8

I’m an ACTOR, not reactor.

Dua org ibu memasuki toko pakaian & membeli baju seragam anaknya.

Ternyata pemilik tokonya lagi bad mood shg tidak melayani dengan baik, malah terkesan buruk, tdk sopan dgn muka cemberut.

Ibu pertama jelas jengkel menerima layanan yg buruk seperti itu.
Yg mengherankan, ibu kedua tetap enjoy, bahkan bersikap sopan kpd penjualnya.

Ibu pertama bertanya, “Mengapa Ibu bersikap demikian sopan pd penjual menyebalkan itu?”

Lantas dijawab, “Mengapa aku harus mengizinkan dia menentukan caraku dlm bertindak ? Kitalah sang penentu atas hidup kita, bukan org lain.”

“Tapi ia melayani dengan buruk sekali,” bantah Ibu pertama.

“Itu masalah dia. Kalau dia mau bad mood, tidak sopan, melayani dg buruk dll, toh tidak ada kaitannya dg kita. Kalau kita sampai terpengaruh, berarti kita membiarkan dia mengatur & menentukan hidup kita, padahal kitalah yang bertanggung jawab atas diri kita,” jelas Ibu kedua.

Tindakan kita kerap dipengaruhi oleh tindakan org lain kpd kita. Kalau org melakukan hal buruk, kita akan membalasnya dg hal yg lebih buruk lagi. Dan sebaliknya.

Kalau org tdk sopan, kita akan lebih tdk sopan lagi.. Ini berarti tindakan kita dipengaruhi oleh tindakan org lain.

Kalau direnungkan, sebenarnya betapa tidak arifnya tindakan kita. Mengapa utk berbuat baik saja, harus menunggu diperlakukan dg baik oleh org lain dulu?

Jagalah suasana hati sendiri, jangan biarkan sikap buruk org lain menentukan cara kita bertindak! Kitalah sang penentu yang sesungguhnya!

I’m an ACTOR, not reactor.

0

PIKIRAN SEMPIT MEMBEKUKAN WAWASAN

“Apa yang paling Anda takuti dalam hidup.” Tanya saya

“Saya paling takut menjadi manusia berpikiran sempit dan paling takut berhubungan dengan orang-orang yang berpikiran sempit.” Jawab dia

“Kenapa bisa begitu.” Tanya saya

“Manusia dengan pikiran sempit cendrung mempersulit hidup orang lain, dan selalu menganggap dirinya paling superior, dan menjadikan diri mereka sendiri teragung dan orang lain tercelah.” Jawab dia

Saya merenung sejenak memikirkan pikiran teman saya ini, yang sangat takut menjadi manusia berpikiran sempit dan juga paling takut berhubungan dengan orang-orang berpikiran sempit. Baru pertama kali ini saya mendengar sendiri perasaan takut seseorang kepada pikiran sempit.

“Seseorang atau sekelompok orang yang berpikiran sempit pasti tidak akan peduli pada realitas dan kebutuhan hidup orang lain. Mereka lebih suka berpikiran bahwa sikap dan keyakinan hidup mereka adalah yang terbenar, dan untuk itu mereka siap menyalahkan orang-orang di sekeliling mereka yang tidak seide dengan mereka.” Kata dia

“Apakah Anda pernah tersinggung atau sakit hati dengan orang yang berpikiran sempit.” Tanya saya

“Oo ya! Saya pernah sangat sakit hati, sikap dan pikiran saya dianggap tidak benar, padahal sikap dan pikiran saya itu tidak mengganggu siapa pun, dan tidak merugikan siapa pun.” Jawab dia

“Anda berarti harus memperbaiki mind set Anda, sebab mind set Anda sekarang telah membenci orang-orang berpikiran sempit. Bila Anda diamkan mind set Anda seperti sekarang, Anda juga telah menjadi pribadi yang berpikiran sempit.” Kata saya

“Apa maksud Anda?” Protes dia

“Anda sekarang ini memiliki kesadaran negatif tentang perilaku orang lain, Anda sekarang ini telah menutup hati Anda untuk memahami dan bertoleransi dengan orang-orang berpikiran sempit, dan itu artinya Anda sedang menyiapkan diri Anda menjadi pribadi berpikiran sempit.” Jawab saya

“Bukankah saya yang menjadi korban dari pikiran sempit orang lain?” Dia masih ngotot untuk membenarkan sikap dan perilakunya.

“Para pemenang selalu belajar dari setiap orang tentang kelebihan yang mereka miliki; para pemenang tidak akan pernah belajar dari kekurangan orang lain; para pemenang selalu tahu cara-cara terbaik untuk menaklukkan orang lain dengan tetap menjadi bagian dari kehidupan yang utuh dari semua perilaku kehidupan.” Jawab saya

“Maksud Anda itu apa?” Tanya dia dengan serius

“Maksud saya adalah Anda seharusnya tidak berpikiran sempit untuk takut dan menghindari orang-orang berpikiran sempit dari kehidupan Anda; Anda seharusnya menjadi pribadi berjiwa besar dan mau hidup dalam perbedaan untuk kedamaian setiap orang.” Jawab saya

“Saya masih belum paham!” kata dia

“Apa yang akan Anda lakukan kalau ada orang yang menganggap Anda berpikiran sempit?” Tanya saya

“Jelas, saya sangat takut menjadi orang berpikiran sempit, dan jangan sampai saya menjadi orang berpikiran sempit.” Jawab dia

“Kalau begitu sebaiknya Anda mulai latih diri Anda untuk tidak berpikiran sempit terhadap orang-orang yang berpikiran sempit. Tunjukkan kepribadian Anda yang luas dengan wawasan kehidupan yang bijaksana terhadap keragaman.” Jawab saya

Dia terlihat masih diam dan saya pikir kalau dia ngotot membenarkan mind setnya, maka dia sedang membentuk kepribadiannya menjadi pribadi berpikiran sempit.

“Anda adalah apa yang Anda pikirkan dan apa yang Anda lakukan.” Kata saya pada dia sambil berlalu.

– Djajendra-