perjalanan ini bukan tentang berapa banyak permen yang telah saya kumpulkan. Tapi tentang bagaimana saya menikmatinya dengan berbagi dan berbahagia.” Ia pun berkata dalam hati, “Waktu tidak bisa diputar kembali.” Perjalanan di lembah lolipop sudah berlalu dan Bob pun harus melanjutkan kembali perjalanannya.

Dalam kehidupan kita, banyak hal yang ternyata kita lewati begitu saja. Kita lupa untuk berhenti sejenak dan menikmati kebahagiaan hidup. Kita menjadi Bob di lembah permen lolipop yang sibuk mengumpulkan permen tapi lupa untuk menikmatinya dan menjadi bahagia.

Pernahkan Anda bertanya kapan waktunya untuk merasakan bahagia? Jika saya tanyakan pertanyaan tersebut kepada para klien saya, biasanya mereka menjawab, “Saya akan bahagia nanti… nanti pada waktu saya sudah menikah… nanti pada waktu saya memiliki rumah sendiri… nanti pada saat suami saya lebih mencintai saya… nanti pada saat saya telah meraih semua impian saya… nanti pada saat penghasilan sudah sangat besar… “

Pemikiran ‘nanti’ itu membuat kita bekerja sangat keras di saat ‘sekarang’. Semuanya itu supaya kita bisa mencapai apa yang kita konsepkan tentang masa ‘nanti’ bahagia. Terkadang jika saya renungkan hal tersebut, ternyata kita telah mengorbankan begitu banyak hal dalam hidup ini untuk masa ‘nanti’ bahagia. Ritme kehidupan kita menjadi sangat cepat tapi rasanya tidak pernah sampai di masa ‘nanti’ bahagia itu. Ritme hidup yang sangat cepat… target-target tinggi yang harus kita capai, yang anehnya kita sendirilah yang membuat semua target itu… tetap semuanya itu tidak pernah terasa memuaskan dan membahagiakan.

Uniknya, pada saat kita memelankan ritme kehidupan kita; pada saat kita duduk menikmati keindahan pohon bonsai di beranda depan, pada saat kita mendengarkan cerita lucu anak-anak kita, pada saat makan malam bersama keluarga, pada saat kita duduk bermeditasi atau pada saat membagikan beras dalam acara bakti sosial tanggap banjir; terasa hidup menjadi lebih indah.

Jika saja kita mau memelankan ritme hidup kita dengan penuh kesadaran memelankan ritme makan kita, memelankan ritme jalan kita dan menyadari setiap gerak tubuh kita, berhenti sejenak dan memperhatikan tawa indah anak-anak bahkan menyadari setiap hembusan nafas maka kita akan menyadari begitu banyak detil kehidupan yang begitu indah dan bisa disyukuri. Kita akan merasakan ritme yang berbeda dari kehidupan yang ternyata jauh lebih damai dan tenang. Dan pada akhirnya akan membawa kita menjadi lebih bahagia dan bersyukur seperti Bib yang melewati perjalanannya di lembah permen lolipop.

Penulis : Nathalia Sunaidi

5

Maukah Kamu Menikah Denganmu?

Mungkin ada yang menganggap, pertanyaan ini salah tulis. Saya pun demikian ketika membaca pertanyaan di atas. Namun setelah direnungkan ternyata pertanyaan itu memang begitu adanya, dan bukan salah tulis. Saya pun jadi mencoba merenung dan kemudian membuat pertanyaan-pertanyaan turunannya. “Maukah saya berteman dengan orang seperti saya?“Percayakah saya  kepada orang dengan karakter dan kebiasaan seperti saya?“Maukah saya tidur bersama orang yang tidurnya seperti saya?” “Maukah saya berbisnis dengan diri saya sendiri?

Sayapun cukup geli memikirkan jawaban-jawaban dari pertanyaan itu. Masalahnya adalah saya tahu persis kelakuan saya, terutama yang menyebalkan. Saya tahu betapa tidak menyenangkannya diri saya di bagian-bagian tertentu. Selama ini kita selalu mencari orang lain yang cocok dengan diri kita, tanpa kita mau membuat diri kita cocok untuk orang lain, khususnya orang yang kita sayangi dan cintai.

Ya, saya memang tidak sempurna, karena tidak ada seorangpun yang sempurna di dunia ini. Tapi apakah ketidak sempurnaan saya biarkan begitu saja tanpa ada perbaikan yang berarti? Lantas, kalau saya sendiri tidak terlalu suka dengan diri saya? Siapa yang harus bertanggung jawab? Orang tua saya? Sahabat saya? Saudara saya? Pendamping hidup saya? Apakah saya bisa menyalahkan orang yang mendidik saya atas ketidak-sempurnaan saya? Bisakah saya menyalahkan lingkungan negatif yang mewarnai perjalanan hidup saya?

Alhamdulillah! Beruntung saya punya kitab suci yang selalu memberikan jawaban atas kebingungan saya. Saya temukan firman Allah dalam Al-Quran Surat Al-Muddatstsir: 38 ,

“Setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya.” (Q.S. Al-Muddatsir: 38)

Dan dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda:

“Masing-masing kamu adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas tanggungannya. Pemimpin yang berkuasa atas rakyatnya adalah pelindung dan bertanggung jawab atas mereka; seorang pria adalah pelindung keluarganya dan bertanggung jawab atas mereka; Seorang wanita adalah pelindung rumah dan anak-anak suaminya dan bertanggung jawab atas mereka; seorang pelayan adalah pelindung harta benda tuannya dan bertanggung jawab atas benda-benda itu; maka kalian semua adalah pelindung dan bertanggung jawab atas tanggungan kalian.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Yupz! Kita semua bertanggung jawab atas diri kita dan tanggungan kita masing-masing. Kita semua berhak atas hidup kita  sendiri dan  berhak mengatur hidup kita masing-masing. Siapapun punya kewenangan total atas dirinya. Saya pun jadi berpikir tentang masa lalu saya: “Kalau saya lebih mendengarkan ucapan negatif dari teman saya, dan pada akhirnya saya gagal dan dia tidak peduli, itupun sesungguhnya salah saya sendiri?”. Ya, karena sesungguhnya pada waktu itu saya bisa menolak untuk mendengarkan ucapannya, tapi tidak saya lakukan.

Lantas, kalau saya tidak menyukai diri saya karena sadar begitu banyak kelemahan dalam diri saya? Apa yang harus saya lakukan? Lagi-lagi kitab suciku punya jawabannya:

“Dan Allah tidak akan mengubah nikmatnya kepada suatu kaum hingga kaum itu melakukan perubahan terhadap dirinya sendiri.” (Q.S. Al-Anfal: 53)

Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa diantara kalian melihat kemunkaran, ubahlah dengan tangannya, dan jika tidak sanggup ubahlah dengan perkataannya, dan jika tidak sanggup juga, ubahlah dengan hatinya. Dan Itulah selemah-lemahnya iman.” (H.R. Muslim)

Ya, itu dia! BERUBAH. Karena sekali lagi, kitalah yang punya kuasa atas diri kita sendiri. Dan Baginda Rasul pun langsung memberikan strategi untuk berubah. Yang pertama dan utama adalah “Ubahlah dengan perbuatan!, ubahlah sikap dan perilaku kita sendiri!”.  Banyak orang yang mengartikan hadits di atas untuk mengubah dan memperbaiki orang lain atau lingkungan. Tapi tentu saja hadits ini bisa dipakai untuk melakukan perubahan terhadap diri sendiri. Karena bagaimana mungkin seseorang bisa mengubah lingkungannya kalau dia sendiri tidak mau berubah ke arah yang lebih baik.

Oke, saya akan berubah! Dan Anda semua pun harus segera berubah sejak sekarang, tapi adakah resep lain, selain mengubah diri sendiri?  Firman Allah SWT dalam Surat Annur ayat 31, memberikan arahan berikutnya “Bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.

Tobat? Kenapa Tobat?  Tobat itu bahasa kerennya evaluasi. Ketika kita merasa banyak kelemahan, bukankah itu kesalahan kita sendiri? Bukankah itu akibat dari perbuatan kita masing-masing? Dan bukankah kalau kita mengubah diri, belum tentu langkah-langkah kita tepat sesuai yang diinginkan Allah? Apa untungnya tobat? Dan bahkan Allah menjanjikan kalau kita mau bertobat, akibatnya adalah Beruntung!

Ya! Itu dia rumusnya, sederhana sekali. BERUBAH-BERTOBAT-BERUNTUNG. Siapa yang hidupnya dipenuhi keberuntungan? Siapa yang bisnisnya mau selalu beruntung? Pakailah rumus di atas! Yakinlah akan janji Allah.

Terakhir, mari renungkan beberapa adegan yang saya lihat dalam sebuah e-book:

Adegan 1: Saya sedang menyusuri sebuah jalan dan ada lubang yang dalam di trotoar. Saya terperosok, lama sekali saya baru  bisa keluar. Kejadian itu bukan salahku.

Adegan 2: Saya menyusuri jalan yang sama, dan saya terperosok lagi. Saya pun butuh waktu yang cukup lama untuk bisa keluar. Kejadian itu memang salahku.”

Adegan 3: Saya sedang menyusuri jalan yang sama, dan saya terperosok lagi ke dalam lubang. Rupanya sudah jadi kebiasaan. Itu sudah jelas salahku. Saya cepat-cepat keluar dari lubang

Adegan 4: Saya menyusuri jalan yang sama, dan ada lubang di trotoar. Saya berjalan mengitari lubang

Adegan 5: Saya mengambil jalan yang lain.

(Tulisan ini resume dari Kajian Tafsir ayat-ayat Inspiratif, Komunitas Tadarusan Matakamu Al-Haq, Jumat 5 Agustus 2011)