Mina

MinaSebagian besar pembaca mungkin sudah sering mendengar nama “Mina” dari saya, entah itu gara-gara suka Y!M-an sama saya jadi suka liat nick saya yang ada embel2 “Mina”-nya, ato orang yang suka make akun ai3 saya yang paswordnya ada Mina-nya juga , (baik itu ijin ato gak, bahkan ada yang gak kenal saya juga tapi ikut make, hahahhaha), ato juga udah sampe muntah2 gara2 keseringan saya curhatin tentang Mina. Hehhehe

Sebenarnya siapa sih Mina? Seberapa pentingkah kehadirannya di kehidupan saya?

Sebelum saya jelaskan tentang Mina, saya akan menceritakan dahulu mengenai sebuah sejarah yang fenomenal bagi saya agar lebih terasa penghayatan cerita tentang Mina. 🙂

Kediri, 1993.

Saya hidup bahagia di sebuah keluarga yang sederhana yang tinggal di suatu desa yang terpencil. Saya masih mempunyai nenek buyut kala itu, saya sangat menyayangi beliau, sepertinya beliau juga menyayangi saya :-). Saya memanggil beliau Embah.

Pada suatu hari, Embah menggendong dua ekor ayam kecil. Saya yang pada saat itu masih merasa biasa2 saja jika melihat ayam, heran terhadap apa yang dilakukan Embah. Saya tanya kenapa itu ayam kok digendong. Jawab si Embah, mereka lagi sakit dan butuh perawatan khusus. Dan saya pun ikut membantu Embah merawat ayam itu dengan riang. Dan kami berdua menamai kedua ayam itu, Dini dan Dina. Mereka pun jadi akrab dengan saya. Mau saya pegang dan saya gendong-gendong. Istilah jawanya Kuthuk ato Lulut.

Semakin lama Dini dan Dina tumbuh berkembang menjadi ayam yang sehat nan cantik-cantik. Sepertinya banyak ayam jago yang naksir mereka. Dan saat mereka sudah besar, Embah menjual mereka ke tukang beli ayam keliling, yang sering kami sebut Bakul Pitik. Saya nurut saja waktu itu, merasa hal itu adalah suatu kewajaran. Noheartfeeling lah..

Kediri, 1995.

Anak ayam milik ibu sakit. Di kakinya banyak hewan2 kecil berwarna merah yang bisa bikin gatal yang biasa dipanggil Tengu. Tiga anak ayam lumpuh. Akhirnya mereka diberi perawatan khusus, dikandangin sendiri, dirawat, dan diberi obat2an untuk mengusir tengu (minyak tanah, red.).

Setiap ada waktu luang saya menyempatkan diri untuk menjenguk dan memberi mereka makanan. Saya jadi teringat kenangan-kenangan tipis bersama Dina dan Dina.

Hari demi hari berlalu, saya merasa dekat dengan mereka (tiga anak ayam lumpuh). Dan saya pun mulai memberi masing2 dari mereka nama, Minut, Mimi, dan Mina. Mereka pun jadi akrab dengan saya.

Setelah mereka sembuh, mereka dikembalikan kepada mama mereka. Walaupun mama mereka galak dan tukang patok, mereka masih akrab sama saya. Sering saya ajak main rumah-rumahan, pasar-pasaran, atau cuma dielus-elus aja.

Setiap pulang sekolah, mereka bertigalah yang saya cari. Apalagi setelah mereka sudah tidak bersama mama mereka lagi, alias disapih, kami menjadi semakin bebas bermain. Tidak harus berurusan dengan mama mereka yang tukang patok itu.

Persahabatan kami berlangsung cukup lama, sampai mereka dewasa. Dan mulailah terlihat perbedaan di antara mereka. Minut menjadi seekor ayam jago kuning yang gagah, Mimi ayam jago item-merah yang kuat, dan mina ayam betina blirik yang bersuara cempreng.

Saat dewasa inilah yang menjadi saat menyedihkan bagi saya. Karena kata ibu, Minut, Mimi, Mina memang sudah ditugaskan untuk menjadi ayam yag bisa dimanfaatkan manusia. Minut dan Mimi disembelih dan dimakan rame2, sedangkan Mina diekspor ke rumah budhe, karena saat itu rumah budhe sedang mengalami krisis ayam. Mina sebagai betina diharapkan dapat memberikan keturunan ayam yang baik dan banyak untuk keluaarga budhe. 🙂

Kediri, 1997.

Kesedihan saya belum juga hilang atas kepergian tiga orang eh ekor sahabat saya itu. Akhirnya saya meminta ganti kepada ibu saya. Minta tiga ayam yang mirip Minut, Mimi, dan Mina. Ibu tidak menuruti permintaan saya, karena dipikir saya aneh. Atau sering disebut kenthuk (semacam edan di bahasa Jawa). Saya inisiatif sendiri. Ngedeketin mama-mama ayam yang sabar dan lagi punya bebi-bebi ayam kecil. Kali aja nemu yang cocok.

Saya sudah punya inceran. Ayam gembrot item ada titik-titik putihnya banyak, saya biasa panggil dia Biyok, karena bebi-bebi dia yang kecil-kecil itu menggil dia, “Biyook! Biyok!”. Dia lagi ngemong beberapa bebi. Saya sering baik-baikin doi deh. Ngasih-ngasih makanan gitu. Akhirnya Biyok beserta anak-anaknya ketagihan dengan kedatangan saya karena olweis bawa makanan buat dia sekeluarga. Kami pun jadi akrab.

Mulailah saya lancarkan misi. Mendekati bebi-bebi. Hampir semuanya mau deket sama saya. Lupa saya berapa jumlahnya, antara 7-10 gitu lah.. Tapi kebetulan sekali yang paling deket dan suka caper-caper ada tiga. “Wah wah.. sesuai rencana nih”, batin saya. Dan kebetulan juga pada masa itu lagi musim-musimnya musang-musang merajalela. Mereka nyulik bebi-bebi apes buat disantap. Anak Biyok pun banyak yang menjadi korban. Dan kok ya hanya tiga terdekat dengan saya lah yang selamat. Sudah takdir mungkin ya 😀

Semakin besar ketiga anak Biyok itu, semakin terlihat perbedaan gendernya. Dan kebetulan lagi mereka berjenis laki-laki dua ekor, perempuan satu ekor. Pas. :-D. Setelah Biyok menyapihnya, saya semakin bebas bermain dengan mereka, dan mulai menamai mereka Minut, Mimi, dan Mina lagi. Untuk mengenang sahabat-sahabat saya sebelumnya. Minut tumbuh menjadi ayam jago ganteng merah, Mimi jago manis item-kuning, dan Mina betina hitam dengan muka merah tengil. Dan saya merasa wajah Mina ini mirip dengan wajah Mina sebelumnya, walopun warna bulunya beda. Inilah generasi pertama Simalamoa.

Saya merasa lebih akrab dengan trio yang ini. Mereka lebih lincah. Dan saya pun tidak segan-segan mengenalkan mereka kepada teman-teman manusia saya. Teman-teman manusia saya pun senang bermain bersama mereka. Kami (saya bersama teman manusia dan ayam) sering bermain bersama joget ayam, rumah-rumahan dan pasar-pasaran seperti biasa, cari ulat dan bayam untuk si ayam, coret-coret muka ayam, dan masih banyak lagi.

Dan saya juga lebih nyaman curhat dengan trio ini. Saat melihat mata mereka, serasa mereka mengerti apa yang saya rasakan. Mereka tidak pernah memberikan nasehat atau bantuan materi atau pundak untuk menangis atau apalah yang sering diberikan seorang teman kepada teman yang sedang curhat, tetapi berada di antara mereka itu sudah cukup. Mereka bisa membuat saya bahagia dengan cara mereka sendiri. 🙂

Sebenarnya dari trio itu, saya paling sayang dengan Mimi. Karena menurut saya dia ayam yang paling baik, paling manis, nurut, pintar, dan pengertian. Sedangkan Minut itu memang agak bodoh. Yaa..walopun ganteng tapi gak cerdas, kurang gimanaa gitu. Dan Mina, sangat licik dan nakal. Pokonya Mimi is the best. 😀

Pada suatu ketika, saya berangkat ngaji fiqh sore di masjid, berangkat dari rumah sekitar setengah 4 sore dan bakal pulang jam 5 sore. Pada saat perjalanan pulang ngaji, tiba-tiba  di jalan dekat masjid ada seorang teman yang emang terkenal suka ngusilin saya, namanya Laswan, sedang naik sepeda bilang,

Ayammu yang paling kamu sayangi mati. sapa itu namanya, Mimi. Iya Mimi mati. Abis kutabrak

Bo ong”, jawab saya cuek

Beneran. Kalo gak percaya liat aja depan rumahmu pasti banyak bulunya berserakan”, kata Laswan

Bo ong!!”, saya setengah percaya tuh.

Liat aja ndiri.. Sukurin…Mimi mati..” Laswan tetap mengejek.

Akhirnya saya lari pulang. Biasanya saya pulang lewat kebun rumah Embah biar cepet, tapi saya waktu itu sengaja lewat jalan umum untuk memastikan kebenaran pernyataan Laswan. Dan ternyata MEMANG BANYAK BULU AYAM DI PINGGIR JALAN DEPAN RUMAH.

(bersambung…)

Iklan

3 thoughts on “Mina

  1. @aisar : ah, ini udah dibahas di fb.
    blm ada plan buat nulis yang sukro, soale critanya cuman dikit. cuman menang ganteng doang dia..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s