Hati Saya Kayak Batu

Weekend adalah hari-hari yang asik buat jalan2. Seperti halnya kemaren, hari Minggu, saya hengot bareng temen2 maen saya menyusuri jalanan Kota Bandung. Maklum, Hari Minggu, jalanan pada macet gitu…

Karena macet, kami yang seharusnya berangkat bareng menggunakan dua kendaraan jadinya terpisah. Ya pengennya tetep bareng2 sih biar seru dan gak pada nyasar. Akhirnya kami (peserta hengot yang sekendaraan sama saya, red.) memutuskan untuk berhenti dan parkir di pinggir jalan dulu untuk menunggu temen yang lain.

Pada saat menuggu itu tiba2 ada seorang lelaki paruh baya yang berdiri di depan kendaraan kami. Awalnya kami pikir dia tukang parkir gadungan yang seakan2 berjasa markirin trus ujungnya minta upah ato calo angkot yang sok2an berjasa terhadap sopir angkot karena telah membantu untuk mencarikan penumpang. Makanya kita cuekin aja tuh orang.

Lama-kelamaan itu orang kok jadi deket2 ke kendaraan kami ya. Megang2 bemper. Tangannya diacung2kan. Dan ternyata dianya bawa tongkat. “Oh, kayaknya ini pengemis yang pura2 buta..” pikir saya. Gak tau pikir temen2 saya apa. Ya soalnya ini jalan rame banget. Masa orang buta asli mau ngemis di jalan kayak gini.

Trus lama-lama si lelaki itu malah megang2 kaca depan, Jalannya nabrak2 gitu. Tapi kalo emang dia pengemis, kok dia ga menengadahkan tangannya, cuman megang2 doang sambil menggumam sesuatu yang gak bisa saya mengerti. Dipegang2 terus itu badan mobil dari depan ke belakang. Sampe pada akhirnya dia muterin mobil dan berada pada sisi kanan kami. Saya jadi bingung, apa maunya orang ini yaa…

Lalu dari sisi kanan itu, si orang laki2 itu kembali ke depan kami. Dan kembali pula mengacung2kan tangan dan tongkatnya ke jalan. Dan yang lebih mengagetkan lagi si orang itu semakin menuju ke tengah jalan yang sedang rame2nya itu. Saya cuman bisa melihat dan menggumam, “duh…awas, Paak..”

Tiba2 ada sebuah angkot yang lewat melampuai kami dan lelaki aneh itu lalu berhenti di depan kami. Sang supir turun dari angkot dan merangkul si lelaki itu. Berbarengan dengan itu, seorang bapak2 bersama anaknya yang kira2 masih berumur 6 tahun juga menghampiri si lelaki. Terlihat jelas terjadi percakapan di antara mereka. Sepertinya menanyakan apa sebenarnya keinginan si lelaki itu. Akhirnya sang supir pun pergi dan si lelaki yang berada dalam rangkulan sang bapak2 yang menggandeng anaknya, tetap berdiri di pinggir jalan. Sambil memperhatikan kendaraan yang lewat. Sepertinya mereka sedang menunggu angkot jurusan tertentu yang akan lewat.

Mmm…

Saya malu. Si Lelaki hanyalah seorang lelaki buta yang ingin naik angkot jurusan tertentu karena ingin pergi ke suatu tempat. Tetapi, saya yang gak tau apa2 dengan kejamnya menjudge dia pak ogahlah, calo angkotlah, pengemis lah, sepertinya sempat terbesit juga dalam pikiran saya si lelaki adalah orang gila. Astaghfirullah..

Betapa rendahnya saya… Betapa jahatnya pikiran2 saya… Betapa bodohnya saya karena tidak menggunakan kesempatan itu untuk membantu Sang Buta tapi malah merendahkan dia…

Apa yang terjadi pada saya sehingga nurani saya benar2 terkunci rapat untuk bisa melihat dengan jernih? Sudah sangat tebalkah debu2 dosa yang menempel pada hati saya sehingga tidak dapat menerima cahaya2 sifat2 agung Pencipta saya yang salah duanya adalah kasih dan sayang?? Atau apakah ini tanda betapa lemahnya keimanan???

Astaghfirullah… Semoga Allah mengampuni saya.. Saya tobat… Saya ingin beriman dengan kapasitas yang sangat tinggi… Saya masih ada di jalan-Nya… Allahlah pelindung dan pemelihara saya.

(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala (40:7)

Iklan

8 thoughts on “Hati Saya Kayak Batu

  1. pertamax euy..

    hmm.. sepertinya sudah dari dulu hatimu memang dari batu 😛

    hehe..

    pandangan hatimu tertutupi tuh..

    anyway, makasih sudah mengingatkan saya juga..

    semoga kita selalu diberi kebersihan hati dari prasangka prasangka.. amin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s