0

Pada Suatu Malam

Sudah sejak tadi adzan berkumandang, namun aku belum sempat juga menunaikan kewajiban shalatku. Hari ini rungsing, rusuh, ripuh. Banyak tuntutan, banyak kebutuhan, banyak juga celaan.

Kulihat tempat ini masih saja ramai, dan belum kulihat pula ada yang menunaikan shalat. Kugelar sajadah, lalu kuangkat takbirku.

Gerakan demi gerakan, rakaat demi rakaat, sampai pada akhirnya pada posisi berdiri berikutnya, ada yang mendorong punggungku ke depan. Terdorong kuat dan aku pun berusaha keras untuk menahan agar aku tidak terjelungup ke depan. 

Dorongan itu semakin lama semakin kuat. Aku berusaha keras untuk bertahan pada shalatku. Kujalani rukun demi rukun dengan susah payah. Sampai akhirnya aku berhasil mencapai salam.

Segera kutengok siapa yang mendorongku, siapa yang mengganggu shalatku. Dua orang lelaki meringis berkata, “Kiblatmu salah, aku dari tadi berusaha memberitahumu. Kiblat itu ke sana,” sembari menunjuk ke arah yang berlawanan arah shalatku.

Aku sebenarnya ragu, apakah sudah cukup saja shalatku atau perlu aku ulangi lagi.

Aku juga sebenarnya geram, mengapa mereka memberitahuku dengan cara begitu? Patutkah itu? Tidakkah ada cara yang lebih baik dan benar dari itu?

Aku pun pergi, dan masih ragu.

0

Kucing Lompat

Ada seekor kucing melompat-lompat di sudut beranda

Kulihat cicak berdiam lengket di dinding atas

“Cing, pakai itu batang sapu di sebelahmu untuk menggayuh!”

Kucing pun tetap melompat dan melompat

Kucing tak bisa pegang sapu, sadarku.

Mengapa tak ku datangi saja dan menggayuhkan untuknya?

Dan yang aku sadari lagi, 

Kucing barangkali tak mengerti perkataanku.

0

i don’t live under fundamentalist rule ?!

hari ini, mimpi ku menjeritkan narasi

jikalau bukan aku yang ditinggal mereka,

aku lah yang akan meninggalkan mereka lebih dulu…

hari ini, aku menangis, tapi tangis ku adalah tangis seorang pria untuk membuka hari-hari penuh tawa sampai senyum terakhir…

hari ini, aku percaya… semua bisa berubah…

entah berapa lama lagi, aku tak peduli…

setidaknya aku masih mencoba percaya…

hari ini aku teringat janji-janji teks kuno,

kutipan-kutipan pemimpin kepercayaan bijak,

serta monolog monolog di hari suci

di ujung cahaya, kata mereka, selalu ada ketenangan abadi

di ujung cahaya, ada mata yang tak tidur dan selalu memancarkan kasih

di ujung cahaya, kelembutan menyambut hati-hati yang tertunduk karena salah dan bersyukur karena benar

hari ini telah mulai berakhir…

berganti…

hari-hari esok,…

sungguh…

doaku pada Sang Mata Yang Tak Pernah Tidur

aku hanya ingin melihat senyum…

dan membawanya dalam keabadian,

dimana aku tak akan pernah menangis lagi…

demi waktu… sungguh…

aku benci melihat jam dan menghitung mundur…

akan ku hancurkan setiap jam bila itu bisa menghentikan waktu

namun…

waktu memang tak bisa berhenti…

setidaknya sampai Sang Mata Yang Tak Pernah Tidur berkehendak…

sungguh, tidak ada yang sia-sia…

tak pernah ada satupun yang sia-sia…

sampai urat terakhir berhenti bersitegang…

Sampingan
4

Kutanya kepada mereka, ke manakah perginya diriku? Kata mereka, “Tidak tahu.”

Kucari-cari sendiri di antara mereka, di manakah diriku, barangkali mereka kurang teliti mencari. Akan tetapi, sama sekali memang tak tampak sosok diriku.

Kata mereka di sana, “Hey, kamu di sini!” Lalu, aku pun dengan bahagia bergegas ke sana, berlari dengan riang, kulihat samar ada diriku.

Sesampainya di sana, di kerumunan itu, kulihat ada punggungku. Aku pun girang. Langsung kurengkuhnya, namun ternyata itu bukan wajahku. Itu bukan aku. Aku tidak di situ. 

Kecewa.

Tapi aku belum lelah.

Gontai aku berjalan pulang melewati ladang, sejauh batas pandang kulihat padi-padi menguning, berayun-ayun seirama hembusan angin. Apakah mungkin aku adalah salah satu dari mereka?

Beberapa di antara mereka bergoyang kencang, aku berhenti sejenak.

Tak selang lama sang orang-orangan sawah bergerak-gerak kencang mengagetkan tiga burung kecil yang tergagap terbang meninggi, tadinya mereka sedang mencicip biji-biji padi. “Burung-burung itu pencuri,” kata petani, “Petani itu pengkhianat,” kata Sang Burung.

“Lalu aku?” Gumamku dalam hati.

Kulanjutkan langkahku menelusuri pematang yang semakin berliku, semakin menyempit, gowang kiri dan kanannya, becek, rapuh karena cuaca. 

Lalu tiba-tiba tanganmu menyahut tanganku. Membantuku untuk melangkah lebih tegap. 

Dan kulihati dirimu, kulihat di dalam bayangan matamu, kuperhatikan dalam-dalam, dan ternyata tak juga kutemukan diriku. Lalu di mana aku?

Gelisah. 

Tapi masih ada satu harapan. Rumah. Iya. Aku pasti sedang di sana.

Kita pun lanjut berjalan, pulang bersama, dengan bahagia, karena aku yakin aku pasti sedang berada di rumah kita. Aku pasti sedang memasak atau merenda.

Tapi, sesampainya di rumah. Aku tidak melihat diriku di mana-mana. Tidak di dapur, maupun di beranda. 

Aku pun lari, ke sana kemari, panik.

Oh.. aku ingat! Cermin! 

Iya, aku harus mencari cermin.

Kuhadap cermin, dan aku menjerit, karena kulihat aku pun tak ada di sana. 

Aku, tidak ada di diriku. 

0

Untuk Berubah

Aku mencoba, tapi kau tak mencoba

Aku tak mencoba, dan kau mencoba

Kita sama-sama tak mau mencoba

Kita sama-sama mencoba

Kita bersama-sama mencoba

Kita saling mencoba

Kita bertekad

Kuat

Erat

Terikat

Aku berjuang, kau pun memperjuangkan

Aku dan kamu, akan kembali

Untuk berserah

Untuk berubah.